#NTMS 6 Muharram 1437 “Selamat jalan Om Slamet”

Innalillahi wa inna ilaihi roji’un

Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu

Telah meninggal dunia pagi ini, salah satu paman yang aku sayangi, sosok yang sempat menggantikan ayahku, saat aku merantau kuliah di Malang. Kami tidak banyak berinteraksi tetapi nasihat yang mengalir dari dirinya seakan tak butuh lagi lisan untuk menyampaikan. Interaksi kami dengan hati.

Tak pernah aku melupakan momen-momen berharga dengan beliau. Di awal pendaftaran kuliah di Universitas Brawijaya, tempat yang sangat asing bagiku, beliau dengan sabar dan tekun menuntunku untuk memasuki fase baru dalam hidupku yang baru lulus dari putih abu-abu. Bersyukur pula beliau adalah alumni almamater yang sama.

“Aku milih arsitek aja, Om”, kataku pada saat melihat daftar jurusan yang tersedia di Brawijaya.

“Lho, kamu punya bakat nggambar to nduk?”

“Hmmm, nggak sih Om, cuma bisa sedikit-sedikit.”

“Wah, kalau itu, Om nggak saranin nduk, khawatir kamu malah susah nantinya.”

Setelah diskusi panjang lebar, aku pun akhirnya memilih pilihan pertama Ilmu Komputer dan kedua Teknik Industri. Alhamdulillah, diterima di pilihan pertama.

Tibalah waktunya pemberkasan, dengan senang hati beliau mengantarkanku ke fakultas untuk melengkapi dokumen-dokumen. Ingat sekali,  di setiap prosedur yang aku lakukan, beliau selalu menyemangati. Mungkin karena saking pahamnya, mengurus administrasi saat masuk kuliah seperti ini sangatlah membutuhkan kesabaran.

Proses kuliahpun ku jalani, akupun memilih untuk mengambil kost di sekitaran kampus dikarenakan akses transportasi dari rumah beliau agak sulit. Tahun demi tahun pun kulewati. Sesekali aku berkunjung ke rumah beliau, menginap semalam, kemudian kembali lagi ke aktivitas kampus seperti biasa.

Di pertengahan masa kampus yang kujalani, aku terlena dengan kesibukan banyak kegiatan. Hal ini membuatku sangat jarang sekali main ke rumah beliau. Suatu saat ketika aku berkunjung, setelah sekian bulan jarang memberi kabar dan tidak berkunjung, beliau menyapaku. Sebelumnya sempat terbersit di wajah beliau rasa rindu namun juga ada sedikit rasa kecewa kepadaku.

“Kok jarang datang ke rumah Gasek nduk? Gimana kabarmu?”

Sapaan itu bagaikan petir di siang bolong yang mengenaiku.

“Iya Om, banyak sekali kegiatan, kuliah, mengerjakan tugas dan berorganisasi”, jawabku dengan nada menyesal.

“Oh gitu. Apapun itu tetap beri kabar nduk, biar keluarga tahu. Bagaimana pun harus dekat dengan keluarga. Bapak Ibumu menitipkan kamu ke Om. Jadi Om harus tahu kondisimu.”

Astaghfirullah… Aku pun menitikkan air mata, tak mampu berkaca-kaca saat itu.

Itulah sosok Om Slamet yang sangat berharga bagiku. Hari ini,  dengan begitu mendadak, tanpa sakit dan fisik yang sehat, Allah memanggilnya. Mungkin seperti itulah jika seorang hamba yang disayang Allah. Seakan memberikan pesan proses sakaratul maut yang cepat, tanpa memberatkan makhkuk-Nya.

Terima kasih Om Slamet, atas semuanya yang engkau berikan. Sungguh aku siap menjadi saksi untukmu di hadapan Allah kelak, betapa dermawannya engkau. Engkau dekat dengan keluarga, dihormati dan dikasihi oleh tetangga, ringan tangan membantu sesama, serta memperlakukan keponakan-keponakan layaknya anak sendiri.

Ya Allah, kejadian hari ini membuatku ingat akan suatu tausiyah yang pernah kubaca. Sungguh aku tidak ingat ini kutipan dari siapa. Namun kurang lebih inti pernyataannya seperti ini:

Betapa manusia itu tidak mengetahui, bahwa ternyata kafan untuknya telah dijahit.

Ya Allah, astaghfirullah…

Ampunilah dosa Om Slamet, terimalah ibadahnya, lapangkanlah kuburnya, permudahlah hisabnya. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan. Dan semoga kelak kami semua dipertemukan di jannah-Mu, ya Rabb.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s