21 of 365: Healthy is Priceless

Hai Rumay, tanggal 21 Januari kemarin, aku bersama beberapa teman kantor pergi ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Beberapa hari lalu kami mendapatkan tugas untuk melakukan pemeriksaan kesehatan sebagai salah satu syarat untuk pengangkatan sebagai PNS. Sebelumnya kami berkumpul di kantor lalu berangkat bersama ke RSCM menggunakan Kopaja 502. Setibanya kami di sana, kami meminta petunjuk tempat pemeriksaan ke Bapak Saptam yang sedang berjaga.

Seperti dugaan kami sebelumnya, walaupun di pagi hari, suasana rumah sakit sudah sangat ramai. Banyak orang yang lalu lalang menuju tempat sesuai kepentingan masing-masing. Kami pun menuju ke bagian MPK lantai 3. Di sana sudah berkumpul juga beberapa teman kami yang lain. Namun petugasnya belum datang. Setelah menunggu sebentar, petugas pun telah datang dan kami diarahkan masuk untuk mengisi formulir. Setelah itu kami menuju tempat pengecekan darah dan urin. Antrian sudah sangat panjang. Namun sesuai arahan petugas, loket kami dikhususkan. Prasangka baiknya kalau ini bukan berarti menganggap pasien selain kami (CPNPS-PNS) tidak diutamakan, namun mempermudah karyawan rumah sakit melakukan pengaturan dokumen dari pasien-pasien khusus yang melakukan pemeriksaan berdasarkan instruksi instansi kerja.

Kemudian, kami turun ke lantai 1 menuju ke bagian Radiologi untuk melakukan pengecekan melalui ronsen. Proses menunggu di bagian ini cukup lama, terlebih ada sedikit masalah karena nama salah satu teman kami tidak dipanggil juga dan setelah di kroscek ternyata lembaran formulirnya terselip. Setelah semua selesai, kami diminta untuk kembali lagi tanggal 28 Januari untuk melakukan konsultasi dokter.

Ketika perjalanan pulang keluar dari rumah sakit, kami menemukan insiden kecil di pintu masuk. Ada seorang bapak yang jatuh dari kursi rodanya karena posisi kursi roda belum seratus persen tegak. Sang istri yang mengantarkannya dengan mobil menjadi panik, terlebih banyak suara klakson dari mobil-mobil di belakangnya yang antri menuju pintu masuk. Salah satu teman kami yang laki-laki pun membantu untuk mengangkat Bapak tersebut agar duduk kembali di kursi rodanya. Orang lain yang berada di sekitar situ pun juga banyak yang membantu.

Dari insiden kecil itupun kami semua merasa bersyukur atas nikmat sehat yang Allah berikan. Memang benar bahwa kesehatan itu tak bernilai harganya. Harta yang kaya pun tak berarti apa-apa jika raga sudah tak sehat.

Terima kasih ya Allah atas hikmah yang kau berikan pada kami…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s