15 of 365: My “Jalur Gaza” of Busway

Masih tentang busway, kali ini aku bercerita tentang jalur transit yang aku tempuh hari demi hari saat kerja. Bolehlah tengok dulu foto-fotonya terus lanjut menikmati cerita dari aku😀

Dua jembatan ini adalah setengah dari jalur yang ditempuh (Sumber: kompas.com)

Dua jembatan ini adalah setengah dari jalur yang ditempuh (Sumber: kompas.com)

Sekitar seperempat jalur berikutnya (Sumber: blognyamitra.wordpress.com)

Sekitar seperempat jalur berikutnya (Sumber: blognyamitra.wordpress.com)

Seperempat penghujung jalur (Sumber: blognyamitra.wordpress.com)

Seperempat penghujung jalur (Sumber: blognyamitra.wordpress.com)

Setelah searching informasi tentang jalur transit ini, banyak hal menarik yang bisa diceritakan. Jalur ini merupakan jalur transit busway yang terpanjang, kurang lebih 500-600 meter dengan struktur yang naik turun dan berkelok-kelok. Kalau jalan santai bisa ditempuh 15-20 menit. Tapi itu tidak berlaku bagi saya, hehehe. Kalau sudah terburu-buru, saya bisa menempuh kurang dari itu. Bahkan saya pernah memecahkan rekor menempuh 7 menit dengan jalan cepat, wkwkwkwk..

Beberapa hari lalu, ketika pulang kantor, di dalam busway ada seorang WNA yang sedang mengobrol dengan temannya yang WNI menggunakan bahasa Inggris. Ternyata mereka berdua turun juga di Halte Bendungan Hilir (Benhil) dan ikut transit ke Halte Semanggi, sama dengan jalur yang aku tempuh bersama beberapa teman kantor.

Ketika turun, sekilas aku memang mendengar bahwa mbak WNA tersebut mengatakan kepada temannya, “Do we have to walk now?”. Namun setelah itu aku tidak lagi mendengar perbincangan mereka karena terus asyik jalan di jembatan tersebut. Setelah itu teman saya pun mengatakan, “Tadi temannya orang bule itu bilang it’s so long journey, I call ‘Jalur Gaza’. Aku jadi ingin jawab, kalau aku bilangnya ‘Tembok Cina’, hehehe”. Kita pun tertawa bersama. Ini memang jalur yang kita sering lalui bersama saat pergi maupun pulang kantor. Banyak cerita seru yang kita perbincangkan saat transit lewat jembatan ini.

Hasil searching  saya pun menampilkan hal yang sama. Banyak orang yang berbagi cerita saat transit dan menuliskan cerita mereka di blog masing-masing. Bahkan ada yang menyengajakan diri untuk melewati jalur transit tersebut hanya untuk ingin merasakan panjangnya jalur tersebut, hahahaha…

Memang benar, melewati jalur ini karena tidak ada lagi pilihan. Selain karena hemat, aku juga meniatkan untuk berolahraga dengan pagi sore menempuh jalur ini. Awal-awal aku cukup mengeluh dan merasa tak sanggup saking lelahnya. Tapi begitulah, ala bisa karena biasa, melewati jalur ini seringnya jadi tidak terasa lagi capeknya, hohoho…

Banyak pemandangan yang bisa dilihat selama transit. Hiruk pikuk kemacetan jakarta pun tampak jelas dari perjalanan ini. Kita juga melihat Balai Sarbini di area Plasa Semanggi. Dari sisi lain kita kita dapat melihat bunderan dan jembatan semanggi yang bersejarah. Pasti seru jika dinikmati.

Ada yang memanggilnya ‘Jalur Gaza’

Pun temanku menyebutnya ‘Tembok Cina’

Ternyata orang lain ada yang mendefinisikannya ‘Jembatan Naga’

Namun hatiku lebih setuju meng-capture-nya sebagai ‘Jalur Gaza’

Karena bagiku, menempuhnya adalah salah satu bagian menuju ibadah

Aku menempuhnya untuk berangkat kerja

Mengayunkan kaki seoptimal mungkin agar tidak terlambat tiba di kantor

Ia bagian dari saksiku beribadah dalam profesiku

Aku pun ingin terus mengumpamakan dengan istilah itu

Agar hatiku selalu ingat dengan saudara-saudaraku di belahan dunia yang lain ini

Ia ‘Jalur Gaza’-ku🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s