13 of 365: Ignorance is Gorgeous

Ketidaktahuan itu indah (Sumber: Instagram @itaroihanah)

Ketidaktahuan itu indah (Sumber: Instagram @itaroihanah)

Sungguh benarlah kalimat bijak itu. Sadar ataupun tidak, tiap hari kita merasakan keindahan hikmah dari kalimat tersebut.

Rumah mayaku, aku ingin berbagi tentang keseharianku. Kini, aku menggunakan busway saat berangkat dan pulang kantor. Bolehlah aku mengatakan kalau aku sekarang termasuk away atau anak busway, hehehehe…

Rute yang aku tempuh ketika berangkat ke kantor adalah start dari Halte Senayan JCC dengan busway yang datang dari arah Grogol, kemudian turun di Halte berikutnya yaitu Halte Semanggi, lalu transit dengan menempuh jembatan penyebrangan kurang lebih 600 m, lalu masuk ke Halte Bendungan Hilir. Di halte tersebut aku menunggu busway dari arah Blok M menuju Kota, dan aku turun di halte yang dekat dengan kantor. Kebetulan kantor berada kurang lebih di tengah-tengah antara dua halte, yaitu Halte Sarinah dan Halte Bank Indonesia. Sedangkan untuk pulang kantor menggunakan jalur sebaliknya. Jika lancar, total waktu tempuh mulai berangkat dari kost hingga presensi sidik jari di kantor hanya satu jam, sedangkan untuk pulangnya sekitar satu setengah jam.

Nah, tentang busway, ada cerita menarik yang berhubungan dengan ketidaktahuan. Berbeda dengan commuterline atau kereta api listrik, ketika kita menunggu kedatangan busway di halte, kita tidak tahu posisi busway yang terdekat dari halte. Adapun commuterline, pasti diinfokan di stasiun posisi kereta yang akan masuk bahkan diberitahukan pula posisi kereta setelahnya.

Hal inilah yang awalnya membuat saya tidak suka menggunakan busway. Lama cepatnya kita menunggu kedatangannya tidak bisa diperkirakan. Namun setelah aku menjalani kurang lebih 3 bulan menggunakan busway sejak lokasi kantor dipindahkan ke daerah Thamrin, aku pun merasakan tantangan sekaligus kenikmatan yang berbeda dari pengalaman menggunakan busway.

Ya, ketidaktahuan itulah yang semakin ke sini semakin menjadi tantangan sekaligus kenikmatan bagiku. Ketidaktahuan akan kapan datangnya, ketidaktahuan akan penuh atau tidaknya busway yang akan dinaiki, pun ketika transit, ketidaktahuan akan seberapa banyak antrian di halte transit yang menunggu.

Sangat seru ketika melihat busway yang akan datang dari jarak jauh, kemudian berusaha berjalan cepat bahkan lari sekuat tenaga agar bisa menumpangi busway tersebut. Ataukah mencoba memperkirakan kedatangan satu busway dan jarak waktunya dengan busway yang lain dari pengalaman yang dilalui. Atau sengaja mempersilahkan antrian sebelumnya untuk naik terlebih dahulu busway yang lewat dan kemudian berharap mendapatkan busway yang lebih kosong. Benar-benar seru.

Itulah nikmat yang Allah berikan, ketidaktahuan yang kemudian dibalut dengan usaha yang maksimal dan harapan yang terbaik. Seberapa besarpun effort untuk mendapatkan busway walaupun sudah lari sekuat tenaga, tetapi ternyata bukan rejeki untuk naik busway tersebut maka itulah yang dinamakan takdir. Seberapa kuatpun dugaan kita bahwa busway yang akan dinaiki bakalan penuh dan berdesak-desakan, ternyata Allah memberikan kejutan bahwa busway yang datang masih luang maka itulah yang dinamakan takdir.

Terima kasih ya Allah atas pengalaman indah yang dihiasi untaian hikmah yang indah pula. Memang ketidaktahuan itu sangat mempesona🙂

Alhamdulillah…

 

Jakarta dengan penuh syukur,

Pipit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s