10 of 365: Pleasant Memories from “Assalamualaikum Beijing”

IMG-20141230-WA0000

Hai Rumah Mayaku, bersyukur banget hari ini adalah tulisan ke-10-ku ditahun 2015. Malam minggu ini aku ingin menuliskan sekilas memori setelah menonton film Assalamualaikum Beijing (AB), yang diangkat dari novel karangan Mbak Asma Nadia.

Alhamdulillah pemutaran perdana AB berlangsung ketika aku sedang liburan di Malang yaitu 30 Desember 2014. Alhamdulillah pula aku bisa mengajak empat orang teman untuk nonton perdana tepatnya di Bioskop Mandala, Malang Plaza. Namanya juga perdana, pastinya ngantri untuk beli tiketnya terlebih film yang sudah punya sasaran penonton. Tak kurang dari 30 menit mengantri sembari berdiri dan menunggu loket tiket dibuka.

Masya Allah rameeeenyaaa…Terlebih didominansi oleh perempuan berkerudung. Sampai ada yang nyeletuk, “Seperti lagi di pengajian ya”. Hehehe, aku pun ikut nyengir mendengarnya. Bersyukur akhirnya dapat tempat duduk di tengah yaitu nomor D9-D14. Setelah kami berlima berkumpul, kami pun memasuki ruangan bioskop. Sudah banyak yang mengisi tempat duduknya.IMG-20141231-WA0000

Oh ya, sebelum nonton, aku sudah sepintas membaca sinopsisnya via 21cineplex.com, namun belum melihat trailer-nya dan belum membaca novelnya Berbeda dengan ketika aku menonton 99 Cahaya di Langit Eropa sekitar awal tahun 2014 yang mana aku sudah membaca novelnya terlebih dahulu, sehingga ketika nonton, bisa membandingkan antara isi film dan novelnya.

Dikatakan di sinopsisnya bahwa si Ra atau Asmara Nadia (Revalina S. Temat), adalah seorang jurnalis yang setelah batal menikah dengan calon suaminya, Dewa (Ibnu Jamil), dikarenakan Dewa selingkuh, memilih berhijrah ke Beijing untuk merintis kariernya. Di Beijing, ia ditemani Sekar (Laudia Cyntia Bella) dan suaminya, Ridwan (Desta).

Di awal-awal petualangannya di Beijing, Asmara bertemu dengan Zhong Wen (Morgan Oey), pemuda sederhana dari sebuah desa yang bekerja sebagai Tour Guide. Pertemuan pertama mereka di bus. Dengan tanpa menyentuh tangan, Asma berkenalan dengan Zhong Wen menggunakan bahasa Inggris karena ketika itu Asma menanyakan tentang halte yang dituju. Ia memperkenalkan diri sebagai Asma. Seketika itu, Zhong Wen menyebutkan nama Ashima, namun Asma tidak mau dipanggil dengan nama tersebut karena menyangka bahwa Zhong Wen salah mengucapkan. Namun setelah dijelaskan, Asma baru paham bahwa Ashima adalah cerita legenda di Yunnan, Cina dan ketika itu Zhong Wen memberikan buku tentang Ashima dan berjanji untuk membacakan isinya suatu saat kelak. Akhirnya mereka pun terpisah karena turun di halte yang berbeda.

Singkat cerita, mereka berdua bertemu kembali ketika Sunny, tour guide yang selama ini menemani Asma, izin tidak bisa menemani kembali karena ibunya sakit dan kemudian digantikan oleh Zhong Wen. Barulah saat itu Asma pun tahu bahwa Zhong Wen bisa berbahasa Indonesia karena pekerjaannya. Asma sangat senang ketika diajak mengunjungi tempat komunitas Muslim Cina serta masjid bersejarah di sana. Ketika memasuki masjid itulah Asma baru tahu kalau Zhong Wen bukanlah seorang Muslim.

Siapa sangka Zhong Wen telah jatuh hati pada Asma. Ada momen ketika Dewa mengejar Asma hingga ke Cina, Zhong Wen pun dengan sekuat tenaga melindungi Asma, karena tidak ingin Asma tersakiti dengan kedatangan Dewa.

Suatu ketika, Asma terserang penyakit APS (Anti Phospolipid Syndrome), penyakit langka yang menyebabkan darah mudah mengental sehingga pengidap bisa terkena stroke, keguguran berkali-kali, kebutaan, bahkan mati mendadak. Asma minta dioperasi di Indonesia dan ia pun meninggalkan Beijing tanpa sepengetahuan Zhong Wen. Kepergian Asma baru diketahui Zhong Wen dihari ketika mereka berencana mengunjungi Patung Ashima. Asma menitipkan surat permohonan maaf yang dititipkannya pada Sekar namun tidak memberitahu kalau ia dalam keadaan sakit parah.

Zhong Wen sangat sedih dan dalam perenungannya ia memperoleh hidayah untuk menjadi mualaf dan berniat untuk memperistri gadis yang dicintainya. Email Zhong Wen pun tak sengaja dibaca Sekar dan dibalas oleh Sekar atas nama Asma yang menanyakan kapan Zhong Wen ke Indonesia.

Zhong Wen pun akhirnya ke Indonesia bersama Ridwan. Di saat yang sama, Dewa juga mengunjungi Asma. Namun pada momen itu Asma terkena serangan buta mendadak. Semua pun panik, tetapi Asma tanpa penglihatannya menyempatkan diri dan meminta bantuan berjalan untuk menyambut kedatangan Zhong Wen. Sambutan pun berbalas ucapan “Assalamualaikum” dari Zhong Wen yang membuat Asma sadar bahwa lelaki yang jauh-jauh datang menjenguknya ini sudah menerima hidayah Allah.

Asma kemudian pingsan dan dirawat di rumah sakit. Adegan yang paling romantis menurut aku adalah ketika Zhong Wen melamar Asma melalui ibunya disaat Asma sedang terbaring koma dan akhirnya dengan penuh isak, ibunya menerima lamaran tersebut.

Cerita ini sad ending sekaligus happy ending. Sad ending karena Asma menjadi bisu namun penglihatannya dapat diselamatkan. Asma pun sempat ragu akan lamaraan tersebut. “Aku tak percaya cinta kilat.”. Sekar pun langsung menguatkan Asma bahwa cinta Chung-Chung, panggilan kocak Zhong Wen dari Sekar, adalah cinta yang tulus, bisa dibuktikan dengan pengorbanan yang dilakukan Zhong Wen unttuk Asma. “Yang penting itu iman, romantis bisa belakangan”, kata Ridwan saat melihat kemesraan perbincangan Asma dan Zhong Wen di rumah sakit.  Happy endingnya mereka berdua akhirnya menikah dan Asma berhasil hamil.

Terlalu banyak kenangan yang menyenangkan dari menonton film yang berslogan “Jika tak kau temukan cinta, biarkan cinta menemukanmu” ini. Ceritanya bukanlah kisah cinta yang murahan, ini kisah cinta berkelas yang dilandasi oleh iman. Setting-an yang berlatar Indonesia-Islam-Cina ini pun bisa menjadi khazanah baru dalam dunia perfilman Indonesia.

Setelah film berakhir dan lampu bioskop dinyalakan, aku melihat mata teman-teman yang sembab. Jujur aku tidak menangis bukan karena aku gagal merasa sedih, tapi aku terpana dengan kata-kata dalam film juga akting Morgan Oey yang luar biasa penghayatannya. Aku bukan Morgannous, tetapi setelah menonton film ini, aku mengacungkam jempol untuk akting Morgan di film perdananya ini. Sempat aku speechless saat melihat keberanian akting Morgan menjadi mualaf, sembari berdoa dalam hati, jika Allah menghendaki, semoga hidayah itu juga ada untuknya di kehidupan nyata🙂

Satu lagi kenangan yang membuat perasaanku campur aduk saat menonton film ini. Aku memiliki sahabat yang mengidap penyakit yang sama dengan Asma. Ketika tahu bahwa film ini juga menceritakan tentang kisah pengidap APS, aku dredeg melihat adegan-adegan dari penyakit Asma ini kemudian aku langsung mengirim pesan kepada sahabatku tersebut untuk menanyakan kabarnya dan menginfokan bahwa aku sedang menonton film AB. Sembari di pesan itu kemudian aku menyelipkan doa semoga ia cepat sembuh dan tidak sampai separah Asma😦

Aku salut dengan strategi pemutaran film ini yang timing-nya bertepatan dengan liburan sekolah. Selain itu, memilih aktor yang banyak digandrungi anak muda. Tak dapat dielakkan, setiap adegan Morgan, pasti ada suara-suara decak kagum dari para Morgannous.

Sekian dulu tulisan panjang penuh kenangan ini, semoga bermanfaat. Sukses buat Mbak Asma Nadia dan pejuang pena lainnya untuk dakwah di dunia penulisan dan perfilman🙂

——-

Cinta itu menjaga. Tergesa-gesa itu nafsu belaka (Asmara)

Tak perlu fisik yang sempurna untuk cinta yang sempurna (Zhong Wen)

Recommended link: http://sastrahelvy.com/2015/01/03/assalamualaikum-beijing-assalamualaikum-film-bermutu

4 thoughts on “10 of 365: Pleasant Memories from “Assalamualaikum Beijing”

  1. Hihihi..
    mudah-mudahan pas Shary pulang di Indo, udah di putar di TV😀
    Siapa tahu lebaran tahun ini insyaa Allah, udah masuk daftar film yang ditayangin di TV, hehehe..
    makasih Shary kunjungannya yang kesekian kali ^_^

  2. aamiin iya Pit aku sudah tidak sabar, soalnya banyak yang merekomendasikan. Spertinya pengen beli novelnya juga😀
    Aku suka cara kamu nulis Pit, dan tulisanmu bagus, aku banyak belajar dari kamu😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s