Membedah Eksklusifitas Muslim Negarawan

Jaket - Muslim Negarawan

Oleh : Putri Irvanna [1]

Pembukaan

                Berangkat dari kegelisahan para pemuda akan situasi negara saat itu, kumpulan pemuda-pemudi Muslim dari berbagai kampus di Indonesia mendeklarasikan sebuah organisasi gerakan mahasiswa muslim pada 29 Maret 1998 yang diberi nama Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) di Malang, Jawa Timur. Sebagai salah satu elemen gerakan mahasiswa, KAMMI mengemban tugas mulia dalam upaya perbaikan atas problematika umat. Tagline gerakan yang pernah digaungkan oleh KAMMI yaitu mulai dari “Bergerak Tuntaskan Perubahan”, “Oposisi Kebatilan”, “Intelektual Profetik”, hingga “Muslim Negarawan”. Beberapa tagline tersebut merupakan kata kunci yang dapat mengidentifikasi misi gerakan pada setiap masanya tagline tersebut dikeluarkan.

Muslim Negarawan adalah tagline yang dipublikasikan oleh KAMMI saat ini. Berikut penulis akan membahas berbagai hal terkait Muslim Negarawan dalam upaya menambah pemahaman mengenai hal tersebut guna menguatkan amal kader KAMMI di medan dakwah.

Definisi Muslim Negarawan

Dalam Kamus Bahasa Indonesia, Muslim berarti penganut agama Islam. Secara harfiah, mengambil dari akar kata Islam, yaitu aslama, Muslim berarti orang yang telah menyatakan dirinya berserah diri, taat, tunduk, dan patuh secara mutlak kepada Allah SWT[2].

Negarawan berarti ahli dalam kenegaraan; ahli dalam menjalankan negara (pemerintahan); pemimpin politik yang secara taat asas menyusun kebijakan negara dengan suatu pandangan ke depan atau mengelola masalah negara dengan kebijaksanaan dan kewibaan. Negarawan merupakan pahlawan besar dan agung. Kenegarawanan adalah hal yang berhubungan dengan orang-orang yang mengurus suatu negara; sikap yang amat diperlukan dalam menghadapi persoalan kemasyarakatan[3].

Menurut Megawati[4], memang sulit mengukur kadar negarawan pada diri seseorang, tetapi yang paling utama adalah sikap yang selalu mengutamakan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi. Pemimpin negarawan harus bisa membawa Indonesia berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, berkepribadian di bidang budaya, dan disegani di dunia internasional.

Penulis mendefinisikan Muslim Negarawan adalah seseorang yang menyatakan berserah diri dan mengabdi pada negara dalam rangka beribadah kepada Allah SWT dengan memaksimalkan segala potensi yang dimiliki untuk menekuni bidang kompetensi yang digeluti berlandaskan nilai-nilai Islam demi kesejahteraan bersama.

Muslim Negarawan Dalam Kaca Sejarah

Jauh sebelum KAMMI menggaungkan tagline Muslim Negarawan, sejarah telah banyak berbicara akan hal ini.  Cerminan sebagai Muslim Negarawan telah diteladani oleh Rasulullah SAW. Beliau dengan keempat sifatnya, yaitu shiddiq, amanah, tabligh, dan fathonah, telah membuktikan kepiawaiannya dalam menjadi seorang pemimpin negara sekaligus pemimpin agama (imam) saat itu.  

Menjadi Muslim Negarawan juga dicerminkan oleh Utsman bin Affan, sahabat Rasulullah yang juga seorang ekonom dan terkenal dermawan. Beliau membeli sumur air jernih dari seorang Yahudi untuk kepentingan rakyat serta memperluas Masjid Madinah dan membeli tanah-tanah di sekitarnya. Contoh sahabat yang lain ada Ummu Imarah dan Shafiyyah binti Abdul Muthalib yang memanfaatkan kemampuannya di bidang humanitarian dalam membantu kaum muslimin di medan perang, antara lain di Perang Uhud. Bahkan, bakat perang Shafiyyah diajarkan kepada anaknya, Zubair bin Awwam yang kelak menjadi seorang mujahid yang tangguh seperti ibunya. Selain itu, ada Khudzaifah bin Yamman yang mengabdi pada negara dengan menjadi intelijen Rasulullah SAW dan memiliki tugas mengamati gerak-gerik musuh Islam.

 

Muslim Negarawan dalam Kacamata KAMMI

Situ Gintung Sukabumi menjadi saksi lahirnya tagline Muslim Negarawan pada akhir Desember 2005 dan awal tahun 2006. Forum Lokakarya Departemen Kaderisasi saat itu menyepakati rumusan profil ideal kader KAMMI, yakni mewujudkan kader Muslim Negarawan. Profil ini merupakan interpretasi sosok ‘Pemimpin Masa Depan yang Tangguh’ yang termaktub dalam visi KAMMI. Dua kata yang membentuk frase Muslim Negarawan ini menjadi istilah yang eksklusif karena tidak ada kamus yang dapat dirujuk secara tanggung jawab untuk mengartikan istilah ini sehingga maknanya perlu dikembalikan lagi kepada yang mengeluarkan istilah tersebut, dalam hal ini pihak KAMMI.

Dalam Manhaj Kaderisasi KAMMI 1427 H, Muslim Negarawan adalah kader KAMMI yang memiliki basis ideologi Islam yang mengakar, basis pengetahuan dan pemikiran yang mapan, idealis dan konsisten, berkontribusi pada pemecahan problematika umat dan bangsa, serta mampu menjadi perekat komponen bangsa pada upaya perbaikan. Definisi ini kemudian disebut sebagai lima elemen kunci dari kader KAMMI sebagai alat ukur evaluasi cerminan Muslim Negarawan.

Memiliki basis ideologi Islam yang mengakar’ merupakan kunci bahwa kader KAMMI berpikir dan bergerak berdasarkan ‘kehendak’ Islam. Islam sebagai titik tolak pergerakan adalah ideologi yang mewarnai pergerakan dan kebijakan KAMMI. ‘Memiliki basis pengetahuan dan pemikiran yang mapan’ merupakan kunci bahwa kader KAMMI berpikir dan bertindak berdasarkan pengetahuan ilmiah dan pemikiran yang mapan. Yang dimaksud dengan pengetahuan ilmiah adalah berangkat dari pengetahuan yang rasional (masuk akal) dan empirik (dapat dibuktikan). ‘Idealis dan konsisten’ merupakan kunci bahwa kader KAMMI berpikir, berniat, dan bertindak berangkat dari nilai-nilai ideal bukan dari keuntungan sesaat dan tidak mudah menjual diri pada kepentingan pragmatis. Hal ini bukan berarti KAMMI tidak realistis, justru dengan mematok ‘nilai tertinggi’ ini ada upaya dialektis dengan realitas yang kemudian akan memudahkan KAMMI bergerak secara terpadu. ‘Berkontribusi pada pemecahan problematika umat dan bangsa’ merupakan kunci bahwa kader KAMMI bukanlah beban dan masalah bagi umat dan bangsa, justru sebaliknya ekspresi kader KAMMI dalam pikiran, niatan, dan tindakan merupakan dalam rangka memberi solusi memecahkan problematika umat dan bangsa. ‘Mampu menjadi perekat komponen bangsa pada upaya perbaikan’ merupakan kunci bahwa kader KAMMI bukanlah musuh bagi pihak tertentu, gerakan atau institusi lainnya, sebaliknya KAMMI dapat memainkan perannya dalam merekatkan komponen-komponen bangsa pada upaya perbaikan dan pembangunan bangsa dan umat ini. Musuh KAMMI hanyalah kebatilan, KAMMI hanya berpikir, berniat, dan bertindak untuk menghilangkan kebatilan itu dalam komponen-komponen bangsa untuk kemudian bersama-sama membangun negeri tercinta Indonesia dan semesta dunia ini[5].

Syarat utama bagi gerakan mahasiswa Islam untuk memunculkan sosok Muslim Negarawan yang erat kaitannya dengan pembangunan sistem gerakan antara lain gerakan yang tertata rapi (quwwah al-munashomat), memiliki semangat keimanan yang kuat (ghirah qawiyah) dan didukung kader-kadernya yang kompeten. Secara aplikatif, Muslim Negarawan harus memiliki kompetensi kritis yang merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki kader yang dirancang sesuai kebutuhan masa depan sebagaimana yang dirumuskan di dalam Visi Gerakan KAMMI. Enam kompetensi kritis tersebut antara lain pengetahuan keislaman, kredibilitas moral, wawasan ke-Indonesia-an, kepakaran dan profesionalisme, kepemimpinan, serta diplomasi dan jaringan[5].

Pijakan role model Muslim Negarawan termaktub dalam Garis-Garis Besar Haluan Organisasi (GBHO) KAMMI yang terdiri dari tiga bab yaitu filosofi gerakan, pemosisian gerakan dan haluan gerakan. Filosofi gerakan begitu penting dipahami oleh kader KAMMI. Menurut Anis Matta[6], filosofi yang terbangun dalam diri seseorang menjadi kerangka berpikir yang mengarahkan tindakan yang dilakukan dan pada akhirnya filosofi ini menjadi kepribadian. Filosofi gerakan terdiri dari visi yang merupakan tujuan yang hendak dicapai atau kondisi yang ingin diwujudkan oleh KAMMI; misi yang merupakan pernyataan eksistensi dan alasan keberadaan KAMMI sebagai perincian atas visi KAMMI; kredo gerakan yang merupakan jati diri yang mewujud dalam kehidupan kepribadian kader KAMMI dan menjadi ruh yang senantiasa terwariskan dari generasi ke generasi; prinsip gerakan yang merupakan nilai-nilai dasar gerakan yang menjiwai pergerakan KAMMI sebagai suatu amal jama’i dan menjadi ciri khas pergerakan KAMMI yang secara unik membedakannya dengan gerakan lain; karakter organisasi yang merupakan sifat keorganisasian yang  melekat yang menjadi ciri khas dan melandasi aktivitas gerakan KAMMI; paradigma gerakan adalah cara pandang menyeluruh (holistik) KAMMI terhadap dirinya sendiri dan cara mendefinisikan perannya di dalam realitas kebangsaan dan peradaban; serta unsur-unsur perjuangan yang merupakan elemen-elemen yang menjadi pilar sistem strategi dakwah KAMMI dalam interaksinya dengan masyarakatnya untuk menjamin keberlangsungan gerakan[7].

Adapun pemosisian gerakan merupakan pernyataan posisi, sikap, dan hubungan KAMMI dengan berbagai pihak terkait dalam mewujudkan visi KAMMI. Dalam GBHO KAMMI dijabarkan tentang posisi KAMMI dengan Gerakan Mahasiswa-Gerakan Kepemudaan, Institusi Pendidikan Tinggi, Gerakan Islam, rakyat, elemen masyarakat, partai politik, pemerintahan, serta media massa. Sedangkan haluan gerakan merupakan haluan yang memandu arah, pokok, dan prioritas agenda gerakan sesuai dengan analisa kondisi yang dihadapi berdasarkan filosofi gerakan. Haluan gerakan diuraikan lebih rinci dalam visi kebangsaan KAMMI[7].

 

Ketika Realitas Berbicara

Menurut Rijalul Imam[8], Muslim Negarawan merupakan orientasi pengkaderan KAMMI yang menjadi solusi atas krisis kepemimpinan di tingkat nasional dengan minimnya sosok manusia (pemimpin) Indonesia yang memiliki mentalitas dan sikap sebagai negarawan. Sangatlah sempit jika Negarawan diartikan sebagai seorang birokrat saja, karena luasnya medan potensi kader KAMMI dalam lapangan perbaikan bangsa.

Jikalau KAMMI memikirkan bagaimana ‘posisi’ kader-kader KAMMI ke depannya, maka itu saja tidak cukup signifikan saat ini. Yang terpenting selama dalam proses pengkaderan, kader KAMMI mempersiapkan dan meningkatkan kualitas dirinya dengan cara pemenuhan Indeks Jati Diri Kader (IJDK) yang mencerminkan sumber dasar kualitas budaya kader yang termaktub dalam filosofi gerakan.

Melihat realitas, penulis berpendapat bahwa penghargaan kader KAMMI terhadap disiplin implementasi Manhaj Kaderisasi masih kurang. Hal ini dapat dilihat dengan masih adanya kader yang tidak melanjutkan tahapan proses kaderisasi pasca masuk dalam pintu gerbang pengkaderan di setiap jenjangnya. Selain itu, usaha-usaha untuk penguatan manhaj tugas baca belum maksimal dengan masih minimnya forum-forum dan fasilitas untuk penguatan hal tersebut. Salah satu penyebab realitas ini menurut hemat penulis yaitu pemahaman yang kurang dan motivasi yang rendah terhadap rasa kepemilikan KAMMI itu sendiri.

Usul Konkrit Untuk Peneguhan Jiwa Muslim Negarawan

Doktrinasi positif terhadap arah gerak KAMMI dengan cara yang baik akan menimbulkan pemahaman yang baik pula sehingga dapat meningkatkan rasa kepemilikan terhadap KAMMI itu sendiri. Doktrinasi ini mulai diberikan di tahap awal penjenjangan kader, yaitu Daurah Marhalah 1.

Penulis pernah memiliki pengalaman ketika mengisi salah satu materi di Daurah Marhalah 1 salah satu komisariat. Penulis ditanya oleh salah satu peserta tentang pandangannya terhadap aksi di jalan atau yang lebih dikenal dengan demonstrasi. Peserta tersebut berpendapat bahwa itu bukan solusi untuk problematika umat.

Dengan pengalaman ini, penulis mengajak untuk memahami kembali tentang hakikat aksi di jalan. Hal ini hanyalah salah satu ijtihad KAMMI menjadikannya sebagai sarana dalam menyampaikan seruan perbaikan. Selain aksi di jalan, masih banyak aksi-aksi yang dapat dilakukan oleh kader KAMMI, antara lain aksi intelektual dan aksi sosial. Oleh karena itu, jikapun masih ada kader KAMMI yang belum menyetujui tentang aksi di jalan dengan berbagai alasan, maka marilah menjalankan prinsip ‘kita bekerja sama dalam hal yang kita sepakati dan saling toleransi dalam hal yang tidak kita sepakati’. Kader KAMMI yang seperti ini dipersilahkan mengeksplorasi potensi dirinya untuk melakukan seruan perbaikan melalui aksi yang lain.

Dengan begitu, Muslim Negarawan tidak sebatas ‘birokrat’ dan tidak sebatas ‘aksi di jalan’. Jadi, silakan setiap kader KAMMI memaksimalkan semua potensi yang ia miliki dan menentukan fokus geraknya dalam pengabdian sebagai Muslim Negarawan.

——————————————————————————————————————————–
[1] Sekretaris Departemen Humas KAMMI Malang, alumni S1 Ilmu Komputer Universitas Brawijaya.

[2] Anonim. 2010. Makna Islam. http://abdain.wordpress.com/2010/01/21/makna-islam/ diakses 11 April 2013 09.20 WIB.

[3] Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat.

[4] Disampaikan oleh Megawati Soekarnoputri dalam seminar “Merindukan Negarawan” yang diselenggarakan Ikatan Keluarga Alumni Universitas Islam Indonesia (IKA UII) di Jakarta pada 25 Mei 2012. http://www.edisinews.com/politik/558-megawati-pemimpin-harus-seorang-negarawan.html diakses April 2013 09.45 WIB

[5] Tafsir Resmi Muslim Negarawan berdasarkan Manhaj Kaderisasi KAMMI 1427 H. http://eljundi.wordpress.com/2011/05/16/192/ diakses pada 30 Maret 2013 pukul 12.00 WIB.

[6] Anis Matta. 2004. Mencari Pahlawan Indonesia. The Tarbawi Center.

[7] Hasil Muktamar VII KAMMI. Banda Aceh, 13-19 Maret 2011.

[8] Rijalul Imam. Muslim Negarawan sebagai Orientasi Pengkaderan KAMMI. http://kammikultural.wordpress.com/2013/02/26/ibhar-vol-2-muslim-negarawan-sebagai-orientasi-kaderisasi-kammi/ diakses pada 10 April 2013 21.00 WIB.

7 thoughts on “Membedah Eksklusifitas Muslim Negarawan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s