Mbak UL : Sosok Tetangga Yang Inspiratif (Belum tentu aku mampu sepertimu)

Banyak orang yang memanggilnya Mbak Ul, tetangga kontrakan saya, Ash Sholihah, yang tinggal di daerah Kerto Asri. Saya sendiri mengenalnya sebagai ibu yang menjajakan gorengan keliling dari satu rumah ke rumah yang lain di pagi hari biasanya dan khusus di sore hari pada bulan Ramadhan . Bisa dibilang, Mbak Ul salah satu tetangga yang paling akrab dengan penghuni kontrakan Ash Sholihah.

Bagi Ash Sholihah, dan juga banyak rumah kost atau kontrakan lainnya, Mbak Ul termasuk ‘pahlawan’ yang melalui dia, menyelamatkan para penghuni kontrakan di tengah kelaparan di pagi hari. Saat masakan belum matang, jualan Mbak Ul bisa menjadi andalan. Saat terburu-buru berangkat kuliah, jualan Mbak Ul bisa dijadikan ‘alas perut’ setibanya di kampus. Memang tidak hanya gorengan yang beliau jual. Jika sempat memasaknya, beliau juga menjual ikan pindang, ikan pepes, macam-macam sayur yang telah diolah, dan lainnya.

Terkadang, kami para penghuni kontrakan sedikit heran dengan harga yang dipatok Mbak Ul atas jualannya. Terlalu murah harganya di kala itu. Gorengan yang berukuran besar, masih seharga 500 rupiah di saat yang lainnya sudah mematok harga 700 rupiah ke atas, padahal rasa tetap pas di lidah. Ikan pindang yang di warung sebelah dekat kontrakan sudah seharga 2500 rupiah, Mbak Ul hanya mematok 1000 rupiah, padahal ukuran ikan hampir menyamai. Beliau beberapa kali mengatakan bahwa tidak mau mematok harga tinggi karena beliau tahu yang membeli jualannya kebanyakan mahasiswa, yang dominan keuangannya juga pas-pasan. Subhanallah, sangat pengertian.

Beliau juga belajar dari hasil penjualannya. Ketika sedang melayani pelanggan, beliau sering menanyakan bagaimana hasil masakannya, apa bumbu yang kurang, sudah pas atau belum. Maklum, beliau hanyalah mantan buruh yang terkena PHK dan akhirnya banting setir pekerjaan menjajakan hasil masakannya demi membiayai dua orang anaknya. Dari waktu ke waktu, beliau terus memperbaiki hasil masakannya, dan terus berkreasi. Kami pun sebagai pelanggan senang dengan ini karena beliau sangat mendengar saran dari pelanggannya.

Salah satu yang paling diingat adalah sering sekali Mbak Ul memberikan secara gratis kepada penghuni kontrakan jika jualannya masih tersisa. Memang Mbak Ul sempat mengganti sistem penjualannya dengan berkeliling hanya ke beberapa rumah tertentu dan meletakkan jualannya di situ dari pagi hari dan di ambil pada malam harinya. Saat di malam hari, jika jajan-jajan beliau masih ada, maka beliau memberikannya secara cuma-cuma. Minimal setengah dari sisa penjualan, namun tidak jarang diberikan semuanya dari sisa jualannya. Jika sudah seperti itu, seringkali kami penghuni mencoba menolak secara halus, karena kami tahu keuntungan beliau tidaklah banyak dan saat itu kami juga tidak mampu membeli semua jualannya yang diletakkan di kontrakan. Tetapi beliau selalu bisa saja menolak balik penolakan kami dengan menjelaskan pada intinya bahwa sebenarnya memberi itu adalah amalan yang akan kembali lagi kepada pemiliknya dan insya Allah bisa memperoleh berkah dengan memberi kepada sesama. Beliau mengatakan, “Saya adanya ya hanya ini Mbak, jadi saya hanya bisa beri ini, dihabiskan ya”. Subhanallah, masih saja bisa memberi dengan keterbatasan yang ada, tidak banyak orang yang bisa melakukan itu.

Mbak Ul bukanlah tetangga biasa. Ia benar-benar menunaikan hak-hak tetangganya semampu dia. Jika bertemu dengan tetangganya, termasuk kami para penghuni kontrakan, beliau tidak hanya ramah dengan mengucapkan salam, tapi juga menanyakan mau kemana, semata-mata untuk semakin menjalin kedekatan dengan tetangga. Tidak hanya sebatas ta’aruf (mengenal), Mbak Ul juga mencoba tafahum (memahami) tetangganya. Saya, salah satunya, sering diajak obrol dengan Mbak Ul untuk membicarakan aktivitas-aktivitas saya. Kala itu, beliau sangat senang karena saya sudah memperoleh pekerjaan sebelum saya lulus kuliah. Sejak beliau tahu tentang itu, setiap saat ketemu, pasti yang ditanyakan adalah bagaimana pekerjaan saya dan terus berulang-ulang beliau memotivasi bahwa saya harus lebih bersyukur karena sudah bekerja sebelum lulus. Subhanallah, begitu kuatnya daya ingat beliau tentang tetangga-tetangganya.

Tentang pertolongan, Mbak Ul tidak perlu diragukan. Sangat tanggap saat kita butuh bantuannya. Pernah suatu saat, gudang kontrakan terkena banjir karena ada tembok yang bocor dari dinding yang bersebelahan dengan kamar mandi tetangga. Dengan sigap, beliau memanggil suaminya untuk bantu membersihkan gudang tersebut. Kami juga takjub waktu itu. Dan seketika, gudang pun bersih. Subhanallah, di manakah lagi bisa menemukan tetangga sebaik ini.

Terlalu banyak kenangan bersama Mbak Ul yang sudah membersamai kami selama bertahun-tahun dalam beberapa generasi penghuni kontrakan. Sudah beberapa bulan ini, kami memang lama tidak melihat beliau jualan lagi. Ramadhan ini pun beliau juga tidak menjual takjil seperti dulunya. Terakhir, saat kami silaturahim ke rumah beliau di pertengahan Ramadhan ini, beliau mengatakan sering sakit-sakit, jadi istirahat dulu. Walaupun saat itu kami tidak tahu sakit apa, fisiknya terlihat masih kuat, hanya saja semakin kurus kelihatannya. Kami pun berharap masih dapat menikmati jualan beliau di kontrakan kami.

Akan tetapi, harapan itupun kini sirna, setelah siang hari ini, saya mendengar kabar bahwa beliau telah dipanggil-Nya. Padahal sehari sebelum ini, kita berdua masih saling berpapasan di jalan. Sungguh, kami berprasangka baik Mbak Ul, engkau dipanggil di waktu yang sangat baik, di bulan Ramadhan, di hari Jumat, dan di tanggal yang mudah diingat semua orang, 17 Agustus 2012. Mungkin hikmahnya agar engkau terus mudah dikenang oleh orang-orang sekitarmu.

Ya Rabb, satu lagi engkau munculkan dihadapan kami Kekuasaan-Mu. Engkaulah yang paling berhak atas jiwa-jiwa kami ini, sehingga kapan pun engkau Menghendaki, saat itu pula jiwa ini kembali pada-Mu.

Ya Rabb, ampuni dosa-dosa Mbak Ul, terimalah amal baiknya, lapangkanlah kuburnya, ringankanlah siksaannya, sungguh, beliau adalah tetangga yang sangat baik, sangat peduli, dan sangat menolong dengan sesamanya.

Allahummaghfirli wali walidayya warhamhuma kama rabbayani shoghiro. Robbana atina fiddunya hasanah, wa fil akhirati hasanah waqina adzabannar.. :’-(

Malang yang sunyi, 18 Agustus 2012 00:48 WIB

3 thoughts on “Mbak UL : Sosok Tetangga Yang Inspiratif (Belum tentu aku mampu sepertimu)

    • aamiin..semoga kita bisa banyak belajar dari beliau dan senantiasa menyiapkan diri untuk kembali pada-Nya
      terima kasih mbak annisa atas komentarnya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s