Bilamana Rumah Kita Tinggallah KAMMI*)

Ingatlah 5 perkara sebelum 5 perkara, salah satunya adalah lapang sebelum sempit” (Al Hadits)

KAMMISuatu hari di Musyawarah Komisariat (Musykom) KAMMI Brawijaya sekitar 2 tahun yang lalu, saat aku masih menjadi pengurus komisariat, teringat perkataan al-akh yang terwacanakan saat itu, kurang lebih seperti ini “Jika dulu KAMMI masih menjadi rumah satu-satunya bagi kader sehingga pada saat agenda KAMMI banyak kader yang datang, maka pada saat ini, kader-kader sudah memiliki banyak rumah lain yang harus diurus dan dijaga, sehingga jika ada agenda KAMMI, hanya sedikit kader yang bisa datang. Ya, mungkin itu husnudzon kita sekarang kepada mereka yang tidak hadir saat ini”. Ya, memang, pada saat itu, acara Musykom terlihat sepi dari kader-kadernya, entah ke mana kader-kader KAMMI ini. Namun, setelah kata-kata tadi terlontar, mungkin saja ada perasaan su’udzon yang sedikit tertutupi.

Ikhwahfillah, benar sekali apa yang dikatakan al-akh tadi. Bahwa kader-kader KAMMI banyak yang memiliki amanah di kampus, ada yang lebih dari satu bahkan, sehingga apa daya, raga tak mampu untuk datang ke agenda KAMMI. Akan tetapi, sepulang dari majelis KAMMI hari ini sambil tersenyum mendengar berbagai macam opini yang terlontar dari lisan saudara-saudaraku, tiba-tiba terlintas di pikiranku, “Bagaimana jika suatu saat, lembaga-lembaga yang terpegang maupun terkelola sekarang ke depannya sudah tidak terpegang atau terkelola lagi semuanya? Kira-kira, apa yang bisa kader-kader KAMMI lakukan ya untuk tetap mengeksiskan dakwah di bumi Brawijaya?”.

Entahlah, apakah saudaraku pernah terlintas pemikiran yang sama dengan pemikiranku ini. Tetapi sejujurnya, pertanyaan ini pun membuat diriku takut. Kenapa ikhwahfillah? Karena sejarah itu bisa jadi akan terulang, lantas jawaban dari pertanyaan ini pun cukup menguras otakku.

Seorang bijak berkata, “Sejarah hakikatnya tidakkan hilang, walau seribu usaha keji membelokkan kejadian yang benar, karena sejarah akan kembali terulang. Sejarah bisa saja di hapuskan, diganti atau diubah. Tapi suatu saat sejarah kembali lagi, kembali dalam bentuk sejatinya, yaitu peristiwa. Peristiwa bagian dari mengenal kembali sejarah. Ia akan disusun, ditulis dan ditelusuri kembali. Walau sejarah bisa disembunyikan, suatu saat ia akan kembali berbicara.”

Boleh jadi, kita merasa bingung menjawab solusinya, karena kondisi ini belum pernah kita rasakan sejak kita masuk di kampus. Para masayikh dakwah-lah yang pernah merasakan hal ini. Dulu, Murobbiyahku pernah cerita bagaimana perjuangan teman-teman KAMMI bisa membentuk yang namanya Lembaga Kedaulatan Mahasiswa di kampus. Sungguh perjuangan yang sangat indah yang tidak bisa dirasakan nikmatnya hanya dengan ungkapan kata.

Pada tulisan ini pun, aku mencoba menuliskan beberapa usul yang mungkin bisa dijadikan solusi saat memang kondisi di atas kita rasakan nantinya.

1. Kelompok belajar/diskusi

Untuk fakultas yang eksak ataupun agrokompleks, bisa dibentuk kelompok-kelompok belajar, saat membuat laporan, program (coding), atau mengerjakan tugas dosen, karya ilmiah dan sebagainya. Untuk fakultas sosial, bisa dibentuk kelompok diskusi, misalnya saat ada isu-isu sosial di masyarakat yang beredar. Hal yang dapat membantu salah satunya adalah dengan memiliki perpustakaan atau koleksi buku, entah itu berisi buku di bidang kita, ataupun yang lainnya, minimal jika ada rujukan yang pas, bisa membantu teman-teman kita.

Alhamdulillah, di kelas, aku bisa menjadi salah satu dari sedikit orang di antara teman-teman yang memiliki materi cukup lengkap dan data-data hasil pembelajaran mulai dari semester 1 hingga semester 7 terakhir kuliah. Di saat teman-teman banyak yang kehilangan catatan atau data di laptop yang error, Allah SWT memberikan rahmatnya dengan ini, sehingga banyak teman-teman kelas ataupun adik tingkat yang datang meminta bantuan padaku.

Selain itu, kita juga bisa menjadi salah satu orang yang tanggap di kelas, misalnya saat dosen meminta kita mengkopi materi via flashdisk dan diwakili satu atau dua orang saja, kita bisa jadi orang yang lebih dahulu mengkopi data tersebut, sehingga teman-teman akan berkumpulan datang ke kita mengumpulkan flashdisk mereka. Atau saat ada bahan kuliah yang harus di fotokopi, kita bisa jadi orang yang membantu fotokopi bahan tersebut, sehingga teman-teman akan berkumpulan datang ke kita mengumpulkan uangnya ke kita.

Tidak dituntut rajin, tapi pandai memanfaatkan momenBukankah ini juga suatu peluang?

2. Komunitas-komunitas berbagai bidang (ex : olahraga, seni, community development, dll)

                Man ‘arofa nafsahu,‘arofa Rabbahu, siapa yang mengenal dirinya maka ia mengenal Tuhannya. Aku yakin, kader KAMMI punya segudang potensi yang belum tereksplorasi dengan baik. Jadi, membentuk komunitas, mulai dari lingkup kecil, seperti kelas, sepertinya menjadi peluang yang bagus untuk berbuat kebaikan untuk lingkungan kita.

Masyarakat lebih senang dengan hal yang visual, maka saudaraku yang punya minat atau bakat di bidang desain, manfaatkanlah!

Dunia musik telah merajalela, apalagi boyband (untuk trend saat ini), maka saudaraku yang punya minat atau bakat di bidang seni suara atau nasyid, manfaatkanlah!

Olahraga memang gak ada matinya, selalu saja ada hal yang seru dan peminatnya banyak, maka saudaraku yang punya minat atau bakat di olahraga, seperti sepakbola, renang, dan lainnya, manfaatkanlah!

Sekarang juga lagi tren istilah Community Development (ComDev), yaitu komunitas pengembangan yang mengembangkan berbagai bidang masing-masing sehingga bermanfaat untuk lingkungannya, misalnya kegiatan daur ulang, bisnis, dan sebagainya.

Tidak dituntut hobi, tapi memberdayakan potensi. Bukankah ini juga suatu peluang?

3. Forum daerah (Forda)

Kita suka berkumpul bersama orang yang ‘sesama’. Salah satu sarananya adalah forum daerah, karena berkumpul dengan orang se-daerah, akan merasa senasib seperjuangan di tanah orang. Bagaimana kita merantau, belajar jauh dari rumah dan keluarga, dengan harapan ingin kembali ke tempat asal untuk berkontribusi membangun daerah masing-masing nantinya.

Ah…agaknya ini suatu romantisme yang indah jika bisa mengajak kebaikan kepada mereka dalam forum ini. Terlebih kita bisa membantu bagi mereka, orang sedaerah yang kuliah setelah angkatan kita. Banyak sekali info yang mereka butuhkan dari kita. Banyak juga momen yang bisa kita manfaatkan bersama mereka, seperti Mudik Bareng, Buka puasa bareng, dan sebagainya. Kita juga berkesempatan bisa mengadakan bersama acara-acara yang bermanfaat dengan mereka.

Tidak dituntut lebur bersama mereka, tapi membaur bersama mereka. Bukankah ini juga suatu peluang?

4. Berprestasi di akademik ataupun mengikuti even-even lomba

Lagi heboh-hebohnya ini dengan kata-kata prestasi, seakan-akan prestasi adalah segalanya, bener ta? Ehemm, nampaknya iya deh, hehe..mau gimana lagi, lingkungan membutuhkan yang seperti itu. Memang tidak semua orang bisa berprestasi di akademik, itu suatu sunnatullah. Wajar. Lantas, bagi yang tidak apa diam saja, tidak mengukir prestasi? Ya jangan sampailah…

Seperti yang tertuliskan sebelumnya, monggo berdayakan potensi secara maksimal. Yakin deh, ada bidang yang ingin kita geluti masing-masing, entah itu sesuai keilmuan kita ataupun bukan, silakan berkreasi, tak ada yang melarang selama itu masih bermanfaat untuk orang sekitarmu.

Untuk even-even lomba, ya, itu kesempatan emas untuk mengembangkan potensi kita sebenarnya. Jadi, silakan memanfaatkan, aktif mencari dan mengikuti lomba-lomba sesuai minat kita. Dengan ikut lomba, kita banyak mengenali hal yang baru serta dapat mengukur kualitas diri kita. Pengalamanku, akibat aktif dalam mengikuti lomba-lomba, Alhamdulillah bisa meraih 2 piala selama kuliah ini, lomba MTQ dan Kewirausahaan. Walaupun hanya tingkat universitas dan regional Jawa, tapi aku sudah sangat bersyukur ada hasil prestasi yang telah kuukir dalam sejarah hidupku.

Tidak dituntut bisa, tapi memiliki rasa mau belajar. Bukankah ini juga suatu peluang?

5. Menjadi asisten dosen/praktikum/laboratorium

Sungguh nikmat mempunyai pengalaman mengajar, karena ada interaksi sosial yang menimbulkan simbiosis mutualisme di antara yang mengajar dan diajar. Karena itu, kesempatan menjadi asisten dosen/praktikum/laboratorium, menjadi kesempatan emas untuk kita menyebarkan kebaikan. Kita bisa memasuki paradigmanya, melengkapi yang kurang, dan meluruskan yang berbelok. Menjadi pengajar yang ramah, tidak berlebihan, pengajar yang peduli, tidak menjatuhkan. Menggali potensi-potensi mereka sehingga kita pun bisa banyak belajar dari mereka, pun sebaliknya.

Tidak dituntut jenius, tapi cerdas dalam berkomunikasi. Bukankah ini juga suatu peluang?

6. Menjadi ketua tingkat(kating)/ketua kelas

Bagi yang di program studinya dalam bentuk kelas-kelas. Salah satu sarananya adalah dengan menjadi ketua kelas atau ketua tingkat. Kita bisa menjadi orang yang mewakili suara teman-teman kita di setiap momen pemenuhan kebutuhan bersama. Kita juga bisa memahamkan ke teman-teman info-info yang beredar, antara benar tidaknya, yang mana kita butuhkan dan yang tidak dan selektif dalam memahami info yang ada. Terlebih, saat kita juga bisa dekat dengan kating-kating dari kelas lain dan program studi/jurusan lain, forum kating bisa menjadi salah satu sarana menyebarkan kebaikan untuk mereka. Karena disitulah forum pemimpin-pemimpin non-formal berkumpul.

Tidak dituntut ahli dalam memimpin, tapi pandai dalam mempengaruhi. Bukankah ini juga suatu peluang?

7. UB on Update “Ada info apa nih?”

Pada dasarnya setiap orang itu membutuhkan informasi, karena dengan adanya informasi, mereka bisa tahu apa yang harus mereka lakukan. Karena itu, menjadi orang yang update, minimal di kampus kita, sebenarnya juga bisa membantu teman-teman kita. Entah itu info lomba, beasiswa, open recruitment, acara-acara bermanfaat, dan lainnya, bisa kita bantu sebarkan ke teman-teman kita. Saat apa yang kita infokan, tepat pada info yang mereka butuhkan, maka mereka akan merasa membutuhkan kita.

Dekat dengan civitas academica dan menjalin komunikasi baik dengan mereka adalah salah satu sarananya. Apakah yang dekat dengan dekanat atau rektorat, harus memiliki jabatan publik? Aku pikir tidak juga. Butuh keberanian saja untuk ini. Tenang, tenang, jangan takut, kita hanya mencari info.

Tidak dituntut rajin lihat papan pengumuman, tapi jalin jaringan komunikasi. Bukankah ini juga suatu peluang?

8. Pandai bahasa Inggris/tahsin Al Quran

                Two thumbs up deh buat saudaraku yang bisa dalam bidang ini, fasih bahasa Inggris atau pandai tahsin Al Quran. Kemampuan ini sebenarnya bisa dimanfaatkan juga untuk teman-teman kita. Sekarang sangat banyak orang yang ingin fasih dalam berbahasa Inggris sehari-hari, manfaatkanlah kesempatan untuk mengajar mereka. Tidak sedikit juga orang yang ingin fasih belajar baca Al Quran, karena budaya khataman masih banyak di masyarakat, maka manfaatkanlah kesempatan untuk mengarahkan mereka. Kenapa harus kita? Karena terkadang orang lebih merasa nyaman saat diajar dengan orang yang sudah dikenal baik.

Tidak dituntut pintar, tapi komitmen dalam mengajar. Bukankah ini juga suatu peluang?

9. Mengetahui hari ulang tahun teman-teman

Pernah mendengar suatu kabar bahwa di salah satu rohis kampus di Indonesia, menggunakan metode untuk memperkenalkan siapa mereka dengan cara memberikan ucapan selamat serta kado untuk mahasiswa baru di kampusnya. Entah semuanya, atau beberapa, tapi pada akhirnya mereka berhasil dengan cara itu.

Pun dengan kita, masih banyak orang yang menganggap momen milad adalah momen penting bagi mereka. Kita pun bisa memberikan ucapan selamat serta muhasabah atas berkurangnya umur yang dia miliki sehingga harus dimanfaatkan sebaik mungkin, memberikan doa kesuksesan juga untuk mereka, jika pun mampu memberikan kado, kenapa tidak untuk diberikan? Hal kecil sebenarnya, tapi tepat momennya.

Tidak dituntut banyak harta, tapi banyak mendoakan saudara. Bukankah ini juga suatu peluang?

10. Berkontribusi di Yayasan Sosial

Buat saudaraku yang bergabung atau minimal jadi member di suatu yayasan sosial. Sebenarnya, tidak perlu sungkan untuk menyampaikan info sosial kepada teman-teman kita, misalnya tentang bencana, anak didik asuh, orang jompo, anak jalanan, dan sebagainya. Lebih mudah menyentuh hati teman-teman kita saat ada info sosial seperti itu. Alhamdulillah jika mereka mau mengeluarkan sebagaian hartanya untuk membantu, tetapi yang lebih penting adalah teman-teman kita bisa menangkap pelajaran dari kondisi sosial tersebut, sehingga bisa membantu mereka untuk lebih mensyukuri nikmat yang telah mereka miliki.

Tidak dituntut mencari sumbangan selalu, tapi menceritakan hikmah di balik setiap kejadian. Bukankah ini juga suatu peluang?

Alhamdulillah, 10 usul telah tertuliskan panjang X lebar X tinggi, hehe…^^v

Tidak semua mungkin bisa terlaksana dalam satu waktu ataupun satu tempat secara bersamaan. Silakan disesuaikan dengan kondisi lingkungan masing-masing, dan menurutku kita bisa mulai dari sekarang, di saat kita masih lapang, mempersiapkan untuk menghadapi kondisi sempit yang tidak kita inginkan. Memang tidak mudah melakukan ini semua, tapi insya Allah ini bisa menjadi ikhtiar kita. Allah melihat proses yang kita jalani tentunya, dan hasilnya adalah hadiah dari Allah atas ikhtiar kita, entah itu dalam bentuk basyiroh wa nadziroh, kabar gembira ataupun peringatan. Satu lagi, ikhtiar kita adalah semoga apa yang kita dakwahkan, orang menerimanya dari apa yang kita bawa, bukan siapa yang membawa, karena jika “siapa”, maka yang dibawa pun hilang seiring sirnanya masa kita di kampus.

Di tulisan ini pun, aku hanya mencoba menuliskan pengalamanku selama di kampus. Aku yakin setiap tulisan ada pro dan kontranya, monggo tambahan usul maupun kritikan usul bisa disampaikan. Seperti yang disampaikan Salim A. Fillah, menulis itu tidaklah mengeluarkan sesuatu yang baru, tetapi hanya mengingatkan kembali yang terlupakan ataukah mengungkap kembali sesuatu yang ada namun belum luas dikenal.

Wallahu’alam bishawab.

*)Tulisan ini ku dedikasikan untuk muhajid dakwah di KAMMI sebelum aku menginjak masa pasca campus, semoga bermanfaat!

Malang yang sunyi, 14 Januari 2012

Putri Irvanna (Ilmu Komputer FMIPA UB 2007)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s