Menjaga Hidayah

(Afwan, jika dalam tulisan ini banyak pendapat subjektif saya, dan mohon diluruskan jika salah)

Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin seringkali mengatakan ataupun mendengar, “Mungkin orang itu belum mendapatkan hidayah Allah”, ketika melihat seseorang yang menurut pandangan kita belum menjalankan syariat Allah SWT, atau biasanya lebih sering ditujukan kepada orang yang belum menganut Islam sebagai agamanya.

Berbicara mengenai hidayah, kita tahu bahwa hidayah merupakan hak penuh Allah SWT dalam kehendak-Nya memberikan atau mencabut hidayah ini pada seseorang. Tak ada yang bisa menghalanginya.

Katakanlah: “Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus.” (QS Al Baqarah : 142)

 Begitulah hidayah, yang menurut saya, hidayah ini adalah hal yang setiap manusia menunggunya untuk diberikan, karena pada dasarnya fitrah manusia adalah ingin dekat pada Tuhannya, pada jalan yang diridhoi-Nya.

“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS Al Baqarah : 257)

Pada ayat 257 QS Al Baqarah, disiratkan bahwa iman adalah hakikat kehidupan, yang dengannya dapat membedakan antara orang yang mendapatkan cahaya dan orang yang berada dalam kegelapan. Cahaya di sini tak lain adalah hidayah. Saat Islam menjadi pedoman hidup, maka cahaya pun akan menerangi kehidupan kita. Ayat lain yang menyebutkan tentang cahaya ini adalah QS An Naml ayat 122.

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan. (QS An Naml : 122)”

 

Lantas, apakah bagi kita yang sudah Islam sejak lahir dapat dikatakan telah menerima hidayah?
Menurut saya, sekali lagi, ini masih pandangan subjektif, bagi kita yang telah memeluk agama Islam sejak lahir insya Allah sudah mendapatkan hidayah Islam itu sendiri. Karena tentu saja, label Islam yang ada pada kita adalah sudah menjadi kehendak Allah SWT.
Akan tetapi, apakah berhenti hanya di situ saja? Apakah kita sudah bangga dengan adanya hidayah Islam? Inilah yang mungkin membuat banyak perbedaan pendapat.
Bagi seorang Muslim yang telah mendapatkan hidayah Islam-nya baik sejak lahir, maupun mulai kapanpun usianya, berikutnya memiliki tugas yang cukup berat, yaitu Menjaga Hidayah.
Layaknya seseorang yang mendapat juara, sering kita lihat fakta di lapangan bahwa lebih mudah merebut prestasi daripada mempertahankan prestasi tersebut. Insya Allah begitupun dengan menjaga hidayah. Saya yakin, bagi setiap orang yang selalu berusaha untuk menjaga hidayahnya, tidak sedikit godaan dari segalah arah yang menghadangnya, sehingga terkadang iman itu pun mengalami fluktuasi hebat.

“Iman itu bisa bertambah dan berkurang. Iman akan bertambah dengan ketaqwaan dan akan berkurang dengan kemaksiatan”

 Subhanallah, satu ayat Alquran ini menggambarkan betapa sulitnya menjaga hidayah dengan analogi rajutan kain.

Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian) mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain.  Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu.  Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu.” (QS An Nahl : 92)

 Ya, menjalani hidup ini seperti kita sedang merajut sebuah kain kehidupan. Rajutan yang kuat dibuat dengan tenaga, waktu, peluh, rasa capek, dan sebagainya. Namun, untuk membongkar rajutan kain itu jauh lebih mudah, jauh lebih cepat, daripada membuatnya pada waktu sebelumnya.

Ingat, betapa banyak orang yang berislam, tapi hanya sedikit yang beriman.
Betapa banyak orang yang beriman, tapi hanya sedikit yang beramal.
Betapa banyak orang yang beramal, tapi hanya sedikit yang ikhlas.
Dan betapa banyak orang yang ikhlas, tapi hanya sedikit yang istiqomah.
Begitulah, ujung dari hidayah ini adalah keistiqomahan kita dalam ketaqwaan pada Allah SWT.

Allah memberikan satu pertanyaan pada hamba-hamba-Nya dalam Alquran dalam QS Al Hadid ayat 16 sebagai berikut.

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS Al Hadid : 16)”

Ayat yang diawali dengan pertanyaan “belumkah datang waktunya” mengalami makna tersirat bahwa “mau kapan lagi, kalau bukan sekarang, sudah tidak ada lagi yang ditunggu selain ini”.
So, kapankah kita mulai bergerak untuk menjaga hidayah ini? Now or Never!”

Ada dua hal yang insya Allah bisa kita lakukan untuk menjaga hidayah :
1. Senantiasa meminta kepada Allah SWT agar kita diberi keistiqomahan

2. Senantiasa mendekatkan diri dengan lingkaran-lingkaran keimanan. Lamanya waktu tarbiyah atau proses pembelajaran kita terhadap islam, bukan menjadi jaminan untuk keistiqomahan kita. Yakinlah, tanpa saling mengingatkan antarsaudara, kita akan sangat sulit untuk menjaga keimanan yang ada.

Subhanallah, saudara-saudariku, mari kita saling menjaga hidayah ini.
Kekecewaan yang ada pada manusia tak perlu disimpan berlarut-larut karena itu tidak akan menyelesaikan masalah. Ya, janganlah pernah menuntut kesempurnaan dari orang lain, karena diri kita pun juga tidak sempurna. Sekali lagi, saling mengingatkan adalah kunci utamanya.
Semoga catatan kecil ini, bisa bermanfaat buat yang menulis dan yang membaca.
Afwan jika masih banyak kekurangan, terutama dari referensi tafsir yang belum ana pakai sama sekali. Karena materi ini juga dominan didapat dari hasil diskusi.
Ya, semoga bisa dilengkapi di waktu yang lain, insya Allah…

Malang, dengan perasaan ingin selalu bertahan di jalan ini,
18 Oktober 2011 01:38

2 thoughts on “Menjaga Hidayah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s