Pengamen 3 Generasi

(sepenggal catatan renungan selama perjalanan di bus)

Pernah naik bus? saya yakin di antara anda, sudah banyak yang pernah naik bus. Saat menaiki kendaraan umum itu, sangat jarang kita tidak berjumpa dengan sosok yang berlalu lalang dalam bus, naik gratis tapi turun tidak bayar, itulah sosok pengamen bersama penjual berbagai macam barang. Tidak hanya satu dalam satu waktu di satu bus, tapi juga bisa lebih di saat yang sama dan terkadang saling bergiliran. Aliran lagu dan musik yang di bawa pun heterogen, slow, pop, rock (pernah gak ya?), bahkan dangdut, hampir semuanya ada. Penampilan pengamen pun juga bermacam-macam, mulai dari pakaian biasa hingga ala vokalis band pun ada.

Tapi ada satu lagi yang bervariasi, yaitu USIA. Ya, pengamen yang ditemui di bus memiliki usia yang berbeda. Dan inilah yang saya alami saat menumpangi bus menuju Probolinggo.

Pengamen tiga generasi, itulah  sebutan dari saya, 3 pengamen yang saya dengarkan lantunan suaranya di bus.

Pengamen pertama naik di saat bus baru berjalan dari terminal Arjosari. Lagu yang dinyanyikan banyak, hampir 15 – 20 menit baru selesai bernyanyi. Dan lagunya pun menurutku “lurus-lurus” saja. Okelah, saya tertarik untuk memberi duit untuknya. Dompetpun saya ambil dan siap untuk menyerahkannya. Saya pun serius membaca buku MHMMD sembari menunggu tempat untuk meletakkan uang ini. Saat “penagihan” pun tiba, hmm, penampilan pengamennya rapi, kalau dilihat sekilas umurnya sekitar 30-an ke atas, pantas saja lagunya sopan-sopan. Saya pun menyerahkan uang yang sudah saya genggam.

Selang tak sampai sekitar 10 menit, terdengar sosok baru yang lalu lalang sambil membawa gitar. Kemudian dia bersuara layaknya MC membuka acara. Hmmm, suara anak kecil. Astaghfirullah, ke mana orang tua anak ini, pikirku.  Dia pun memulai “aksi panggung”-nya. Wah, sayangnya hati saya tidak tergerak untuk mengeluarkan duit lagi. “gak ah, cukup satu saja”, batinku. Suaranya dan lagunya kurang nyaman di dengar juga. Dan kemunculan dia terlalu cepat dari pengamen sebelumnya. “Hmmm, nampaknya dia belum profesional terkait manajemen strategi untuk kemunculan satu pengamen setelah pengamen yang lain sebelumnya tampil”, diskusi dalam hatiku semakin kuat. Adik kecil ini tidak lama mengamennya, seingat saya tadi cuma satu lagu yang dilantunkan. Dan saya pun lebih memilih untuk memberinya doa agar kelak dia menjadi generasi muda yang lebih baik lagi kondisi hidupnya. Okelah, dan bus pun tetap melaju ke arah tujuannya.

Baru sampai Purwosari ternyata. Ku buka buku MHMMD lembar demi lembar, hanya bisa berdzikir membaca buku itu, luar biasa isinya. Alhasil saya pun semakin serius sampai tak lagi memperhatikan sudah di mana bus yang saya tumpangi ini melaju.

Lama setelah itu, ternyata muncul beberapa sosok, berperawakan seperti rocker, baru mematikan puntung rokoknya setelah naik bus. Pakai kalung, gelang, dan beberapa aksesoris lainnya. Tak lupa membawa “alat saktinya”, gitar. Nampaknya ini khas anak band banget, ya dan mereka inilah pengamen ketiga yang mewakili dari generasi muda. Sejak awal, saya terganggu dengan sosoknya, dan setelah mendengar nyanyian mereka, haduuuuuh..berisik sekali, saya pun semakin gusar karena di saat yang sama, isi bacaan di buku MHMMD sangat menarik. Tidak hanya itu, murottal yang tersetel dari tadi pun tak terdengar blas, berbeda dengan 2 pengamen sebelumnya. Mungkin karena ini saking kerasnya mereka menyanyikan lagu.

Ya, mau bagaimana lagi, ini bukan bus saya, jadi hanya bisa bersabar dan terus melalui halaman demi halaman buku MHMMD.

Ngasih gak ya, ngasih gak ya, pikirku tiba-tiba. Setelah sekelompok pengamen muda ini sudah menyanyikan beberapa lagu. Tiba-tiba terlintas syair yang mereka bawa dengan menyebutkan kata-kata “DOSA” dan “TUHAN”, serta “AMPUNAN”. Wah, ini lagu apa, kok tiba-tiba menjurus ke arah Religi. Hmm, entah kenapa, saya jadi mau memberikan duit saya lagi. Saya juga sudah mau turun, ya saat memberi dengan doa saya berharap rejeki ini bisa membuat mereka menjadi orang yang lebih mengenal Tuhannya dengan mengenal dirinya.

Itulah sepenggal gambaran di bus.  Dan sedikit banyaknya itu juga menggambarkan kondisi Indonesia sekarang. Kemiskinan menggerogoti hingga 3 generasi.

Ah jadi mengenang di pelatihan MHMMD kemarin. Betapa potensi Indonesia ini sangat banyak, tapi SDMnya sangat miskin dari segi kualitas walaupun sangat kaya (baca : banyak) dari segi kuantitas. Apa karena kita merasa terus kaya ya alam Indonesia ini, sampai-sampai kita lupa bahwa kekayaan itu satu per satu, perlahan ataupun cepat, telah digerogoti oleh bangsa pendatang, dan akhirnya baru tersadar, apa yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan potensi-potensi itu?

Mengutip dari buku MHMMD (basic life skills), bunda Marwah menulis bahwa cacing saja bisa menyuburkan tanah, ulat sutra setelah makan daun murbei bisa menghasilkan ratusan meter benang sutra yang demikian indah, lebah menghasilkan madu, itik memproduksi telur, sapi menghasilkan susu dan daging. Garam saja membawa fungsi rasa asin, matahari membawa terang, angin membawa kesejukan, bunga dengan keindahannya yang demikian memukau. Lantas, pertanyaan kita adalah, akan menghasilkan apakah kita dalam hidup kita yang singkat ini?

Mari bermuhasabah saudaraku..laa haula walaa quwwata illa billah..

Pasuruan dengan “ya sudahlah”-nya,

27 Januari 2011 00:27 WIB

http://www.putriirvanna.wordpress.com/

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s