Selesai, Sebelum Memulai, Ternyata Itu Bisa

Bismillah…

Tiga hari mengikuti Training Reguler MHMMD, pulang dari itu merasa menjadi manusia yang membawa segudang hikmah, dan saya yakin, hikmah itu mahal harganya.

Satu hikmah yang bisa ku bagi dalam coretan ini semoga bisa menjadi renungan (muhasabah) buat saya pribadi dan orang lain yang masih senantiasa semangat dalam menempuh hidup.

Ada falsafah hidup dari Bunda Marwah Daud Ibrahim, tentang filosofi suku Bugis yang terkenal dengan Kapal Pinisinya, yaitu “Tiba, Sebelum Berlayar”. Pertama kali mendengar kalimat ini, saya sedikit bingung dengan maksudnya. Filosofi ini pun dianalogikan lagi dengan kalimat yang berbeda tapi dengan substansi yang sama, yaitu “Selesai, Sebelum Memulai”.

Ternyata sahabat, banyak hikmah dari filosofi ini. Yang saya tangkap secara tersirat dari penjelasan bunda Marwah, bahwa filosofi ini dipakai para pelaut kapal Pinisi dulu. Mereka bisa mengarungi samudera di dunia ini karena mereka sudah merencanakannya dengan matang. Impian untuk bisa mengelilingi dunia, dengan kapal layar, bisa tercapai juga. Ya, ternyata memang wajar mereka bisa, karena memang jalur untuk ekspedisi mengelilingi dunia sudah dipetakan dengan baik dan rinci.

Ini akan saya kaitkan dengan yang namanya IMPIAN, kata yang bisa membangkitkan semangat hidup, termasuk untuk kalangan muda.

Saya yakin-seyakinnya, semua dari kita punya mimpi yang tentunya itu menjadi bagian dari keinginan kita. Sedikit atau banyak. Jelas atau abstrak. Untuk waktu dekat atau jangka panjang. Bermacam-macam. Tapi sudahkah kita menulis impian-impian itu? Saya yakin tidak banyak orang yang sudah menuliskannya. Kapasitas memori otak manusia memang unlimited, dan bisa di-upgrade. Tapi sayangnya, proses pengaksesan data dalam otak itu yang kemudian perlu tenaga berpikir untuk melakukannya. Maka, bersyukurlah Islam pun mengajarkan budaya menulis dengan banyaknya para da’i yang kitabnya dituliskan atau dibukukan. Karena memang, ikatlah ilmu itu dengan tulisan.

Nah, bagi yang sudah menulis mimpinya (saya termasuk di dalamnya),  sudahkah mimpi itu dirinci, seperti apa, kapan, dimana, bagaimana, dan dengan siapa? Jika memang kesulitan, maka minimal kita bisa merincikan “Kapan”. Walaupun ini saja sudah cukup sulit. Mengapa “kapan”? karena waktulah yang paling mahal di antara semua. Salah satu nikmat yang sering dilalaikan manusia selain nikmat kesehatan, adalah nikmat waktu luang. Hal inilah yang kemudian mewajibkan kenapa mimpi itu minimal harus bisa dirinci.

Setelah tahu maunya kita kapan mimpi itu terwujud, mimpi yang paling utama atau paling prioritas atau paling kita inginkan sudah sepatutnya untuk kita rincikan. Tarik alurnya ke belakang, dan rincikan alur-alur untuk menempuh mimpi itu hingga bisa tercapai.

Banyak orang disekitar kita yang berhasil karena dengan kekuatan mimpinya. Tapi coretan ini akan berbicara tentang kondisi masa muda sekarang terkait mimpinya.

Mahasiswa menjadi peran dalam masyarakat Indonesia yang jumlahnya seingat saya hanya sekitar 2% dari jumlah seluruh penduduk di Indonesia. Lantas, berapa sarjana yang menganggur? Di pelatihan MHMMD kemarin saya lupa mencatat berapa banyak untuk datanya, tapi saya yakin, yang kita rasakan di lingkungan sekitar kita pasti kita bisa menjawab “banyak” dari pertanyaan ini. Sampai ada bahan guyonnya, “Semakin sering acara wisuda, semakin bertambah banyak lagi Sarjana yang nganggur”. Hiks hiks hiks, sedihnya, saya berniat dari sekarang nih, walaupun belum wisuda, saya tidak boleh jadi sarjana pengangguran J

Nah, terkait dengan mimpi dan mahasiswa ini, korelasinya adalah berapa banyak mahasiswa yang sudah bermimpi menjadi “orang yang bekerja dan bisa menghasilkan duit sendiri”? Katanya sih ini impian standarnya semua mahasiswa, tapi sudahkah mahasiswa tersebut mendefinisikan kerja bagaimana yang dia akan lakukan nantinya? Di sinilah hadir kekuatan mimpi itu, bahwa cita-cita yang merupakan bagian dari mimpi kita, akan mampu menggerakkan diri kita tatkala cita-cita tersebut bisa kita definisikan hingga kita paham apa yang harus kita lakukan, tidak berpendapat seperti ini “Ya..seadanya sajalah, saya juga tidak bisa melakukan banyak hal”.

Mustahil, susah, tidak bisa, bla bla bla..mungkin orang akan berpendapat seperti itu, tapi apakah kita sudah mencobanya? Mencoba untuk mendefinisikan mimpi kita, minimal satu mimpi yang paling kita inginkan.

Belajar dari pengalaman bunda Marwah, beliau bisa menyelesaikan program doktor di Amerika dengan baik dan menjadi lulusan kedua tercepat seangkatannya, padahal ada dari berbagai negara yang menjadi teman seangkatan beliau, India, Israel, dan lain-lain. Ternyata, saat di tengah tahun pertama bunda sudah menyusun peta navigasi apa yang harus bunda kerjakan selama kuliah S3 ini, setelah sebelumnya bunda sempat dikhawatirkan tidak bisa fokus kuliah dikarenakan kondisinya saat itu yang sedang mengandung anak pertama. Karena tekad bulat, bunda berjanji dan berusaha untuk bisa.

Ya, layaknya seorang pilot, bunda menyusun arah kerja untuk kuliahnya dari waktu ke waktu hingga tahun lulus. Kapan ujian semester, kapan kerjakan jurnal, kapan baca buku, kapan konsultasi ke dosen, kapan mulai menyusun disertasi, dan kapan harus lulus itu semua sudah dipetakan oleh bunda pada saat itu. Hal inilah yang membuat bunda tidak khawatir walaupun ditengah kondisi hamil pertama, bunda tetap bisa menjalankan kuliahnya dengan baik. Subhanallah, dan rencana dalam peta itu pun berjalan sesuai dengan rencana. Yang luar biasanya lagi, di semester akhir, bunda menempuh dengan kondisi hamil anak kedua.

Tidak ada bedanya kan dengan kapal Pinisi tadi. Kebutuhan akan jarak jauh untuk berlayar dan daerah mana saja yang harus dilewati, membuat kapal Pinisi pun dibuat dari bahan dan alat yang luar biasa di zamannya. Hampir semua terbuat dari kayu tapi memiliki kekuatan yang luar biasa dan sanggup bertahun-tahun untuk mengarungi Samudera.

Tiba sebelum berlayar, selesai sebelum memulai. Filosofi ini ingin saya ingatkan buat diri saya dan sahabat semua. Memperbaiki apa-apa yang sudah kita lewati dengan mempelajarinya lalu melengkapinya, kemudian merencanakan dengan matang apa yang akan kita lakukan di masa depan. Buatlah peta navigasi yang baik dari sekarang, karena mimpi butuh peta navigasi untuk mengarahkannya agar sampai dengan selamat di tujuan.

Janganlah men-judge diri untuk hidup seperti air mengalir saja. Padahal sejatinya air pun punya tujuan, punya mimpi, punya muara, yaitu dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah, yang kita kenal dengan sebutan laut. Apakah air mengalir seperti ini yang dimaksud?

Hmmm, sederhana sekali filosofi ini apalagi dibalut coretan kecil dari saya ini, tapi semoga coretan ini bisa memperberat amal saya nantinya di Hari Perhitungan. Semangat saudaraku, semoga semuanya bisa kita jalani dengan khusnul khotimah. Amin ya Rabb J

Hadanallahu wa’iyyakum ajma’in.

 

Malang dengan lantunan adzan dhuhur,

24 Januari 2011 11:48 WIB

 

One thought on “Selesai, Sebelum Memulai, Ternyata Itu Bisa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s