berhenti sejenak… “untuk mereka yang lelah”

by Sarrah ‘septy Dhe’ Dzakiyyah (saudari dari Universitas Paramadina)

 

Aku Lelah!!! Kuusap wajahku dengan kedua tanganku. Kuhapus sisa-sisa air mata yang membasahi pipi. Tak segera aku bangkit dari sujud panjangku. Hanya diam dan termenung ditemani kedua malaikat pencatat amalku, disaksikan oleh makhluk-makhluk ALLAH Azza wa Jalla, dan tentunya oleh Rabbku..

Lelah. Penat. Capai. Ketiga kata itu tak cukup menggambarkan kondisiku beberapa hari ini. Muak. Kesal. Hampa. Ketiga kata itupun tak cukup untuk menggambarkan kondisi hatiku belakangan ini.

agenda,amanah,dan kerja lagi. Hanya itu yang dituntut dari diriku. Seperti kuli! Tak ubahnya seperti buruh.. Bahkan mungkin lebih rendah. Kuli dan buruh punya waktu untuk menghela nafas dan diperhatikan haknya. Bahkan ada undang-undang penetapan UMR.. Aku? Digaji pun tidak. Jangankan uang sepeser yang kudapat, sudah cukup uang yang aku keluarkan selama ini.

Ukhuwah. Mana ukhuwah yang selalu digembar-gemborkan oleh orang-orang yang diberi label aktivis, label yang sama seperti diriku sandang? Hubungan yang terbina hanya hubungan kerja. Tak lebih! Siapa yang mau tahu masalahku? Mereka bilang ukhuwah itu saling, saling memberi dan menerima. Tapi…mana buktinya? Berapa pulsa yang kuhabiskan untuk mengabari mereka tentang masalahku, hanya segelintir orang yang membalas. Aah…b***** *t! Hanya ketika perlu mereka menghubungiku, ketika aku perlu? Aku sendiri akhirnya yang harus menjalaninya, menangis sendiri, tak ada yang membantuku membawa beban ini. Tak ada.

Pikiranku kembali memutar percakapan aku dan kedua orang saudariku. Ketika aku mewacanakan siapa yang akan menggantikan diriku jika aku harus pergi. Keduanya enggan. Ingin memperbaiki hidup dan mempersiapkan masa depan jawab mereka. Tak bolehkah kami melakukan itu? Bukan untuk kami Insya Allah.

Mungkin jamaah sama seperti dunia kedokteran. Tidak mengenal kata hak dokter dan kewajiban pasien. Yang ada hanyalah hak pasien dan kewajiban dokter. Ya…di jamaah ini yang penting amanah terlaksana, tidak menghambat. Mungkin enak menjadi manusia yang bisa dengan mudahnya mengatakan mundur dari gerakan ini, bisa mengerjakan apa yang dimau. Aah..ukhti, jika aku bisa aku pun ingin meraih mimpi, belajar ilmu kedokteran sebanyak mungkin lalu lulus dan menjadi dokter yang berguna bagi umat.. Tapi tidak. Pilihan itu tidak pernah ada dihadapanku. Tidak ada yang menjamin aku akan menjadi dokter yang berguna kelak jika aku hanya belajar.

Pikiranku melayang membayangkan kondisiku belakangan ini. Betapa buruknya. Kulihat lembar amal yaumi’anku. Hanya beberapa kewajiban yang aku penuhi. Tak terasa air mataku kembali mengalir. Aah…ya Rabb, inikah orang yang sebut sebagai aktivis? Orang yang kau beri gelar Khoiru Ummah? Orang yang tidak berdaya begitu Kau tinggalkan, tapi masih saja congkak meninggalkan diri-Mu. Dan menyalahkan orang disekitarnya atas kehampaan diri.. Ahh…betapa rendahnya.

Kulihat meja belajarku. Masih tergeletak buku Profil Kader, buku yang mesti aku buat referensinya . Tak ada jadwal match. Tersadar betapa kata aktivis begitu berat. Tersadar gelar kader begitu tak pantas aku sandang. Bahkan standar kader minimal pun belum bisa kulampaui.

Di saat kondisiku yang begitu buruk, ALLAH Azza wa Jalla masih berbaik hati membangkitkan jiwa pejuang dalam diri prajurit kecil ini. Kabar tentang kekalahan di beberapa daerah yang menggelar pilkada. Kabar tentang kealpaan seorang kader yang telah menjadi sorotan publik. Kabar tentang mundurnya beberapa rekanku menampar diri ini. ”Mau seperti mereka?”.

Tamparan itu terasa begitu keras. Pedih. Mas’ulku di satu wajihah beberapa tahun yang lalu, pergi memilih jalan lain. Kakak kelasku menyatakan selamat tinggal, karena langkahnya ”dijegal”. Tak terhitung berapa banyak saudaraku berhenti dengan alasan ingin memperbaiki akademisnya tapi kemudian tenggelam dalam hidup duniawi. Bahkan kabar seorang saudariku di fakultas lain menyatakan berhenti dari dakwah yang ia usung sejak SMP hanya karena ia berpacaran dengan seorang Nasoro. Na’udzubillah. Jangan jadikan aku salah seorang diantara mereka ya Rabb.

Teringat perkataan Imam Syahid Hasan Al Banna, ” Dunia adalah tempat untuk bekerja. Karena kita kan beristirahat di surga.”. Berkelebat perkataan seorang saudara, ”Jika antum tidak ingin sibuk. Sok mangga, keluar dari jalan ini. Jika antum tidak ingin lelah. Silakan meninggalkan jalan ini. Karena jalan ini tidak membutuhkan antum, tapi antumlah yang membutuhkan jalan ini.”.

Berkelebat bayangan saudara-saudaraku di negeri para nabi, Palestina. Tak hanya mereka, saudaraku di Irak, Cechnya, Moro, dan tempat lainnya rela memberikan harta, raga bahkan jiwanya untuk ditukarkan dengan surga. Sedangkan diriku? Berapa banyak harta yang telah aku gunakan untuk berjuang di jalan ini? Adakah raga terluka, darah menetes selama ini? Tak sebanding!

Bahkan Umar r.a. berkata ”Jika hanya ada seorang yang akan mengusung dakwah ini, maka akulah orangnya.”. Sedangkan aku? Sudah sunnatullah jalan ini begitu berat, penuh rintangan, maka hanya orang-orang terpilihlah yang Ia izinkan ada di jalan ini. Sudah digariskan perjuangan itu pahit, karena surga itu manis.

Kuraih hape-ku. Kubuka inboxnya, kucari sebuah pesan dari saudaraku, pesan yang selalu mengingatkanku, ”Sungguh! Jamaah ini besar dan kokoh karena keikhlasan dan mujahadah para muassis kita. Mereka bak cahaya yang menyinari semesta. Akankah cahaya itu padam karena kemaksiatan kita? Tanyakan pada hatimu…”

Kembali aku tersungkur, pundakku bergetar, air mata kembali mengalir menyadari kealpaan diri. Picik! Sombong! Angkuh! Tak ada kata yang tepat untuk menggambarkan diriku saat ini.

Ya Rabb…izinkan kami tetap berjuang di jalan-Mu ya Rabb. Jangan jadikan kami manusia-manusia yang tergantikan, manusia-manusia yang Engkau gantikan dengan manusia-manusia yang lebih baik. Bantu kami untuk tetap ikhlas Ya Rabb, agar yang kami lakukan tidak menjadi kesia-siaan. Ampuni kami Ya Rabb. Mungkin karena kamilah dakwah ini lemah. Mungkin karena kemaksiatan dan kesalahan yang kami lakukanlah Engkau tunda kemenangan dakwah. Mungkin karena kesombongan dan kepicikan kami saudaraku mundur dan pergi dari jalan ini. Ampuni kami Ya Rabb. Sungguh! Engkau tidak pernah membutuhkan kami, kamilah yang membutuhkan Engkau. Jadi jangan pernah tinggalkan kami Ya Rabb. Amin.

Wallahu’alam.

 

 

 

2 thoughts on “berhenti sejenak… “untuk mereka yang lelah”

    • wa’alaykumsalam wr wb ukhti
      wah, ternyata ada secreet admirer ane ni di FB, hohoho..
      hehe,, guyyon ukhti..
      alhamdulillah jika blog ini bisa bermanfaat buat anti..
      dan semoga bisa untuk semuanya juga..
      saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran ukhti..
      ana tunggu juga tulisan2 anti, oh ya, kalo bisa di tag di FB ane juga tulisan2 anti🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s