Kapan Aku Bisa Jadi MR (Murabbi) ?

(Catatan hati yang lama tapi baru diposting, tak berarti usang kan?!)

Mungkin ini adalah pertanyaan yang pernah terlintas di hati kita, dulu ataupun sekarang. Banyak orang yang bertanya pada dirinya sendiri dengan pertanyaan ini, sebab hampir semua orang berpikir bahwa menjadi seorang MR haruslah perfect, banyak hal yang dia ketahui, cerdas, pandai memanajemen waktu, komunikatif, dll. Ya, kurang lebih saya sepakat dengan ini, tapi semua itu ada tahapan pembelajarannya. Tidak mungkin setiap MR memperoleh kemampuan itu semua dalam waktu yang singkat dan itu pula yang saya rasakan. Hanya dengan modal semangat belajar, para da’i pasti akan bersungguh-sungguh dalam menaikkan kapasitas dirinya, sekali lagi, untuk tujuan pengembangan potensi berdakwah.

Biasanya, di kampus, da’i memulai pembelajarannya menjadi seorang Mentor. Belajar membina generasi penerusnya. Sedihnya, masih banyak da’i yang tidak mau ataupun tidak berani menjadi Mentor, hanya dengan alasan belum siap, belum mampu, dll. Saya juga pernah beralasan seperti itu ketika di awal-awal saya menolak jadi Mentor, tetapi Alhamdulillah, Allah memberikan petunjuk kepada saya melalui nasehat seorang akhwat. Beliau berkata bahwa siapa lagi yang akan membina generasi penerus ini kalau bukan kita. Apakah kita rela melihat teman-teman seperjuangan kita membina dengan peluh keringat, namun kita hanya santai-santai saja, hanya sibuk memikirkan kapasitas diri sendiri?

Alhasil, pikiran ini pun terbuka, dan Alhamdulillah saya bisa menjadi Mentor di tahun kedua, tanpa ditemani seorang Astor(Asisten Mentor). Pada awalnya, Mentoring belum berjalan kondusif, ya kadang Mentee konfirmasi, kadang juga dicuekin. Saya pun melalui masa-masa ini dengan sabar, walaupun tak jarang juga jumud dan ingin mengundurkan diri saja untuk jadi Mentor.

Satu semester telah berjalan, Alhamdulillah, mereka, para mentee, mau melanjutkan Mentoring di semester berikutnya. Perjalanan yang cukup melelahkan juga dirasakan di semester yang kedua. Tapi itu tak menyurutkan langkahku. Saya semakin mengerti kenapa saya membutuhkan (bukan dibutuhkan) menjadi seorang Mentor. Karena dengan belajar jadi Mentor, kemauan saya untuk menuntut ilmu semakin tinggi. Jika setan sedang menggoda saya untuk malas bermajelis ilmu dan malas untuk menjalankan amanah-amanah, sisi hati yang baik selalu mengatakan, “Pit, kamu sudah jadi Mentor, tidak boleh seperti itu”. Akhirnya malas pun hilang, tapi juga beberapa kali tetap malas juga, hehe.

Tak terasa 1 tahun Mentoring itu sudah berjalan. Saya sudah masuk di tahun ketiga, dan para Mentee masuk di tahun kedua. Apakah Mentoring itu berhenti? Alhamdulillah, hati saya gelisah karena belum juga menjadi MR dan belum juga membina sebuah halaqoh, padahal sudah masuk di tahun ketiga kuliah (bisa dibilang sudah tua lah). Apakah saya hanya menunggu diberikan forum binaan? Tidak, saya harus mandiri, tidak boleh mengharap untuk diberi, tapi harus mencari, mana objek dakwah yang harus dibina. Akhirnya saya memutuskan untuk mencoba menawari adik-adik Mentee (walaupun ada Mentee yang lebih tua umurnya dari saya, hehe) untuk melanjutkan lagi Mentoring ini menjadi forum Halaqoh.

4 orang masih bertahan. Ah, masih kurang ternyata untuk forum selevel halaqoh, pikirku. Akhirnya ku mencari dan Alhamdulillah mendapat 3 orang baru. 3 orang ini memang sudah pernah ikut mentoring juga. 2 memang masih lanjut, dan satunya tidak. Yang 2 orang saya minta ijin ke Mentornya untuk gabung di Halaqoh saya, karena amanah 2 orang ini dekat dengan amanah saya dan 1 orangnya lagi saya ajak untuk lanjut ke Halaqoh walaupun dia berasal dari Mentoring yang tidak dengan saya sebelumnya. 7 orang, Alhamdulillah, lumayan.

Perjuangan belum berakhir, di tengah perjalanan. 2 orang ternyata tidak aktif, susah sekali untuk diajak halaqoh, alasannya sibuk, tugas, ini itu, dll. Ya, hanya bisa sabar saja. Tapi lama kelamaan saya jadi berpikir bahwa Halaqoh ini menjadi tidak sehat. Akhirnya ku memutuskan untuk melepas 2 orang ini. Yah…tinggal 5 nih, gak apa-apalah, yang penting bisa berjalan dengan sehat.

Waktu demi waktu, tak terasa lagi, sudah 1 semester berjalan Halaqoh ini. Namun, Allah membukakan jalan untukku. Satu orang yang sebenarnya dekat denganku, namun tidak terlalu kuperhatikan, ternyata dia mau untuk diajak Halaqoh. Wuih, senangnya, bertambah 1 mad’u lagi, walaupun sebenarnya itu menambah beban tanggung jawab saya untuk semakin meningkatkan kapasitas menjadi MR.

Enam orang menjadi jumlah yang tak banyak, namun juga tak sedikit. Tetapi, saya selalu bersyukur masih memiliki binaan, sehingga ilmu-ilmu yang saya dapatkan tidak saya tampung sendiri. Berat ukhti, akhi, jika ilmu-ilmu ini ditampung sendiri, karena yakinlah, kita tidak bisa mengaplikasikannya semua dalam satu waktu. Oleh karena itu, kewajiban kita terlebih dahulu adalah mentransfer ilmu itu kepada binaan kita, sehingga mereka juga bisa mengaplikasikan ilmu.

Ya…semoga halaqoh ini bisa istiqomah dan semoga Allah selalu menunjukkan jalan menempuh ilmu untuk saya, tidak hanya itu, perjuangan memang tidak akan pernah berakhir, halaqoh ini harus mempunyai halaqoh lagi, dan saya juga harus membentuk halaqoh-halaqoh baru di generasi berikut-berikutnya. Akankah waktu kurang lebih 1 tahun ini bisa menjawab perjuangan ini? Ya Rabb, semoga…

Cerita ini hanyalah untuk memotivasi saudara-saudariku agar tetap semangat membina. Bagi kamu yang baru menjadi Mentor, SEMANGAT! Jalan yang kau ambil ini insya Allah sudah benar. Bagi kamu yang sudah jadi Mentor, ayo, kapan jadi Murabbi? Apalagi buat kamu yang sudah di tahun-tahun terakhir, kesempatanmu semakin sempit untuk membina. Segeralah cari objek-objek dakwah. Yakinlah mereka haus akan kasih sayang Islam, haus akan ilmu-ilmu Allah. Membina satu ataupun dua, tidak masalah, yang penting istiqomah dan konsisten. Insya Allah, Allah akan membukakan jalan untukmu untuk bisa menambah mad’u lagi.

Yang perlu kita ingat, akhi, ukhti, membina di kampus dan membina di pasca kampus atau di lingkungan masyarakat sangat jauh berbeda. Kata seorang akhwat, mudah sekali membina di kampus, lingkupnya kecil, orang yang bertemu dengan kita pun itu-itu saja. Namun, kalau di masyarakat? Saya yakin sudah bisa dijawab sendiri-sendiri.

So, SEMANGAT akhi, ukhti..jangan tunggu diberi, tapi kita harus mencari…kesalehan pribadi ini harus segera menjadi kesalehan sosial…!!!

26 Ramadhan 1431 H

(Sepi, sudah pada mudik nih…)

One thought on “Kapan Aku Bisa Jadi MR (Murabbi) ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s