Istimewakah Ramadhan kita kali ini?

Bismillahirrahmanirrahim

Saudaraku seiman, sambutlah seruan dariku, Salam yang menyejukkan hati sesejuk telaga Kautsar, Salam yang mempersatukan umat Muslimin, Salam para malaikat kepada para penghuni surga, Salam yang selalu membawa berkah buat kita semua, sambutlah seruanku dengan jiwa yang penuh semangat,

Assalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh

Alhamdulillahilladzi arsala rasulahu bil huda wa dinil haq liyuzhirahu ‘aladdini kulihi wa kafa billahi syahida

Alhamdulillah, hari demi hari, Ramadhan masih setia menemani kita. Tak terasa, Ramadhan ke-17 telah mengunjungi kita, namun sebagai orang yang dikunjungi, apa saja yang sudah kita lakukan bersamanya? Dalam QS Al Ahzab : 21

Belajar dari hidup Rasulullah SAW, bagaimana rentetan peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di bulan Ramadhan selama beliau hidup. Diawali dengan peristiwa turunnya wahyu pertama QS Al ‘Alaq:1-5 yang menurut hadits shahih riwayat Ahmad dan Thabrani diturunkan pada hari ke-24 Ramadhan. Pertemuan pertama kali dengan Malaikat Jibril ini telah meninggalkan kesan yang mendalam di hati Nabi Muhammad SAW.

Pada bulan Ramadhan, orang-orang terdekat Rasulullah pergi meninggalkan beliau. Di bulan Ramadhan tahun ke-10 dari kerasulan Muhammad SAW, istri pertama beliau, sang Ummu Al-Mukminin beranjak meninggalkan dunia. Khadijah pergi menuju Tuhannya setelah berjuang bersama suaminya selama 10 tahun. Pada masa itulah beban-beban Rasulullah SAW mencapai titik klimaksnya sehingga waktu itu dinamakan Tahun Kesedihan (Am Al-Huzn), sebab pada tahun itu pula paman terkasihnya, Abu Thalib meninggal dunia dan hanya selisih 3 hari sebelum Khadijah meninggal. Istri Rasulullah lainnya, Zainab binti Khudzaimah yang terkenal dengan sebutan Ummu Al-Masakin, ibu orang-orang miskin, juga meninggal di bulan Ramadhan. Anak beliau,Ruqayyah binti Rasulullah SAW, istri Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu, meninggal dunia di bulan Ramadhan tanpa melihat ayahnya yang ketika itu sedang berada di medan perang Badar. Tak hanya itu, Ibrahim bin Rasulullah SAW, juga meninggal di bulan Ramadhan. Berita duka silih berganti dengan berita suka. Pada tahun ke-3 Hijriyah, lahirlah Sayyidina Hasan bin Ali, cucu pertama Rasulullah SAW. Beliau diangkat menjadi khalifah menggantikan ayahnya setelah khalifah keempat tersebut terbunuh dan melaksanakan amanat itu selama 6 bulan.

Peperangan-peperangan yang dilalui kaum muslimin bersama Rasulullah SAW mengalami banyak kemenangan di bulan Ramadhan, tepatnya pada 9 tahun terakhir dari kehidupan Rasulullah SAW.

Tahun ke-2 Hijriyah adalah Am Al-Qital, tahun diizinkannya kaum Muslimin berperang dan mengangkat senjata. 17 Ramadhan pada tahun tersebut, terjadi peristiwa besar yang mempertemukan golongan muslimin dan musyrikin dalam satu pertempuran yang dikenal dengan nama Perang Badar. Peristiwa ini diakhiri dengan kemenangan muslimin serta matinya pemimpin kaum Musyrikin, Abu Jahal. Namun di sisi lain, 14 sahabat syahid di pertempuran ini.

Perang Khandaq pada Ramadhan 5 Hijriyah, Am Az-Zalzalah, tahun kegoncangan, di mana saat itu kaum muslimin menjadi common enemy, melawan orang-orang musyrik, orang Yahudi Madinah, serta orang Munafik dari berbagai kabilah Arab. Namun, ide brilian Salman Al-Farisi menjadikan sebuah solusi strategis hingga akhirnya perang ini berujung dengan kemenangan.

Perang Rasulullah lainnya, Perang Uhud, walaupun terjadi di 6 hari pertama bulan Syawal, permulaan dan persiapan pertempuran berlangsung sejak bulan Ramadhan tahun ke-3 Hijriyah. Diawali dengan pengerahan upaya, penghimpunan kekuatan, pergerakan yang cepat, dan pengangkutan peralatan perang menuju area pertempuran. Di akhir pertempuran, kita tahu semua bahwa kemenangan itu sebenarnya sudah ada di depan mata, namun ulah kaum munafik yang tidak mematuhi Rasulullah SAW mengakibatkan petempuran ini berujung pada kekalahan. Rasulullah SAW juga merasa sedih dengan meninggalnya Hamzah bin Abdul Muthalib, paman beliau yang sangat berjasa dalam tegaknya dakwah Islam.

Peristiwa Fathul Makkah, 10 Ramadhan 8 Hijriyah, Am Al-Fath, tahun pembukaan, yang sangat dibanggakan kaum muslimin dimana orang-orang memeluk agama Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan berbondong-bondong sebagaimana dalam firman Allah (QS An Nasr : 1-3)

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima Taubat.

Begitulah kisah Ramadhan bersama Rasulullah SAW, ada peristiwa yang membahagiakan dan ada pula yang menyakitkan dan menyedihkan. Dari peristiwa-peristiwa penting tersebut, Allah Subhanahu wa ta’ala seakan-akan tidak membiarkan Rasulullah menjalani Ramadhannya tanpa ada keistimewaan di dalamnya, bashiroh wa nadziroh, baik berupa kabar gembira maupun peringatan, baik berupa nikmat maupun cobaan. Semuanya dijalani Rasulullah, keluarga, dan sahabatnya dengan keimanan yang kuat.

Lantas, bagaimanakah dengan kita, apakah Ramadhan adalah sesuatu yang istimewa bagi kita? Ataukah dia sama saja dengan 11 bulan lainnya. Padahal amat rugi jika Ramadhan hanya kita lewati dengan biasa-biasa saja, karena 1 keistimewaan luar biasa di bulan Ramadhan, sebagaimana hadits qudsi Rasulullah SAW, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah SAW bersabda,

“Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ’Setiap amal (ibadah) bani Adam adalah untuknya, kecuali puasa hanya untuk-Ku dan Akulah yang langsung membalasnya’.” (HR Bukhari – Muslim).

Hadits tersebut menguatkan firman Allah Subhanahu wa ta’ala (QS Al Baqarah : 186)

Menurut Sayyid Quthb dalam Tafsir Zhilalil Qur’an, ayat ini menjadi isyarat mengagumkan terhadap kedalaman jiwa dan relung-relung hati. Kita dapati suatu pergantian yang sempurna dan menyenangkan di balik beratnya puasa itu, kita dapati pembalasan segera atas kepatuhan kepada Allah itu. Kita dapati penggantian dan pembalasan itu pada kedekatan kepada Allah dan pengabulan-Nya terhadap doa. Betapa lembut, halus, sayang, ramah, dan akrabnya firman ini. Di bawah naungan keramahan yang penuh kecintaan, di bawah kedekatan yang penuh kasih sayang, dan di bawah pengabulan doa yang mengesankan ini, Allah mengarahkan hamba-hambaNya agar memenuhi segala perintah-Nya dan beriman kepada-Nya, sehingga kita selalu terbimbing ke jalan yang lurus. Kalau saja dosa-dosa kita tidak diampuni di bulan yang penuh rahmat ini, maka di bulan mana lagi dosa kita akan diampuni, karena peluang untuk diampuni di bulan yang lain pun akan lebih kecil dibandingkan peluang di bulan Ramadhan ini.

Ramadhan, di bulan ini kaum Muslimin bagaikan satu keluarga. Mereka makan pada waktu yang bersamaan dan menjauhi makanan tersebut pada waktu yang bersamaan pula. Tak ada yang dapat menghalangi datangnya Ramadhan di tengah-tengah kita meski satu di antara kita telah beranjak meninggalkan dunia ini. Inilah salah satu bentuk kasih sayang Allah dengan menghadirkan Ramadhan pada kita. Ramadhan selalu di hati, Ramadhan selalu di nanti, semoga perasaan ini selalu bersemayam di jiwa kita sehingga Ramadhan menjadi suatu keistimewaan sebagai waktu untuk sarana memperbaiki diri kita, tahap demi tahap. Sebab jika Ramadhan telah menjadi keistimewaan bagi kita, saya yakin, keikhlasan dan semangat beramal di bulan ini pun akan semakin tinggi. Amin Allahumma Amin. J

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s