Diary-ku Selama Istirahatku

Ya, akhirnya ku bisa juga pulang ke kampung kelahiranku, Kediri, yang sebelumnya saya sendiri bingung kapan bisa pulang dikarenakan aktivitas di kampus. Namun dengan “sedikit” keberanian meninggalkan amanah sementara waktu serta permintaan khusus dari keluarga, ahad 3 Agustus 2008 kemarin saya pun pulang bersama kakak dengan bis untuk pertama kalinya. Ya, saya sama sekali tidak tahu nanti turun di mana dan gimana caranya sampai di rumah sana, kakaklah yang tahu semuanya. Walaupun saya sempat “berdebat” kecil pada beliau untuk bersikeras naik kereta api ke sana, yang sudah pernah saya alami.

Selama perjalanan, kepala saya sangat sakit, pusing dengan medan perjalanan yang berliku-liku. Berdua dengan kakak, saya duduk tepat di belakang supir. Di samping kiri supir, ada seorang yang tua lengkap dengan pakaian taqwanya serba coklat muda dan seorang yang tua pula namun hanya mengenakan pakaian biasa. Hmmm, saya cukup kagum dengan kakek yang pakai baju taqwa itu. Bawaannya sangat tenang dan bersahaja. Pikir saya, beliau adalah salah satu kader dakwah. Dua kakek itu senantiasa bercerita sepanjang perjalanan.

Ketika di tengah perjalanan, kalau tidak salah di daerah Malang Selatan, kakek yang tidak berbaju taqwa, meminta izin kepada supir untuk berhenti karena beliau mau buang air kecil (bak). Saya pikir pak supir akan menurunkannya di rumah penduduk ataukah persinggahan yang memiliki kamar mandi. Ternyata tidak, beliau dipersilakan turun di pinggir jalan untuk bak di sana. Astaghfirullah, tindakan macam apa ini. Tidak hanya itu, dominan orang di bis pun menertawai dan mengejek beliau, termasuk supir. Ada yang bilang, ”selak ngompol”(keburu ngompol), ”ora isin ta?”(tidak malu ta), dll. Lebih kagetnya, kakek yang berbaju taqwa itu pun juga ikut menertawai beliau. Ya Allah, hilanglah kekaguman saya sejak tadi pada kakek berbaju taqwa itu, terlebih ketika beliau mengisap sebuah rokok, yang notabenenya kader dakwah menganggap itu adalah suatu yang haram. Ternyata pandangan saya salah. Don’t judge the book by the cover, lagi-lagi kecerobohan saya. Kakek yang meminta izin tadi pun telah selesai dan beliaupun naik bis. Saya tahu betapa malu perasaannya akan tanggapan orang-orang yang mungkin tidak didengarnya tapi tetap dirasakannya.

Hmm, tak terasa sudah sampai di Kediri yang diawali dengan daerah Pare. Tidak lama, kernet bis menegur kakak saya bahwa sudah sampai. Sebelumnya memang kakak saya sudah menyampaikan akan turun di daerah Sukorejo Gurah. Kami berduapun sudah berdiri di depan pintu dekat kernet untuk bersiap turun. Akan tetapi, sebelum turun, kernetpun bertanya lagi, kami turun di Tulungrejo atau Gurah, ya kami jawab Gurah. Eh, kernetpun mengatakan kalau itu masih jauh. Gedubrak, aneh, kami pun merasa dipermainkan dan akhirnya sangat kelihatan sekali kalau kami masih baru dan belum hapal jalan. Kakak pun juga merasa aneh karena dia sebelumnya sudah memberitahukan dengan jelas tempat kami turun di mana. Ya, akhirnya kami pun dengan wajah yang sedikit malu, duduk di dekat pintu keluar.

Akhirnya, sampai juga di perempatan Gurah, Papahadi, kakak bunda yang tertua sudah siap menunggu kedatangan kami. Lalu kami berdua pulang ke Klanderan, desaku tercinta, naik becak motor yang telah dibayari Papahadi sedangkan beliau pulang ke rumahnya di Kunir.

Wah, pengalaman pertama naik becak yang pakai mesin. Asyik dan nyaman juga walaupun sepanjang perjalanan dari Gurah lalu memasuki desa Sugihwaras hingga Klanderan, banyak mata yang melihat kami selama perjalanan. Isin juga lah… Namun, di depan Lapangan Klanderan, becaknya mogok, mesinnya tidak mau jalan, sehingga pak becaknya mendorong kami menuju rumah warga terdekat yang menjual bensin. Dan alhamdulillah becaknya bisa jalan lagi.

Awalnya sih saya merasa biasa saja dengan kejadian tadi, tapi ketika esok harinya di rumah saat bertemu dengan Papahadi, saya dan kakak bercerita tentang itu. Papahadi dan Mama Bas, kakak perempuan bunda, sedikit menyesal akan tindakan kami berdua. Kami tetap saja naik becak tersebut ketika becaknya mogok dan membiarkan begitu saja pak becak mendorong becaknya dengan sekuat tenaga. Mereka bertanya di mana rasa kasihan kami. Ya Allah, sayapun tertunduk malu dengan diri saya sendiri, di mana ilmu-ilmu yang telah saya pelajari, di mana rasa toleransi dan tolong-menolong saya pada saat itu, kenapa hati saya buta ketika itu… Kecapekanlah yang mungkin membuat saya seperti itu, tapi tetap, hal itu tidak bisa dijadikan alasan…Ya Allah, berilah kelapangan rizki buat pak Becak itu, hanya doa yang bisa saya berikan untuk menembus kebodohan saya ini…

Sore hari itu juga, saya bersama Mama Bas nyekar(ziarah makam) ke kuburan Kong(ayah bunda), Ibu(ibu bunda), dan keluarga-keluarga yang satu tempat pemakaman. Saya sadar, prinsip saya untuk tidak pergi ke kuburan yang saya teguhkan selama di Kendari dulu dikarenakan adanya hadits yang melarang wanita untuk takziyah ke makam(walaupun hadits itu belum saya telusuri lebih lanjut lagi), sulit untuk saya pegang ketika sudah di Jawa. Saya terlihat begitu lemah dalam meneguhkan prinsip itu. Adat-adat ataupun cara berkunjung makam(menaburi bunga misalnya), saya belum tahu hukumnya di dalam agama ini seperti apa. Ya, ilmu saya masih kurang dan belum kaffah(semoga Allah meneguhkan semangatku untuk terus mencari ilmu-Nya).

Sepulang dari nyekar, di perjalanan, saya melihat begitu indahnya sang surya yang akan ditelan bumi. Indah sekali, mulai dari warna, bentuk, dan gerakannya…Allah memang Maha Indah dan Maha Sempurna akan segala ciptaan-Nya.

Oh ya, ada satu hal yang saya pertanyakan ketika di rumah Klanderan, yaitu adzan Dhuhur dan Ashar yang tidak dikumandangkan, hanya Maghrib, Isya’, dan Shubuh saja…Benar-benar saya tidak mendengarnya, sampai-sampai saya menunggu adzan dua waktu sholat itu. Sedih rasanya, karena dua ”panggilan resmi” dari Allah tidak berkumandang di telinga yang merindukan suara menyejukkan hati itu. Ya Allah, berilah peringatan kepada para muadzin di daerah sana untuk memperbaiki hal ini. Tapi semoga saja saya salah, dengan segala kekurangan, yang tidak mendengarnya.

Selama dua malam di Klanderan, saya lewati dengan mengerjakan tugas kepanitiaan Sie Acara PK2 Maba, memperbaiki juknis(petunjuk teknis) dan membuat juklak(petunjuk pelaksanaan) serta melengkapi tugas-tugas Maba yang akan diberikan nantinya. Ya, saat ini saya sedang bertugas di kepanitiaan tepatnya di seksi kegiatan yang cukup menentukan itu. Sebelumnya, saya minta maaf kepada teman-teman karena telah meninggalkan seorang ukhti berjuang sendiri di sana. Namun alhamdulillah saya tetap kontak dengan dia sesering mungkin terkait tugas ini.

Esok harinya, saya telah berencana untuk mengirimkan hasil kerja saya via e-mail untuk digunakan dalam penyusunan acara dalam rapat hari itu. Namun, saya mendapat kabar bahwa komsep acara sudah OK dan sepakat bahwa itu adalah rapat terakhir sebelum maju ke pihak fakultas. Ya, walaupun bisa dibilang kerja saya ”sia-sia”, tapi ada kelegaan di hati saya karena akhirnya konsep sudah selesai. Sempat ada salah fahim antara saya dengan ukhti karena hal ini.

Ketika di warnet, sayapun tetap mengirimkannya, siapa tahu ”masih” ada gunanya. Sekalian, saya menjemput kiriman dari seseorang yang sudah saya tunggu walaupun ternyata kiriman itu bukan yang saya maksud/inginkan sekarang.

Hmmm…cukup tegang membaca isi kiriman itu dan saya pun memberikan tanggapan balik ketika sudah menangkap garis besar dari isinya. Namun, saya berjanji insya Allah akan mengirimkan secepatnya jika sudah selesai membacanya.

Sepulangnya di rumah, saya membaca kembali satu per satu dengan seksama. Subhanallah isi dari kiriman itu, setiap kata yang tertulis begitu menusuk hingga yang bening dari mata jatuh di atas senyuman bibir yang tersimpul kecil. Begitu dalam saya meresapinya hingga benar saja, itu semua kebawa dalam pikiran saya. Ketika berada di Kunir, rumah Papahadi, pun saya selalu mengingat-ingat isinya.

Jujur, saya tidak sanggup membacanya lagi. Saya merasa under pressure. Saya tidak tahan lagi… Hingga akhirnya, dari hati saya keluar tanggapan yang sangat kacau. ”Jika bukan karena panggilan jiwa, saya tidak akan berdakwah hingga sejauh ini. Kalau memang ant tidak senang dan tidak ingin melihat nama saya ada dalam daftar kader dakwah, tafadhol(silakan), dengan besar hati dan segenap jiwa, saya siap melepaskan diri dari amanah-amanah saya. Sejujurnya, saya masih punya tanggungan objek dakwah yang paling penting dan utama, yang senantiasa saya kesampingkan dengan amanah-amanah saya, yaitu keluarga. Ant tidak pernah tahu bagaimana keadaan keluarga saya, bagaimana mereka, butuh maupun tidak, perlu suatu asupan dakwah untuk hidup mereka. Intinya, mereka kekurangan jiwa ke-islam-an dalam diri dan kehidupan mereka sehari-hari dan saya harus bisa secepatnya mengatasi tanggungan ini untuk mereka yang ada di Malang, Kediri, Kendari, dan Jakarta(ayah…di mana engkau berada…)”

Begitulah tanggapan yang ingin saya lontarkan di hadapannya. Namun, tidak, saya harus berpikir sejenak dulu untuk ini. Saya belum putuskan tanggapan yang terbaik seperti apa.

Insya Allah, besok(6 Agustus 2008) saya balik ke Malang dengan bis juga. Ah…kesibukan itu akan kembali menghampiri tuannya yang mengistirahatkan diri sementara waktu…Sekian diary ini, semoga saya bisa mengambil ibrah(pelajaran) setiap detik yang saya lewati dalam hidup ini…begitupun engkau pembaca yang budiman…

Note : Maafkan saya wahai pembaca yang budiman, jika tulisan ini aneh atau tidak dapat dimengerti, karena itulah keterbatasan saya…. ><

One thought on “Diary-ku Selama Istirahatku

  1. Assalammu’alaikum
    Subhanallah Luar Biasa
    Kayaknya kita sama-sama sibuk dengan persiapan MABA di kampus
    Kami di LDK AL ISLAM Polsri Palembang juga sedang mempersiapkan itu
    Semoga Tetap Semangat Di Jalan Ini
    Dan jangan lupakan keluarga, mereka juga menjadi tanggung jawab kita sebagai ladang dakwah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s