Memaknai dan Menyikapi ‘Kekalahan’

“Beramallah, maka Allah, Rasul, dan orang-orang beriman akan melihat amalanmu itu”

(QS. At Taubah : 105)

Selamat! Bahwa amal, pengorbanan, dan perjuangan antum dilihat oleh ALLAH SWT. Demikian juga Rasulullah dan kaum mukminin juga melihat apa yang telah antum kerjakan. Antum menjadi orang yang beruntung karena yang telah dipersembahkan akan mendapat balasan dari ALLAH. Rasulullah akan menjadi saksi dan kaum mukminin akan mencontoh apa yang telah antum tunaikan.

Tugas dan peran telah kita tunaikan. Berbagai ikhtiyar telah kita lakukan. Baik ikhtiyar maadi (materi) maupun ikhtiyar ma’nawi (spiritual). Apa yang menjadi otoritas kita -manusia- telah selesai. Sekarang, kita hadapakan pada otoritas ALLAH SWT. Manusia hanya berikhtiyar dan ALLAH yang menentukan. Tapi, meskipun taqdir ALLAH jauh dari yang kita harapkan, tetap saja keberuntungan diperoleh mereka yang telah beramal dan berkorban. Kekalahan adalah ketika tak sedikitpun ALLAH melihat amal-amal kita. Kekalahan itu adalah ketika Rasulullah tidak menyaksikan karya-karya kita. Kekalahan itu adalah ketika mukmin yang lain tidak bisa bercermin dari amal, pengorbanan, dan prestasi kita.

Cukuplah apa yang ada pada ALLAH, karena pada-Nya khazainu al samawati wal ardl (gudang langit dan gudang bumi). Inilah mauqif aqidi yang semestinya bersemayam dalam hati, sehingga kita tidak keliru dalam mengukur dan menyikapi kemenangan atau kekalahan.

Ikhwati fillah. Yang kita hadapi sekarang bagian dari sunnatullah. Sunnatu tadawul, hukum perputaran dan pergiliran. Perputaran kehidupan adalah ketentuan ALLAH. Perjalanan hidup ini bisa di atas atau di bawah. Bisa menang atau kalah. Bisa bertahan atau terjungkal. Bisa meraih atau tertinggal. Ini sunnatullah.

Ikhwah fillah, jangan berhenti hanya pada pemahaman atas sunnah pergiliran. Tantangan kita berikutnya adalah apa yang harus dilakukan dalam menghadapi perputaran itu. Apa sikap dan tindakan kita bila menang dan berada di posisi atas? Apa sikap dan tindakan kita bila ternyata kalah dan berada di posisi bawah? Bila hidup dan mati adalah ujian, maka menang dan kalah juga ujian. Yang lulus adalah mereka yang bisa bersikap secara tepat dan bertindak secara tepat pula dalam menghadapi kemenangan atau kekalahan itu. Sesungguhnya dalam sunnah pergiliran itu ALLAH ingin melihat siapa yang tetap beriman dan siapa yang menjadi syuhada. Siapa yang beriman ketika menang dan siapa yang tetap beriman meskipun kalah. Bagi ALLAH, yang dilihat bukan menang atau kalahnya, tapi siapakah yang berbuat, siapakah yang bekerja dan siapakah yang syahid?

Ikhwati fillah, dalam jihad perlu kewaspadaan, kesiagaan, dan kebersamaan. “Wahai orang-orang yang beriman bersiap-siaplah (secara waspada) kamu, dan majulah (ke medan pertempuran) berkelompok-kelompok, dan majulah bersama-sama.” (QS. An Nisa : 71). Kewaspadaan, kesiagaan, dan kebersamaan adalah kunci jihad. Maka, baik menang atau kalah, jangan sampai menghilangkan ruh kebersamaan itu. Bersama dalam jihad, bersama dalam mengisi kemenangan dan bersama merenungi kekalahan.

Semoga kita bukan termasuk yang digambarkan dalam ayat-Nya, “Dan sesungguhnya di antara kamu ada orang yang berlambat-lambat (ke medan pertempuran). Maka jika kamu ditimpa musibah ia berkata, ‘Sesungguhnya Tuhan telah menganugerahkan nikmat kepada saya kerena saya tidak ikut berperang bersama mereka.”

Dan sungguh jika kamu memperoleh karunia (kemenangan) dari ALLAH, tentulah dia mengatakan seolah-olah belum pernah ada hubungan kasih sayang antara kamu dengan dia : ‘Wahai kiranya saya ada bersama-sama mereka, tentu saya mendapat kemengan yang besar(pula).’ (QS. An Nisa : 72-73)

Jagalah kewaspadaan, jagalah kesiagaan, dan jagalah kebersamaan dalam menghadapi kekalahan.

Ikhwati fillah, sekali lagi ALLAH menguji kita.

Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. (QS. An Nahl:112)

Ayat 112 dari QS An Nahl ini berkaitan dengan orang kafir. Ketika berkaitan dengan orang kafir ALLAH tidak mengatakan bisyai-in min al-khouf…, tetapi libaasa al-juui wa al-khoufi…

Ketika ALLAH mengatakan kepada kaum Muslimin, ALLAH menggunakan bahasa yang berbeda, di mana ALLAH menggunakan kata bisyaiin, untuk menyedikitkan. Inilah bukti bahwa ujian yang diberikan ALLAH kepada seorang mukmin itu sebenarnya sangat sedikit. Dan sesungguhnya kekalahan ini hanya sedikit dan kecil, maka janganlah galau dan risau apalagi berputus asa, sebab keputusasaan itu bukan ciri kader-kader dakwah yang beriman.

Ikhwati fillah, ada cerita menarik tentang Imam Ahmad bin Hanbal dan seorang muridnya. Dengan hati yang gundah sang murid bertanya kepada Imam :

Ara ayta intishaa ralbaathili alaynaa ? Qaala : Kallaa maa laa zamal haqqu quluu banaa

Sang murid sudah begitu gusarnya akan kemenangan kebathilan atas kebenaran. Akan tetapi, sang Imam Ahlus-Sunnah Wal Jamaah itu dengan penuh yaqin menjawab : Tidak! Selama kebenaran itu tetap ada di dalam hati kita.

Sekarang masihkan al haq itu bersemayam dalam hati kita? Masihkah al haq itu menjadi pertanda perilaku kita. Masihkah masyarakat bersaksi bahwa kita masih menjaga dan berkomitmen pada al haq? Bila jawabannya : tidak, kalahlah kita. Bila kita berani menjawab : ya, maka kitalah pemenang yang sesungguhnya. Maka saudaraku, agar kita semua tidak merugi, mari kita menghidupkan saling berwasiat dalam al haq (kebenaran) agar kita tetap menang. Mari berwasiat dalam kesabaran, agar kita tetap mampu mempertahankan kewaspadaan dan kesiagaan. Dan mari saling berwasiat dalam al marhamah(kasih sayang) agar ukhuwah dan kebersamaan tetap terjaga.

Ikhwati fillah, kita sepakat bahwa kita dikatakan menang bila :

à Struktur organisasi partai dakwah ini bertambah

à Kader-kader dakwah ini solid, baik ruhiyah-maknawiyah maupun ukhuwah dan alaqatnya (hubungan dan komunikasinya)

à Dukungan masyarakat meluas

à Dan menang menjadi walikota

Semoga kita masih ingat poin-poin di atas. Bila dibandingkan dengan sebelum memasuki proses pilkada yang sesungguhnya, ternyata saat ini struktur organisasi dakwah ini bertambah, bahkan menjangkau RW dan RT. Ternyata, subhanallah, semakin dekat hari pencoblosan, tingkat soliditas kader meningkat dan bertambah. Ternyata, dukungan masyarakat sangat luas dengan bergabungnya berbagai elemen masyarakat yang turut serta dalam gerbong pemenangan dakwah. Meskipun diakui bahwa kursi walikota lepas dari kita, tapi yakinlah bahwa kita masih menang.

Ikhwati fillah, ke depan, meskipun kursi eksekutif lepas dari kita, ternyata tugas dakwah ke depan tidak menjadi ringan. Justru semakin berat. Kita harus mengelola struktur yang menjangkau hingga RT itu. Kita harus meningkatkan kualitas tarbawi dan ukhawi kita, dan kita harus mengelola masyarakat yang memiliki karakter yang berbeda dengan kader-kader tarbiyah. Dan itu tidak mudah. Tapi dengan kesiagaan, kewaspadaan dan kebersamaan tugas yang berat itu akan mudah ditunaikan.

Ikhwati fillah, sesungguhnya ALLAH SWT menginginkan agar kita lebih serius lagi dalam mentarbiyah diri, agar lebih mengeratkan lagi ukhuwah dan kebersamaan, agar lebih banyak lagi berkorban waktu, tenaga dan harta, agar lebih dekat lagi dengan masyarakat. Mungkin kemarin kita belum optimal dalam tarbiyah, belum optimal dalam dakwah, belum optimal mengorbankan harta, dan sekarang ALLAH SWT ingin melihat kita termasuk orang-orang yang beramal. Beramallah, maka ALLAH, Rasul, dan orang-orang beriman akan melihat amalmu itu(QS At Taubah:105)

QS. Al Baqarah:155 Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

Ayat ini berbicara tentang adanya cobaan yang akan dialami oleh kaum Muslimin. Ketika manusia sedang diuji oleh ALLAH SWT, seringkali ia merasa seolah-olah ujian yang diterimanya itu sangat berat. Seolah-olah tidak ada yang lebih berat cobaannya selain yang terjadi pada dirinya. Untuk mengholangkan persepsi semacam ini, ketika ALLAH memberikan ujian kepada seorang mukmin, ALLAH SWT menggunakan lafadz bisyai-in yang artinya sedikit.

Ayat ini berbicara tentang jihad. Artinya ALLAH sedang berbicara dengan kaum mukminin, karena yang melakukan jihad adalah orang yang beriman. Lafadz yang dipakai ALLAH adalah bisyai-in min al-khouf… yang artinya …dengan sedikit ketakutan…. perkataan bisyaiin, dipakai dengan menggunakan nakiroh yang bertujuan untuk menyedikitkan.

Sebenarnya ketakutan dan kelaparan yang dirasakan oleh orang muslim tidak berbeda dengan ketakutan dan kelaparan yang dialami oleh orang kafir. Tetapi kenapa ALLAH menggunakan lafadz bisyaiin? Ini dimaksudkan bahwa bagaimanapun besarnya ujian ALLAH yang diberikan kepada kaum muslimin, tetapi sangat kecil jika dibandingkan dengan adzab ALLAH kepada orang kafir di dunia atau akhirat. Kita dapat memperhatikan firman ALLAH jika berbicara kepada orang kafir, seperti,

Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. (QS. An Nahl:112)

Ayat 112 dari QS An Nahl ini berkaitan dengan orang kafir. Ketika berkaitan dengan orang kafir ALLAH tidak mengatakan bisyai-in min al-khouf…, tetapi libaasa al-juui wa al-khoufi…

Ketika ALLAH mengatakan kepada kaum Muslimin, ALLAH menggunakan bahasa yang berbeda, di mana ALLAH menggunakan kata bisyaiin, untuk menyedikitkan. Inilah bukti bahwa ujian yang diberikan ALLAH kepada seorang mukmin itu sebenarnya sangat sedikit. Dan sesungguhnya kekalahan ini hanya sedikit dan kecil, maka janganlah galau dan risau apalagi berputus asa, sebab keputusasaan itu bukan ciri kader-kader dakwah yang beriman.

Ikhwati fillah, ada cerita menarik tentang Imam Ahmad bin Hanbal dan seorang muridnya. Dengan hati yang gundah sang murid bertanya kepada Imam :

Ara ayta intishaa ralbaathili alaynaa ? Qaala : Kallaa maa laa zamal haqqu quluu banaa

Sang murid sudah begitu gusarnya akan kemenangan kebathilan atas kebenaran. Akan tetapi, sang Imam Ahlus-Sunnah Wal Jamaah itu dengan penuh yaqin menjawab : Tidak! Selama kebenaran itu tetap ada di dalam hati kita.

Sekarang masihkan al haq itu bersemayam dalam hati kita? Masihkah al haq itu menjadi pertanda perilaku kita. Masihkah masyarakat bersaksi bahwa kita masih menjaga dan berkomitmen pada al haq? Bila jawabannya : tidak, kalahlah kita. Bila kita berani menjawab : ya, maka kitalah pemenang yang sesungguhnya. Maka saudaraku, agar kita semua tidak merugi, mari kita menghidupkan saling berwasiat dalam al haq (kebenaran) agar kita tetap menang. Mari berwasiat dalam kesabaran, agar kita tetap mampu mempertahankan kewaspadaan dan kesiagaan. Dan mari saling berwasiat dalam al marhamah(kasih sayang) agar ukhuwah dan kebersamaan tetap terjaga.

Ikhwati fillah, kita sepakat bahwa kita dikatakan menang bila :

à Struktur organisasi partai dakwah ini bertambah

à Kader-kader dakwah ini solid, baik ruhiyah-maknawiyah maupun ukhuwah dan alaqatnya (hubungan dan komunikasinya)

à Dukungan masyarakat meluas

à Dan menang menjadi walikota

Semoga kita masih ingat poin-poin di atas. Bila dibandingkan dengan sebelum memasuki proses pilkada yang sesungguhnya, ternyata saat ini struktur organisasi dakwah ini bertambah, bahkan menjangkau RW dan RT. Ternyata, subhanallah, semakin dekat hari pencoblosan, tingkat soliditas kader meningkat dan bertambah. Ternyata, dukungan masyarakat sangat luas dengan bergabungnya berbagai elemen masyarakat yang turut serta dalam gerbong pemenangan dakwah. Meskipun diakui bahwa kursi walikota lepas dari kita, tapi yakinlah bahwa kita masih menang.

Ikhwati fillah, ke depan, meskipun kursi eksekutif lepas dari kita, ternyata tugas dakwah ke depan tidak menjadi ringan. Justru semakin berat. Kita harus mengelola struktur yang menjangkau hingga RT itu. Kita harus meningkatkan kualitas tarbawi dan ukhawi kita, dan kita harus mengelola masyarakat yang memiliki karakter yang berbeda dengan kader-kader tarbiyah. Dan itu tidak mudah. Tapi dengan kesiagaan, kewaspadaan dan kebersamaan tugas yang berat itu akan mudah ditunaikan.

Ikhwati fillah, sesungguhnya ALLAH SWT menginginkan agar kita lebih serius lagi dalam mentarbiyah diri, agar lebih mengeratkan lagi ukhuwah dan kebersamaan, agar lebih banyak lagi berkorban waktu, tenaga dan harta, agar lebih dekat lagi dengan masyarakat. Mungkin kemarin kita belum optimal dalam tarbiyah, belum optimal dalam dakwah, belum optimal mengorbankan harta, dan sekarang ALLAH SWT ingin melihat kita termasuk orang-orang yang beramal. Beramallah, maka ALLAH, Rasul, dan orang-orang beriman akan melihat amalmu itu(QS At Taubah:105)

One thought on “Memaknai dan Menyikapi ‘Kekalahan’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s