Menjadi Saksi Pilkada..

Ya, tanggal 23 Juli 2008 kemarin menjadi hari libur se-Jatim karena merupakan hari pemilu untuk Gubernur Jatim dan khusus Kota Malang menjadi hari pemilu untuk Walikota pula. Inilah kegiatan saya. Saya ditugaskan menjadi saksi luar Pilkada Walikota untuk salah satu calon yang tentunya dari kalangan ikhwah. Lebih tepatnya, saya menjadi operator yang bertugas mencatat quick count dan direct selling.

Jam 7 lewat berkumpul terlebih dahulu di rumah DPRa bersama ikhwah yang bertugas di kelurahan yang sama sebagai persiapan. Hampir semua dari kami yang bertugas baik itu di kelurahan dan kecamatan yang sama maupun yang lainnya, bertugas pada 2 TPS, sebab kami kekurangan kader. Saya pun ditempatkan di TPS 5 dan TPS 6 dalam satu RW. Alhamdulillah, jaraknya tidak terlalu jauh sehingga mobilisasi saya ketika memantau tidak terlalu jauh.

Setelah tiba di tempat tugas, ternyata kegiatannya sudah dimulai. Saya pun langsung bertemu dengan kedua saksi tetap di TPS yang berbeda dari calon yang sama untuk memberikan surat dari DPRa sekaligus saya memperkenalkan diri dan menunjukkan surat tugas saya sebagai operator. Untuk TPS 5, memang saya baru saja bertemu dengan si saksi, tapi untuk TPS 6, saya sudah berkenalan sebelumnya ketika mengadakan survei untuk pemetaan suara di wilayah tugas saya. Di TPS 6 ternyata saya bertemu dengan mas Pur, insya ALLAH dari kader partai yang sama dengan calon. Beliau memang ditugaskan untuk bekerja sama dengan saya yang menjadi operator di wilayahnya.

Ketika jam 8 lewat 5, saya pun meminta izin pada mas Pur karena saya mau shalat Dhuhaa. Subhanallah, 2 musholla terdekat semuanya ditutup dan dikunci serta sangat sepi. Saya pun bingung. Lalu segera ke rumah mas Pur untuk bertanya musholla manalagi yang ada di dekat sini. Alhamdulillah ada. Saya pun segera ke sana.

Setibanya di sana, “duh ternyata mushollanya juga dikunci, ya apa donk??”, begitulah keluhku dalam hati. Syukurlah ada penjaganya yang rumahnya tepat di sebelah musholla. Saya pun meminta untuk dibukakan. Musholla ini nampak sederhana sekali namun insyaALLAH nyaman. Setelah shalat, saya menyempatkan diri untuk istirahat di sana hingga hampir jam 9, bahkan sempat menutup mata sedikit.

Ketika sadar dan akan bersiap untuk pergi, ada seorang laki-laki, yang usianya sekitar SMP-lah, masuk ke dalam musholla. Otomatis saya kaget dan sedikit takut, apalagi anak itu sebelumnya sempat mengintip saya dari jendela luar musholla. Anak itu nampaknya sedikit abnormal dari segi fisik dan mentalnya. Tapi Alhamdulillah ketika saya mau pamit pulang kepada penjaga musholla di rumahnya, si anak itu mengatakan bahwa neneknya pergi. Oh, nampaknya dia adalah cucu nenek dan kakek penjaga masjid.

Sepulang dari masjid, saya pun kembali melakukan tugas ke TPS 5. Cukup lama saya berdiam di sana. Warga di sana pun melihat asing akan keberadaan saya. Saya pun hanya melontarkan senyum saja kepada mereka. Lalu sempat berbincang dengan saksi untuk memberitahukan agar hasil lampiran dari catatannya diserahkan ke saya.

Setelah itu, saya ke rumah mas Pur untuk istirahat. Ternyata jatah makan sudah datang. Selain makanan, saya juga disuguhkan minum dan bacaan di sana. Apalagi bacaan yang disuguhkan adalah buku, Aidh Al Qarni, Laa Tahzan. Hehehe, senang bangetlah… Di sana juga sekalian saya shalat dzuhur.

Ketika jam 12, saya minta izin untuk kembali ke TPS, mengingat waktu pemilu hanya sampai jam 1. Namun, saya bingung harus ke TPS mana. Setelah berpikir panjang akhirnya saya memutuskan untuk ke TPS 5 saja, karena di TPS 6 insyaALLAH sudah ada mas Pur yang mewakili dan si saksi pun sudah kenal akrab, jadi saya percaya.

Akhirnya, jam 1 tet pun tiba. Waduh, deg deg-an nih gimana hasilnya. Syukurlah perhitungan suara dimulai dari pemilu Walikota, bukan Gubernur, jadinya bisa lebih cepat. Selama proses perhitungan, saya mencatat hasilnya di agenda saya. Huwfh…hasil akhir pun menyatakan bahwa calon yang saya dukung berada di posisi kedua dan yang pertama mempunyai suara dua kali lipat banyaknya dari yang kedua. Cukup sedihlah…apalagi setelah dapat kabar dari mas Pur, ternyata di TPS 6 pun hasilnya tidak jauh berbeda. Waaaahhhhhh, menghubungi mbak Nurul, ikhwah seperjuangan yang bertugas di TPS seberang juga mempunyai hasil yang sama…

Setelah semuanya selesai, saya mengambil lampiran dari saksi, lalu ke TPS 6 untuk mengambil barang yang sama yang telah saksi titipkan ke mas Pur. Saya pun izin untuk kembali ke DPRa. Ya ALLAH, ternyata hasil keseluruhan di kelurahan saya bertugas memang seperti itu. Calon kami ada di urutan kedua.

Kasihan masyarakat, mereka telah terbiasa dengan uang sogokan kampanye dari para calon. Seperti lebaran saja, masih menyukai calon yang membagi-bagikan kaos, uang, dsb demi hak suara mereka. Jujur saja, saya dan ikhwah yang seperjuangan tidak mendapatkan apa-apa dari tugas kami selain jatah makan pagi dan siang yang diberikan pada siang hari saat bertugas dan sore hari setelah selesai bertugas. Uang transport pun ambil dari kantong masing-masing. Ya, itu karena memang calon yang saya dukung “tidak memiliki apa-apa”, beliau adalah orang yang sederhana dan insyaALLAH ber-amanah…Eman ya…Tapi ini menjadi suatu pelajaran, mungkin usaha kami belum maksimal. Kata seorang ummahat, banyak kader yang futur(turun keimanannya) selama bertugas…Mungkin saja inilah yang menyebabkan kekalahan kami. Semoga ke depannya bisa lebih baik..HAMASAH!!!

ALLAHU AKBAR,,,ya sudahlah, Laa Tahzan..Innallaaha ma’anaa..HARAPAN itu masih ada

Itulah kata penyemangat dari supervisor di sms terakhirnya sebagai ucapan terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s