“MANUSIA RABBANI”

(Dikutip dari : Majalah Ash Shohwah Edisi XXIII Tahun X Mei 2008)

Tidak wajar bagi seorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al-Kitab,

Hikmah dan kenabian lalu ia berkata kepada manusia :

’Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.’

Akan tetapi (dia berkata) :

’Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena selalu mengajarkan Al-Kitab

dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.

(QS. Ali Imron : 79)

Adalah sebuah kewajiban bagi ummat Islam untuk senantiasa menjadikan Al Quran sebagai pedoman, sumber hukum, obat, dan segalanya, karena begitu kompleks dan luasnya kandungan wahyu ALLAH yang disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada Muhammad SAW. Dari salah satu ayat dalam surah Ali Imron, yaitu ayat 79, ada beberapa hal yang bisa kita ambil hikmah atau pelajaran, dalam salah satu kitab Tafsir yang terkenal yaitu, Kitab Tafsir Ath-Thobari, oleh seorang mufassir yang terkenal, Ibnu Jarir Ath-Thobari, beliau menafsirkan surah Ali Imron ayat 79.

Menyeru manusia kepada ALLAH (ma’rifatullah) juga mengenal syariat agamanya, menjadi pemimpin yang menyeru kepada Tuhan ALLAH dan mencegah atau menghindari larangan, pemimpin yang taat dan beribadah kepada-Nya karena kondisi mereka senantiasa mengajarkan kepada Al Kitab dan tetap mempelajarinya.

Ibnu Jarir juga membuat tafsir yang khusus tentang kata ”Rabbaniyyin” (orang-orang Rabbani), yaitu orang yang paling mengerti di antara manusia tentang ilmu fiqih dan keilmuan di dalam urusan agama dan dunia, mereka mempunyai bashirah(kecermelangan pemikiran) di dalam siyasi(politik) atau bashir bi shiyasah dan di dalam managerial atau bashir bi tadbiir dan mengatur masyarakat menuju kebaikan dunia dan agama mereka.

Seorang muslim yang ingin meraih predikat Rabbani menurut Ibnu Jarir tidak boleh hanya mencukupkan diri dengan kemampuan tentang detail ilmu fiqih atau humaniora saja, dia harus mengasah diri agar mampu memahami dan mem..(maaf, kalimat dari artikel terpotong)

Dari uraian tafsir di atas dapat kita simpulkan betapa sebuah keharusan diri kita untuk mempunyai kemashlahatan di tengah-tengah masyarakat, ada sebuah peran yang seharusnya kita ambil, agar keberadaan kita benar-benar dirasakan manfaatnya, kita pasti ingat dengan hadits bahwasanya sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat buat orang lain. Tuntutan untuk senantiasa berperan dan berdakwah di tengah-tengah masyarakat terkadang kita bukan hanya beramar ma’ruf tapi nahi munkar, bahkan nahi munkar atau mencegah kemunkaran terkadang lebih banyak tantangan dan membutuhkan kemauan yang keras, walaupun itu terasa susah atau pahit sesuai dengan kemampuan kita tentunya.

Hal ini senada dengan salah satu hadits arba’in yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri RA: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ”Barang siapa di antara kalian melihat suatu kemunkaran, hendaklah ia mengubah dengan tangannya, jika tidak mampu, maka dengan lisannya, dan jika ia masih tidak mampu, maka dengan hatinya dan itulah selemah-lemah iman”. Dari hadits ini juga yang memperkuat bahwa adanya sebuah kewajiban yang dimulai dengan kesadaran diri sendiri untuk mencegah kemungkaran atau sesuatu yang menurut ajaran Islam itu dilarang di manapun dan sesuai dengan kemampuan kita.

Wallahu a’lam bishowab…

2 thoughts on ““MANUSIA RABBANI”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s