“Fakultas itu terlalu kecil untuk menampung daya juang kita”

Ya, inilah pernyataan yang tertulis dari seorang kader dakwah!

Beberapa waktu lalu, memang saya sedikit berdiskusi via dunia maya bersama seorang yang tidak boleh disebut namanya. Awalnya memang saya add dia sebagai friend saya hanya dengan niat memperbanyak link ke saudara sesama ikhwah. Eh, ternyata dia memberikan comment ke saya yang mengatakan bahwa ternyata ada akhwat juga di prodi saya. Kebetulan orang ini kakak tingkat saya. Otomatis saya kaget atas pernyataannya itu. Saya pun menanggapi bahwa selama ini banyak kok akhwat di prodi saya cuma mungkin dia saja yang tidak mengetahui bahwa mereka itu adalah seorang akhwat.

Dengan jujur dia pun menanggapi memang dia tidak tahu mengenai hal itu karena dapat dimaklumi amanah yang dia emban bukan di fakultas, atau dengan kata lain “mungkin” kurang tahu kondisi kader di fakultas. Sebenarnya orang ini sudah lama saya tahu sebagai warga MIPA, hanya saja selama ini saya tidak tahu nama dan prodi dia. Saya hanya tahu dia salah satu kader aktif OMEK ikhwah dan juga satu organisasi universitas dengan saya cuma beda Departemen.

Oh ya, dia pun sempat memperkenalkan dirinya plus amanahnya di organisasi pusat itu(walaupun saya tidak menanyakannya). Namun, ada satu hal yang membuat saya sedikit “terganggu”. Dia mengatakan bahwa artikel yang saya review di FS pribadi merupakan aksi yang dilakukan OMEK-nya hingga dia berkesimpulan bahwa saya juga adalah kader dari OMEK tersebut. Dengan cepat saya pun menanggapi bahwa saya bukan kader OMEK-nya(baca : belum) dan sampai sekarang komitmen saya untuk berdakwah siyasi cukup di organisasi universitas saja dulu.

Nah, mulai dari sinilah diskusi kami kian panjang. Dia membahas mengenai pelatihan kader yang diberikan oleh OMEK tersebut, dia pun mengatakan bahwa hasil dari pelatihan ini sangat terbukti, yaitu para petinggi di kampus adalah dominan orang-orang yang telah mengikuti pelatihan ini. OK, saya tahu sekali hal itu. Bahkan, menurut saya ini adalah salah satu hal yang wajib disyukuri dan dipertahankan. Akan tetapi, saya banyak melihat, ikhwah yang masuk ke dalam OMEK tersebut hanya mengikuti pelatihannya saja, setelah itu menonaktifkan diri. Jujur, komitmen saya dalam berorganisasi adalah bergabung dan ikut berkontribusi di dalamnya, tidak hanya merasakan fasilitas yang diberikan saja. Intinya, komitmen dalam berorganisasi.

Entah kenapa, dari setiap bahasan yang dia wacanakan, saya menangkap kesan angkuh dari apa yang dia tulis. Ada beberapa hal yang sangat saya sesalkan kata-kata ini terucap darinya :

  1. Dia mengatakan bahwa pikiran saya masih “sekuler”. Saya tidak menyalahkan dia untuk mengatakan tentang saya seperti itu karena bisa jadi saya masih seperti itu. Tapi yang saya sesalkan adalah kenapa dia cepat sekali bisa menilai orang??? padahal kita baru saja berdiskusi. Apakah cara ini yang dia dapat dalam pembelajarannya selama ini??? Seingat saya, dalam Islam kita dilarang terlalu cepat menilai sesuatu karena bisa jadi bagi kita itu baik, tetapi bagi ALLAH itu tidak dan sebaliknya.
  2. Dia mengatakana bahwa fakultas adalah dunia yang sangat kecil untuk menampung daya juang dalam berdakwah dan berkata bahwa dunia ini masih sangat luas. “HEY”, sadarkah engkau pemuda, jika semua orang berpikiran seperti dirimu, lalu siapa yang akan memperjuangkan dakwah di fakultas??? Bukankah fakultas juga merupakan suatu dunia dakwah, medan dakwah, arena dakwah, yang pasti dibutuhkan kader di dalamnya. Saya tahu engkau adalah seorang pemuda yang sangat bersemangat dalam berdakwah hingga dunia fakultas pun tak cukup bagi kamu. Namun, TOLONG, MOHON, JANGAN menganggap REMEH ikhwah yang berdakwah di lingkungan “kecil” fakultas. Mereka juga menghadapi kesulitan, halangan, dan rintangan dalam berdakwah walaupun memang tidak sebesar yang kau hadapi di luar sana. Jujur, saya sangat sakit hati sekali…(maaf kalau ada pemborosan kata di sini), kenapa? Karena saya lahir dari dakwah fakultas, dan saya dibesarkan pula di sana hingga kini saya pun bisa melebarkan sayap hingga keluar dari dunia itu. Saya tahu betapa sulitnya berdakwah di sana, berdakwah kepada teman-teman yang menjadi keluarga terdekat kami di kampus, yang paling sering kita temui ketika kuliah.
  3. Dia mengatakan bahwa pelatihan ini adalah pelatihan yang sangat dibutuhkan oleh kader dakwah kampus yang tidak akan didapat dimanapun. Ya, saya tahu itu, tapi bukan berarti orang yang tidak mengikuti pelatihan ini tidak bisa disebut kader dakwah kan?! Atau dengan kata lain, bukan berarti tidak bisa seseorang dikatakan sebagai kader dakwah sebelum dia mengikuti pelatihan ini… Padahal tidak semuanya seperti itu, ada kok ikhwah yang saya temui dimana dia tidak ikut pelatihan ini tetapi subhanallah dia adalah sosok kader yang bagus dan beramanah, namun ada ikhwah yang saya temui dia adalah kader yang telah mengikuti pelatihan itu bahkan menjadi pengurusnya tetapi dia tidak lebih bagus dari ikhwah tadi. Intinya adalah ini semua kembali pada diri masing-masing sampai seberapa jauh seseorang memanfaatkan dan meresapi ilmu dari pelatihan ini…Wallahu a’lam bishowab

Saat saya memberikan comment balik, dia pun mengatakan bahwa saya adalah seorang “adik kecil” yang belum punya pengetahuan sejauh ini. Dia berdalih bahwa jika saya nanti telah mengetahui tentang ini, saya akan “tersenyum malu” dan akan menarik kata-kata saya. Astaghfirullah, laa haula walaa quwwata illa billah, saya pun hanya bisa tersenyum balik membaca pernyataan ini dan memberi sedikit tanggapan. Mungkin jika memang saya menarik kata-kata saya, berarti saya telah khilaf dan telah menemukan kebenaran. Saya sangat sadar bahwa tsaqofah saya sangat jauh di bawah dia hingga bisa dikatakan bahwa saya tak pantas untuk berdiskusi bahkan berdebat dengannya.

Sedikit mengaitkan dengan judul adalah maksud saya, apakah salah seseorang itu berdakwah di fakultas seperti saya dan teman-teman ikhwah sesama kader dakwah fakultas???

Akhirul kalam, saya beristighfar pada-Mu ya ALLAH atas kata-kata yang telah terucap, tertulis dan terdengar oleh panca indera saya. Sesungguhnya dalam salah satu hadits Nabi dinyatakan bahwa mulut adalah salah satu penyebab masuknya orang ke neraka…Na ‘udzu billahi min dzalik..

Teruntuk orang yang saya maksud, maafkanlah saya jika semua yang saya katakan kepadamu adalah salah dan marilah kita merenungi bersama ayat ini, ayat yang insyaALLAH sudah saya tuliskan di comment saya kemarin :

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal (berperang) itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Dan Allah-lah yang mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.
(QS Al-Baqarah: 216)

Dan teruntuk semuanya…marilah kita berdoa semoga ALLAH meridhoi segala aktivitas kita. Sedikit kata indah buat kita semua..

Adalah iman yang mengubah harapan jadi doa

Adalah tawakal yang mengubah gerak jadi doa

Adalah ukhuwah yang mengubah jarak jadi doa

Semoga ALLAH memberikan kebaikan untuk kita di manapun kita berada

Amin..Allahumma Amin..

🙂

8 thoughts on ““Fakultas itu terlalu kecil untuk menampung daya juang kita”

  1. Manusia itu klo sudah fanatik dengan apa yang diyakini ya seperti itu, dalam beberapa hal mungkin mereka benar tapi dalam hal yang lain mereka belum tentu benar. Sabar , lapang dada dan senantiasa belajar bisa membuat kita bisa menanggapi segala sesuatu dengan santai.

    BTW soal komunitas tanggal 9 nanti ada gathering nya kluwek malang loh .. info ada di milis. Selamat berkontribusi dan berkolaborasi (dan ini khusus perempuan jadi saya gak mungkin ikut)😀

  2. comment back
    kakekmu : yupz..thx atas nasehatnya kek..
    oh ya, acara kluwek udah banyak yg infokan ke aku..
    insyaALLAH tk usahakan datang..
    yah, datang aja…nyamar jadi cewek kan bisa😀

  3. nilai dari aktivitas yang kita lakukan bukan terletak dimana atau besar kecil aktivitas itu, tetapi dari keikhlasan dan manfaat yang kita bawa dari aktivitas itu buat diri kita sendiri dan orang lain.

    ingat, sebaik-baik kita adalah yang paling bermanfaat buat orang lain. mari kita berlomba-lomba dalam kebajikan, fastabiqul khairat.

    (intinya ini introspeksi buat sy sendiri)

    saat kita sudah terjun ke dunia yang lebih luas di luar kampus, kita akan merasakan bagaimana kerasnya dunia itu.

    tetap semangat ya!

  4. comment back :
    sinyo : trimzzz banget yah buat commentnya,,saya jd tambah semangat buat meningkatkan mutu blog saya…alhamdulillah semakin banyak aja yang datang silaturrahim di blog tercinta ini…masukannya selalu ya…

    dari alumni : jazakallah khoir katsir akhi…memang benar…niat juga menentukan, apa yang kita dapat adalah apa yang kita niatkan…sudah silaturrahim sama ketum 4KJ sekarang?

    • wow wow..reza itu postingan tahun 2008, sekitar 3 tahun yang lalu, belum hijrah sebenar2nya hijrah..begitulah dulu saat saya masih “kecil”…hohoho..
      sip..tetap semangat!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s