Rahasia masa depanmu adalah bagaimana engkau mengisi waktu-waktu dalam hidupmu

Hari ini terakhir ya?

Ah, gak apa-apa deh…Tetap ada inspirasi donk untuk mengikuti lomba Resolusi 2012 dari Telkom Speedy ini.

Emang sih, dapat infonya telat, soalnya di waktu-waktu seperti ini, menuju perjalanan akhir akademikku sekarang, walaupun aku sering on-line menggunakan fasilitas internet 24 jam, aku jarang searching info lomba-lomba di internet lagi seperti yang sering aku lakukan dulu, selain yang disearching banyak yang berhubungan dengan Skripsi Sweetyku sambil ditemani Skripsi Crispyku :-D , aku juga gak yakin bisa ikut lomba-lomba itu, takutnya seperti peribahasa maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai ^^v

Eh…sekitar 3 hari yang lalu, pada saat aku mau mencatat fokus mimpi di tahun 2012 yang ingin direalisasikan yang aku ambil dari daftar mimpiku catatan 2 tahun yang lalu, aku mendapat info bagus tentang lomba ini..So pasti tidak mau ketinggalan untuk ikut ini, toh aku juga tinggal merevisi catatanku yang sudah ada sebelumnya :-D
Alhasil, ini dia langkah nyata yang ingin aku ukir di tahun 2012 ini, tentunya pencapaiannya didukung fasilitas internet dan pastinya semuanya atas Ridho Allah SWT, hehehe…

Bismillah :

1. Meraih gelar pertama akademikku

Alhamdulillah ya, mimpi ini lagi proses untuk mewujudkannya…

So pasti, peran internet tidak lepas dari proses ini. Terlebih kalo genetic fuzzy sudah berulah memutar otakku, tanganku langsung beralih mencari solusinya di mas Google :-D

Fuzzy is fuzziness,but Genetic Algorithm can optimize it ;-)

2. Belajar Manajemen Laboratorium Komputer (Mata kuliah apa ini? -_-‘)

Fokus peran yang ingin kuambil pasca kampus nantinya adalah bidang Pendidikan dan Teknologi. Ternyata, gak nyangka September 2011 kemarin dapat amanah jadi Guru TIK SMA. Wah, pas banget nih sama kefokusanku. Saat ini, di samping mengajar, aku juga harus mengelola Laboratorium Komputer yang tidak sedikit jumlah unit komputernya pun dengan rupiahnya yang tidak kecil^^v, huhuhu, padahal belum pernah sebelumnya, tapi lagi-lagi internet bisa membantuku. Selain belajar dengan guru senior di skul, tentunya aku juga mencari tips-tips untuk Manajemen Laboratorium Komputer ini. Gak sekedar tips, aku jadi seperti dapat mata kuliah baru nih untuk mendalami ini, hehehe..

Internet make it easy :-)

3. Rampung Hafal Juz 27,28 dan 29

Mimpi dalam hidupku salah satunya adalah hafidz 30 juz, tapi pastinya semua itu berproses dengan membuat fokus target per tahun. Hafal Alquran dan mempertahankannya adalah sesuatu yang tidak mudah, karena itu tahun ini aku fokuskan untuk melengkapi hafalan juz 29, serta merampungkan juz 27 dan 28 pula. Tak apalah, target harus sesuai dengan kemampuan juga. Oh iya, internet pastinya memberikan kemudahan membantuku mendapatkan cara-cara untuk konsisten dalam hafalan Alquran ini, memudahkan sharing dengan saudara yang sudah hafidz via jejaring sosial, apalagi kalo sedang surfing internet, sambil ditemani murottal, sesuatu… :-D

Man Jadda Wa Jadda (siapa yang mau bersungguh-sungguh, dia pasti mendapatkannya) :-)

4. Punya bisnis antar Malang-Kendari

Kendari Kota tempatku dibesarkan selama 17 tahun, pastinya tempat ini punya kenangan tersendiri dalam hidupku. Karena itu, aku ingin mengembangkan bisnis antar Malang dan Kendari ini. Sampai sekarang sudah ada pembicaraan dengan saudara di Kendari sana, karena kemarin belum serius-serius amat, tahun inilah insya Allah waktu yang tepat untuk serius garap mimpi ini. Eits..belajar internet marketing nampaknya jadi solusi menarik nih untuk mendukung proses perwujudan ini. Semoga bisa jadi investasi masa depan karena tahun ini harus mandiri dari segi keuangan :-)

5. Buat perpustakaan online dan koleksi buku bertambah 100 lagi

Bersyukur banget sampai tahun 2011, koleksi buku sudah lebih dari 100, jadi kepikiran untuk buat perpustakaan online yang bisa diakses dengan internet, semoga semakin banyak teman2 yang rajin membaca dan terinspirasi juga membuat perpustakaan online ini. Oh ya, 100 buku minimal jadi target tambahan koleksi untuk tahun ini :-) . Pastinya, IBF (Islamic Book Fair) jadi sasaran untuk sarana utama melengkapi koleksi buku Islam, hehe :-D

6. Bergabung dengan komunitas sosial untuk Palestina

Selalu meringis hati kalo udah dengar tentang Palestina, setelah browsing di internet, ada satu komunitas produktif dalam membantu saudara-saudara kita di sana. Dengan jarak jauh, aku berniat untuk menjadi salah satu anggota komunitas tersebut, yang mungkin dengan itu aku bisa ikut membantu untuk Palestina. Dengan internet, hingga kini, Alhamdulillah sudah banyak saudara-saudara yang paham tentang konflik di Palestina sana, nah, dengan internet pula, ada kesempatan nih untuk saling mengingatkan dan menggalang bantuan, memanfaatkan teknologi yang ada donk, hehehe..

7. Buat tutorial materi dan tugas selama kuliah dan posting di web

4 tahunan kuliah pastinya gak ingin materi dan tugas-tugas yang didapat selama kuliah, disimpan begitu saja dilaptop. Semua ini harus bisa lebih bermanfaat, khususnya buat sesama Ilkomers, anak-anak yang studi Ilmu Komputer dan sebangsanya (Informatika dkk). Keinginan ini sudah lama ada dan ingin aku realisasikan tahun ini dan ingin mengajak teman-teman kuliah juga. Nantinya ingin buat hosting khusus untuk ini dan nantinya bisa teman-teman akses via internet, walaupun jauh dari ilmukomputer.com, tapi segaknya memperkaya khasanah ke-ilmu komputer-an di Indonesia, hag hag hag..abot neh..

8. Pintar masak (1 bulan 1 resep baru)

Wah, suka makan harus suka masak juga donk, hehe..untuk upgrading keahlian memasak, kudu ada target nih. So, one month one recipe! Pake internet donk untuk nyari resep-resep yang bisa dimodifikasi sambil nanya Bunda untuk saran-saran resepnya. Aku akan fokuskan untuk resep masakan yang pas buat mahasiswa dan resep yang gak butuh banyak budget deh pokoknya :-D

Insya Allah ada 8 mimpi yang bisa diwujudkan dengan bantuan internet dan selain itu masih ada lagi mimpi besar yang ingin diwujudkan tahun ini.

Saling mendoakan ya buat mimpi-mimpi ane dan mimpi-mimpi ente gan J!!!

Ya dah, sekian dulu cerita mimpi ini…semoga bisa menginspirasi kita semua :-)

Menulis mimpi itu begitu mempesona
Tapi
, merangkainya dengan aksi nyata jauh lebih mempesona

” Dengan Telkom Speedy, aku bisa mengapai impianku” :-D

Wahai Masjidil Aqsha,  

Bagaimana bisa aku melupakanmu…

 

Intifadhah adalah kebangkitan umat Islam yang dipimpin ulama melawan penjajah Zionis Israel. Sejak meletusnya Intifadhah Pertama, Desember 1987 sampai Agustus 1993, gerakan penyadaran dunia mengalami percepatan. Semakin banyak orang yang faham, bahwa membebaskan Masjidil Aqsha dan membantu perjuangan saudara-saudaranya di Palestina adalah bagian dari ‘Aqidah Islam. Tanda-tanda kemenangan dan pertolongan Allah sudah sangat jelas. Semoga Allah masukkan kita ke dalam barisan pemenang, bukan penonton. (Sahabat Al Aqsha)

Tahun ini, saya ingin mempublish nasyid-nasyid yang bertemakan Palestina beserta liriknya plus link download untuk nasyid tersebut agar tidak penasaran bagaimana nasyidnya lengkap dengan ekspresi liriknya :-D . Sudah terbukti, bahwa dengan mendengar nasyid tersebut, akhirnya saya bisa paham kenapa saya harus peduli dan harus membela, serta harus mendoakan Palestina? Padahal saya bukan warga Palestina. Nasyid adalah media menarik untuk mencoba menambah pengetahuan tentang Palestina ini. Semoga bermanfaat dan silakan disebarkan ke saudara-saudara Anda dan semoga kita semua tetap istiqomah mendoakan semua saudara-saudara kita baik di tanah air, maupun di lainnya, termasuk Palestina.

Kisah Palestina – Shoutul Harakah

http://www.ziddu.com/download/17928273/6.KisahPalestina.mp3.html

Palestina, negeri yang tercinta
Tempat suci umat Islam, kiblat yang pertama
Palestina, kini terluka
Tertindas oleh yahudi durjana
Palestina, tanah jihad kita
Berjuanglah kobarkan perlawanan
Intifadhoh, Intifadhoh

Read the rest of this entry »

(Afwan, jika dalam tulisan ini banyak pendapat subjektif saya, dan mohon diluruskan jika salah)

Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin seringkali mengatakan ataupun mendengar, “Mungkin orang itu belum mendapatkan hidayah Allah”, ketika melihat seseorang yang menurut pandangan kita belum menjalankan syariat Allah SWT, atau biasanya lebih sering ditujukan kepada orang yang belum menganut Islam sebagai agamanya.

Berbicara mengenai hidayah, kita tahu bahwa hidayah merupakan hak penuh Allah SWT dalam kehendak-Nya memberikan atau mencabut hidayah ini pada seseorang. Tak ada yang bisa menghalanginya.

Katakanlah: “Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus.” (QS Al Baqarah : 142)

 Begitulah hidayah, yang menurut saya, hidayah ini adalah hal yang setiap manusia menunggunya untuk diberikan, karena pada dasarnya fitrah manusia adalah ingin dekat pada Tuhannya, pada jalan yang diridhoi-Nya.

“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS Al Baqarah : 257)

Pada ayat 257 QS Al Baqarah, disiratkan bahwa iman adalah hakikat kehidupan, yang dengannya dapat membedakan antara orang yang mendapatkan cahaya dan orang yang berada dalam kegelapan. Cahaya di sini tak lain adalah hidayah. Saat Islam menjadi pedoman hidup, maka cahaya pun akan menerangi kehidupan kita. Ayat lain yang menyebutkan tentang cahaya ini adalah QS An Naml ayat 122.

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan. (QS An Naml : 122)”

 

Lantas, apakah bagi kita yang sudah Islam sejak lahir dapat dikatakan telah menerima hidayah?
Menurut saya, sekali lagi, ini masih pandangan subjektif, bagi kita yang telah memeluk agama Islam sejak lahir insya Allah sudah mendapatkan hidayah Islam itu sendiri. Karena tentu saja, label Islam yang ada pada kita adalah sudah menjadi kehendak Allah SWT.
Akan tetapi, apakah berhenti hanya di situ saja? Apakah kita sudah bangga dengan adanya hidayah Islam? Inilah yang mungkin membuat banyak perbedaan pendapat.
Bagi seorang Muslim yang telah mendapatkan hidayah Islam-nya baik sejak lahir, maupun mulai kapanpun usianya, berikutnya memiliki tugas yang cukup berat, yaitu Menjaga Hidayah.
Layaknya seseorang yang mendapat juara, sering kita lihat fakta di lapangan bahwa lebih mudah merebut prestasi daripada mempertahankan prestasi tersebut. Insya Allah begitupun dengan menjaga hidayah. Saya yakin, bagi setiap orang yang selalu berusaha untuk menjaga hidayahnya, tidak sedikit godaan dari segalah arah yang menghadangnya, sehingga terkadang iman itu pun mengalami fluktuasi hebat.

“Iman itu bisa bertambah dan berkurang. Iman akan bertambah dengan ketaqwaan dan akan berkurang dengan kemaksiatan”

 Subhanallah, satu ayat Alquran ini menggambarkan betapa sulitnya menjaga hidayah dengan analogi rajutan kain.

Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian) mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain.  Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu.  Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu.” (QS An Nahl : 92)

 Ya, menjalani hidup ini seperti kita sedang merajut sebuah kain kehidupan. Rajutan yang kuat dibuat dengan tenaga, waktu, peluh, rasa capek, dan sebagainya. Namun, untuk membongkar rajutan kain itu jauh lebih mudah, jauh lebih cepat, daripada membuatnya pada waktu sebelumnya.

Ingat, betapa banyak orang yang berislam, tapi hanya sedikit yang beriman.
Betapa banyak orang yang beriman, tapi hanya sedikit yang beramal.
Betapa banyak orang yang beramal, tapi hanya sedikit yang ikhlas.
Dan betapa banyak orang yang ikhlas, tapi hanya sedikit yang istiqomah.
Begitulah, ujung dari hidayah ini adalah keistiqomahan kita dalam ketaqwaan pada Allah SWT.

Allah memberikan satu pertanyaan pada hamba-hamba-Nya dalam Alquran dalam QS Al Hadid ayat 16 sebagai berikut.

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS Al Hadid : 16)”

Ayat yang diawali dengan pertanyaan “belumkah datang waktunya” mengalami makna tersirat bahwa “mau kapan lagi, kalau bukan sekarang, sudah tidak ada lagi yang ditunggu selain ini”.
So, kapankah kita mulai bergerak untuk menjaga hidayah ini? Now or Never!”

Ada dua hal yang insya Allah bisa kita lakukan untuk menjaga hidayah :
1. Senantiasa meminta kepada Allah SWT agar kita diberi keistiqomahan

2. Senantiasa mendekatkan diri dengan lingkaran-lingkaran keimanan. Lamanya waktu tarbiyah atau proses pembelajaran kita terhadap islam, bukan menjadi jaminan untuk keistiqomahan kita. Yakinlah, tanpa saling mengingatkan antarsaudara, kita akan sangat sulit untuk menjaga keimanan yang ada.

Subhanallah, saudara-saudariku, mari kita saling menjaga hidayah ini.
Kekecewaan yang ada pada manusia tak perlu disimpan berlarut-larut karena itu tidak akan menyelesaikan masalah. Ya, janganlah pernah menuntut kesempurnaan dari orang lain, karena diri kita pun juga tidak sempurna. Sekali lagi, saling mengingatkan adalah kunci utamanya.
Semoga catatan kecil ini, bisa bermanfaat buat yang menulis dan yang membaca.
Afwan jika masih banyak kekurangan, terutama dari referensi tafsir yang belum ana pakai sama sekali. Karena materi ini juga dominan didapat dari hasil diskusi.
Ya, semoga bisa dilengkapi di waktu yang lain, insya Allah…

Malang, dengan perasaan ingin selalu bertahan di jalan ini,
18 Oktober 2011 01:38

Alhamdulillah, di umur 21 tahun ini masih diberikan oleh Allah kesempatan untuk menghirup udara di bulan yang penuh berkah di bulan mulia, Ramadhan karim.
Sangat mencengangkan setelah membaca hadits ini mengenai bulan Ramadhan :

“Seandainya setiap hamba mengetahui apa yang ada dalam bulan Ramadhan, maka umatku akan berharap seandainya SETAHUN itu bulan RAMADHAN” (HR Ibnu Khuzaimah) 

Berarti tak ada alasan lagi untuk melewati detik demi detik di bulan Ramadhan ini dengan hal yang sia-sia dan tak bernilai ibadah (astaghfirullah, muhasabah buat diri ini…)

Bagaimana caranya agar Ramadhan tidak berlalu begitu saja?

Gampang saja kok sist ‘n bro..pertama-tama pastinya kita harus menancapkan dalam hati dan pikiran kita bahwa ini adalah bulan spesial, sehingga waktu-waktunya pun spesial apalagi kegiatan-kegiatan yang dilakukan juga harus spesial.

Setelah pikiran dan hati kita sudah memiliki mind set seperti itu, kemudian berpikirlah kira-kira aktivitas apa yang kita pilih untuk menjalani Ramadhan sebulan penuh ini. Tentunya yang harus spesial paling utama dalam hal ini adalah ibadah-ibadah yang kita lakukan.
Sist ‘n Bro, akhi wa ukhti, saudaraku dan saudariku,,sahabat Umar bin Khattab ra mengatakan bahwa :
“Hisablah dirimu, sebelum engkau di hisab nantinya”
Insya Allah maksud hisab disini adalah muhasabah diri dalam hal apa saja yang kita kerjakan, termasuk menghitung ibadah2 apa saja yang sudah kita lakukan, sehingga kelak ada ibadah istimewa yang bisa kita banggakan di hadapan Allah SWT, cukup hanya pada Allah saja kita membanggakan ibadah2 kita..

Untuk menghisabnya, maka diperlukan targetan ibadah2 yang kita lakukan. Ukuran dalam setiap targetan pastinya berbeda-beda untuk setiap orang. Karena Rasulullah saw. pun bersabda bahwa beribadahlah sesuai kadar kemampuanmu. ingat, kadar kemampuan disini adalah yang maksimal bisa kita kerjakan, karena diri kita sendirilah yang paling tahu bagaimana kemampuan kita, eiiitss..tapi ada Allah donk yang lebih tahu, Sang Maha Tahu..so, jangan jauh-jauh dari Allah, biar kita lebih mengenal diri kita.
“Barang siapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya” (Ali bin Abi Thalib ra.)

Ada banyak ibadah yang bisa ditarget selama Ramadhan. Tentunya, mendahulukan targetan untuk ibadah2 maghdah, seperti shalat, puasa, zakat, baru kemudian ibadah2 yang ghairu maghdah seperti infaq, silaturahim, tilawah alquran, hafalan ayat, baca buku, dll. Selain itu, dimensi dari targetan diusahakan adil untuk 3 dimensi fikriyah (pikiran), jasadiyah (jasad), dan ruhiyah (ruh). Dari segi waktu, targetan ada  yang bernilai bulanan, pekanan, atau harian. Silakan diatur sesuai targetan yang ada.

Jangan malu-malu dalam menentukan targetan, karena targetan bisa menjadi semangat kita dalam beribadah mencari ridho Allah. Apalagi jangan sampai merasa “ah..saya mengalir saja ibadahnya, sebisanya saja..” atau “ah,saya belum mampu menarget, takut saya tidak berkomitmen”..
just do it guys…apa yang kita lakukan semuanya ini adalah sebatas rencana, hanya Allah -lah yang punya hak kekuasaan penuh dalam melaksanakan atau tidak melaksanakan rencana kita ini. Jika kita ada keinginan untuk mentarget ibadah kita, berarti kita punya semangat dalam pra-beribadah, pastinya Allah akan menilai niat baik dan semangat kita itu. Jika kita ingin ibadah itu mengalir saja, maka saya sarankan untuk mencatatnya..ya karena itu tadi..kata2 sahabat Umar, kita mencoba untuk menghisab diri kita, merasakan fluktuasi keimanan kita dengan data (ex : catatan amal yaumi), tidak hanya dengan asumsi dan perasaan semata, sehingga ada perbaikan yang cepat saat kita sudah terjun jauh dalam penurunan keimanan.

Sudah mau menargetkan?
hehe, Alhamdulillah..setelah menulis targetan..jangan lupa tulisan itu selalu dilihat dengan cara dipajang atau dibawa kemana-mana saat bepergian, sehingga kita selalu bisa menstimulus otak kita untuk mengingat2 apa yang kita tulis dan dengan mudah otak mengingatkan tubuh kita untuk mengerjakannya. Tentu saja dalam hal ini, nafsu atau syahwat kita menjadi kunci, apa kita mau melakukan target2 itu sesuai komitmen, ataukah kita bermalas-malasan dalam menjalankannya selama 30 hari. Karena itu, doa disetiap waktu dalam menjalani targetan2 tersebut dibutuhkan. Ingat, doa adalah senjata orang mukmin. Eitss..tentunya dibarengi dengan ikhtiar maksimal.

Oh ya..buat saudariku yang memang kemungkinan besar ada udzur syar’i dalam menjalankan ibadah puasa dan kawan2nya..
Jangan bersedih, siapa bilang kita tidak bisa beribadah..kita bisa menentukan targetan ibadah lainnya seperti dzikir pagi dan petang, hafalan hadits dan doa2 pendek atau muraja’ah(mengulang) hafalan ayat2 alquran, baca buku dll.

Setelah menjalani sebulan penuh ramadhan, nantinya jangan lupa ada evaluasi..
Karena targetan kita sendiri yang buat, maka parameter keberhasilannya pun kita sendiri juga yang tentukan..
Misalnya dikatakan sukses jika mencapai >75% dari target yang telah ditentukan dan sebagainya.
Hal ini untuk apa? ya tentunya untuk menilai aktivitas kita selama bulan Ramadhan, dan tentunya untuk pelajaran/muhasabah untuk menjalani hari-hari berikutnya sampai tiba Ramadhan kembali.

Begitulah saudara-saudariku, tips ‘n trik untuk mencari cinta-Nya di bulan Ramadhan ini..
Bisa jadi, ini adalah Ramadhan terakhir kita, so, tak ada kata sia2 dalam menjalaninya..

Agar tidak ada lagi keraguan tentang cinta Allah di bulan Ramadhan, cobalah kembali menela’ah ayat alquran dalam surat Al Baqarah ayat 186.
(2:186) Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

Keunikan dari letak ayat ini adalah diletakkan di tengah kumpulan ayat tentang puasa dan ramadhan yang nota benenya hanya ada dalam surat Al Baqarah 183-187. Unik kan?
Semoga menginspirasi..Beginilah 30 hariku mencari cinta di bulan ramadhan :-)

Malang yang penuh ♥,  2 Ramadhan 1432 H 02:58
tak terasa sudah masuk waktunya 1/3 malam terakhir..

Sepekan sudah umur 21 tahun itu terlewati..
Ah..tak terasa..kesempatan untuk hidup akan terus dan terus berkurang..
tapi ada satu hal yang buat saya semakin bersyukur..
ini tentang tanggal di mana saya dilahirkan, tanggal yang spesial dalam hidupku..
Ya, ini tentang tanggal 13, entah kenapa, selalu ada hal yang baru yang kualami di hari pada tanggal itu di setiap tahunnya, dan memang belum pernah ku alami sebelumnya..
Otakku coba memflash back asumsiku ini, tahun per tahun di cek, dan ternyata memang hampir benar apa yang kuasumsikan dalam pikiranku…
Tapi saya tidak mampu mengingat semua di setiap tahunnya, hanya ada beberapa tahun saja yang coba saya reviewkan dalam tulisan ini..
- 2005 :
saya kelas 2 SMA, hal yang baru adalah saya baru memakai jilbab di tahun ini dan hanya beberapa hari sebelum tanggal 13 juli, alhasil di tahun ini Alhamdulillah bisa mengadakan syukuran bersama teman2 SMA dan PMR SMANSA dengan penampilan yang baru, banyak yang terkejut juga dengan penampilan baruku itu
- 2007 :
saya baru selesai melewati UAN SMA, beberapa waktu kemudian langsung berangkat ke Malang untuk bimbel STAN. Tepat tanggal 13 juli, mengadakan syukuran dengan mentraktir teman2 bimbel dan kostan untuk nonton harry potter 4 di Malang Plasa. Hehe..pengalaman baru dengan teman2 yang belum lama dikenal, tapi Alhamdulillah seru dan penuh syukur akhirnya bisa melanjutkan studi di Malang sesuai cita-cita
- 2008 :
1 tahun berlalu ternyata banyak mereformasi diriku, Alhamdulillah melalui tarbiyah, sedikit banyaknya mempengaruhi diriku ke arah2 yang positif. Alhasil tepat di tanggal ini dilalui dengan acara seharian temu kader Malang Raya daerah Sukun untuk pemenangan pemilihan kepala daerah. Hoho, ini hal yang paling baru dalam hidupku dan tak pernah ku bayangkan sebelumnya bisa melalui apa yang ku alami di hari itu
- 2009 :
Tahun ini benar2 masa di mana aktivitas organisasi di kampus semakin menggila, apalagi di barengi kegiatan PIMNAS yang dilaksanakan di UB, wah semakin rame saja ni kampusku di bulan Juli. Alhamdulillah di tahun ini diberi amanah sebagai koordinator SC PKK Maba 2009, ada rejeki sedikit, akhirnya bisa mengadakan syukuran bersama sahabat2 panitia PKK Maba saat itu. Hahay, mungkin pertama kalinya sekretariat BEM MIPA dipake acara milad nih..hehehe…dan satu hal lagi yang baru, dikarenakan pada saat PIMNAS di UB ada Pekan Buku Brawijaya, saya yang notabenenya penggila buku, berhasil memanfaatkan hadiah dari Ayah untuk membeli buku keren. Alhasil, >500ribu habis dalam beberapa hari hanya untuk buku. Hoho, tapi alhamdulillah akhirnya perpustakaan pribadiku bisa launching dalam bulan ini dengan tabungan2 buku yang cukup banyak, selain itu, tidak sedikit buku yang di beli ditahun 2009 ini tapi baru di baca di tahun 2011 ini ^^v
- 2010 :
Di tahun ini, masa studiku untuk KKN berlangsung di Kelurahan Togogan, Kecamatan Srengat, Blitar. Awalnya dilewati biasa-biasa saja, toh juga pada sibuk proker KKN. Eh, ternyata malamnya ada tragedi tumpeng berbentuk hati, spesial buatan bu lurah pula :-D . Halah halah..apa mau dikata, sempat menitikkan air mata nih saking terharunya diberi kejutan seperti itu. Apalagi, yang milad saat itu tidak hanya saya, tapi juga Wida, teman se-KKN, wah tambah sip ae..Benar-benar melewati hari itu di lokasi yang baru dan bersama keluarga baru..
- 2011 :
Akhirnya, nyampe juga di tahun ini..
Hehe, ternyata ada hal yang baru pula..Alhamdulillah..
Paginya, sama ibu dosen pembimbing diberi kesempatan untuk mengisi SP dengan memberikan tugas untuk mahasiswa yang sudah ditentukan oleh beliau dan beliau izin telat datang mengajar. Setelah tahu kalau ternyata itu adalah pertemuan SP yang pertama, alhasil saya pun mencoba mengisinya dengan mengajarkan materi yang menjadi tugas saat itu. Hmm, pertama kali merasakan menjadi dosen di depan mahasiswa2..cukup tegang juga sih, tapi alhamdulillah enjoy..belajar untuk mewujudkan cita-citaku pasca kampus nanti 
Selain itu, malamnya..diberi kejutan sama tim MHMMD Jatim dengan adegan mematikan lampu di aula, tempat pelatihan. Hoho..sedikit ngerasa aneh awalnya, tapi ternyata akhirnya mudeng, kalo ternyata everything is under setting (ngutip kata Isti)

Anyway guys, begitulah perjalan hidupku setiap melewati tanggal 13 juli..
Saya sadar, bahwa setiap waktu dan setiap saat Allah memberikan kejutan dengan skenario-Nya yang Maha Indah..lebih indah dari rencana hidupku 
Saya yakin, saat rencana dalam garis hidup yang kutuliskan bersinggungan dengan garis hidup dari kehendak Allah, maka itu menjadi satu titik emas yang luar biasa dalam hidupku..
Dan mulai sekarang juga saya akan selalu berusaha untuk merangkai rencana-rencana itu, bertanggung jawab di setiap waktunya, dan meng-connect-kannya dengan Sang Maha Penentu Rencana
Terima kasih ya Allah, Rabbul Izzati, Engkau telah mengirimkan orang-orang yang luar biasa dalam hidupku, sehingga saya bisa banyak belajar bersama mereka
Janganlah Engkau serahkan segala urusanku hanya pada diriku sendiri walau hanya sekejap mata pun, karena ku yakin, ku tak akan pernah sanggup melampauinya
Hasbunallah wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’mannashir..

This letter was read by Marwah Daud Ibrahim due to respecting Yoyoh Yusroh…
This letter was wonderful, I Can’t stop my tears falling down, enjoy…
—————————-
Yoyoh Yusroh, is a best friend, a teacher, and a partner in our struggle…

Yes…. Yoyoh Yusroh is my best friend, teacher, and friend in struggle. We were together in DPR and went through our days side by side. I believe she left so many inspirations, impressions and her long live fight for us to remember and follow.

We have known about her positive personality and appreciation to goodness. Many people understand how honest and pure she was. How she cared for women as well as for the education for children, and just how much she loved al Quran. And she was able to transfer that love not just to her family, but furthermore, to the ummah.
I would like to share with you what you may already know about her, that is her endless strive as a humanitarian fighter.

Before the inauguration of ICMI committee 2010-2015, I contacted Yoyoh Yusroh to once again become an ICMI-center committee. At that time she asked me to join her to attend Al Quds confrence in Khartoum, Sudan. Her explanation of the urgency in supporting the fight of the Palestinian cause really moved me, and I was even more moved when she said that we could use this opportunity to create a network with the center of the study of Al Quran in the middle East.

In Khartoum we shared a room together, we prayed together, and recited al Quran together. We also had our breakfast together while enjoying the view of the Nile river from the top of the hotel that we stayed in. in Sudan I witnessed Yoyoh Yusroh’s fight in supporting the Palestinian cause. She spoke in front of public figures from Sudan and she was highly respected.

She took very little rest. From one meeting to another, she made time to show me the pictures of the martyrs whenever she had the chance. “Imagine sister, over there you will have no campaign pictures, rather you would only see the pictures or names of the martyrs who fought in the name of Allah. In the hotel room she was always busy writing and sending emails in Latin and Arabic to her international colleagues.

Yoyoh Yusroh told me about her adventurous journey to Gaza in order to deliver an ambulance and other humanitarian aids to the people of Gaza. She also showed me videos and pictures of al Quds, where under it a building as already created. I was also introduced to public figures, most of them women, from so many nations. “This is sister Marwah, Inshallah she will help to fight for Palestinian cause in Indonesia as well as in Asia Pacific.” That sentence to me was like a hint to ask me to continue her fight that she had done for years.

She also said to me, “Many times people ask me, why make ourselves busy with people from other countries, when you have so many people suffer in your own?” she then answered, “caring for Palestine will not decrease our care to Indonesia. For we are still standing at the front line in teaching our nation’s assets, to help those who need it, when a natural disaster occurs etc. But it is an obligation and an honorable call for us to guard the sublimity of the masjid that was a part of Isra Miraj, which was mentioned in al Quran. And that masjid is Al quds.”

It was also in Sudan that I knew of Yoyoh Yusroh’s amazing side. Subhanallah, she was highly respected and admired by the international people. In a meeting that is usually attended by men, Yoyoh Yusroh was always needed even before the meeting began. And a lot of times she would be the only female in those meetings. Not only that she represented Indonesia, but she was a representation from south east Asia. It was through her that I heard about the Asia-pacific community conference for Palestine which we have now today.

Yoyoh Yusroh introduced me to some public figures, and when I mentioned to her about my desire to study the language of al Quran she immediately approached a notable person from Jordan. This person instantly asked for my mobile phone number so we can communicate directly in the future.

On the 21st of May 2011, Yoyoh Yusroh left in peace. The sea of people who filled DPR masjid as well as the graveyard where she was put to rest, the endless chant of takbir, was so similar to the videos of the Palestinian martyrs that she showed me in Sudan. Before she was led to the masjid, I had the honor to look at the face of my best friend, teacher and inspirator, and I gave her my respect, and gave her my last kiss on her right and left cheeks of the smiling face. A close friend of hers said to me that “Prior to her passing, Yoyoh Yusroh mention a lot about you sister Marwah.”

Yoyoh Yusroh is a mother and a best friend that we love and honor. We will continue your fight inshallah….
That hope is still there….Indonesia and the civilization of the world will inshallah be better owing to your struggle and the way that you have laid for us. Farewell….that hope is still there!

Farewell Yoyoh Yusroh. May you meet Khadijah, Aisyah, Hafsah, and have a lively chat with them in heaven….for you are our role model and inspiration…..

Inshallah, we will continue your fight, for Indonesia, for the liberty of Palestine, for the freedom of the holy masjid that millions of Muslims long for, Al Quds!

We love you, and Allah is most loving to you.

Your best of friend: Marwah Daud Ibrahim
Read on Charity Dinner at JCC Senayan Jakarta
29th June 2011
———————————–
thanks for the tags my brother, Aam..
May this note can inspire you :-)

A Prayer : Just For Muslimah :-)

Posted: June 12, 2011 in Artikel

“Peringatan Rasulullah: “Bukan termasuk golonganku orang-orang yang merasa khawatir akan terkungkung hidupnya karena menikah kemudian ia tidak menikah.” (HR. Thabrani). “

Apa yang menghimpit saudara kita sehingga MEREKA SANGGUP MENETESKAN AIR MATA. Awalnya adalah KARENA MEREKA MENUNDA APA YANG HARUS DISEGERAKAN, MEMPERSULIT APA YANG SEHARUSNYA DIMUDAHKAN. Padahal Rasululloh berpesan: “Wahai Ali, ada TIGA PERKARA JANGAN DITUNDA-TUNDA, apabila SHOLAT TELAH TIBA WAKTUNYA, JENAZAH APABILA TELAH SIAP PENGUBURANNYA, dan PEREMPUAN APABILA TELAH DATANG LAKI-LAKI YANG SEPADAN MEMINANGNYA.” (HR Ahmad) “

– M. Fauzil Adhim –

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

A Prayer “

Tuhanku…

Aku berdo’a untuk seorang pria yang akan menjadi bagian dari hidupku

Seseorang yang sungguh mencintaiMu lebih dari segala sesuatu

Seorang pria yang akan meletakkanku pada posisi di hatinya setelah Engkau dan Rasul-Nya

Seorang pria yang hidup bukan untuk dirinya sendiri tetapi untukMu

Wajah tampan dan daya tarik fisik tidaklah penting

Yang penting adalah sebuah hati yang sungguh mencintai dan dekat dengan Engkau

dan berusaha menjadikan sifat-sifatMu ada pada dirinya

Dan ia haruslah mengetahui bagi siapa dan untuk apa ia hidup sehingga hidupnya tidaklah sia-sia

Seseorang yang memiliki hati yang bijak tidak hanya otak yang cerdas

Seorang pria yang tidak hanya mencintaiku tapi juga menghormatiku

Seorang pria yang tidak hanya memujaku tetapi juga dapat menasihatiku ketika aku berbuat salah

Seseorang yang mencintaiku bukan karena kecantikanku tapi karena hatiku

Seorang pria yang dapat menjadi sahabat terbaikku dalam setiap waktu dan situasi

Seseorang yang dapat membuatku merasa sebagai seorang wanita ketika aku di sisinya

Tuhanku…

Aku tidak meminta seseorang yang sempurna namun aku meminta seseorang yang tidak sempurna,

sehingga aku dapat membuatnya sempurna di mataMu

Seorang pria yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya

Seorang pria yang membutuhkan doaku untuk kehidupannya

Seseorang yang membutuhkan senyumku untuk mengatasi kesedihannya

Seseorang yang membutuhkan diriku untuk membuat hidupnya menjadi sempurna

Tuhanku…

Aku juga meminta,

Buatlah aku menjadi wanita yang dapat membuatnya bangga

Berikan aku hati yang sungguh mencintaiMu sehingga aku dapat mencintainya dengan sekedar cintaku

Berikanlah sifat yang lembut sehingga kecantikanku datang dariMu

Berikanlah aku tangan sehingga aku selalu mampu berdoa untuknya

Berikanlah aku penglihatan sehingga aku dapat melihat banyak hal baik dan bukan hal buruk dalam dirinya

Berikanlah aku lisan yang penuh dengan kata-kata bijaksana,

mampu memberikan semangat serta mendukungnya setiap saat dan tersenyum untuk dirinya setiap pagi

Dan bilamana akhirnya kami akan bertemu, aku berharap kami berdua dapat mengatakan:

“Betapa Maha Besarnya Engkau karena telah memberikan kepadaku pasangan yang dapat membuat hidupku menjadi sempurna.”

Aku mengetahui bahwa Engkau ingin kami bertemu pada waktu yang tepat

Dan Engkau akan membuat segala sesuatunya indah pada waktu yang telah Engkau tentukan.

Amin….

(ternyata ada artikel keren seperti ini di lapieku..semoga pahalanya terus mengalir bagi yang menulis artikel ini)

Apakah ini juga doamu ya ukhti ? :-)

*tulisan ini bukanlah pemaksaan dari pemateri (Mbah Jiwo), tetapi adalah tugas yang diberikan dari si pemateri waktu ngisi (bukannya sama ya? krik krik krik)

Terlambat sekitar 2 jam, plus sempat kesasar ke tempat acara, tidak mengurangi semangat untuk mengikuti acara Training Jurnalistik oleh Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Ibnu Khaldun (LPPI). Acaranya bertempat di gedung Gema Insani Press (GIP) lantai3. Yang kerennya lagi, acara ini hanya untuk Muslimah lho..wah jadi para Muslim bisa ikut acara yang lain. Kalau kata pemateri sih yang boleh ikhwan dalam acara itu hanya pemateri saja..hahay, Alay..tapi cerdas!

[belum selesai, waktu habis, krik krik krik]

Malang Intelektual, 11 Juni 2011

Tulisanku, dakwahku ;-)

Bismillah, terinspirasi dengan apa yang kurasakan hari ini..

Ku yakin apa yang kuperoleh ini tak lepas dari mimpi yang kutulis di dinding kamarku

Okelah jika engkau masih tak percaya dengan kata Mimpi, ku akan menggantinya dengan kata Cita-cita..semoga bisa lebih mempercayainya.

Aku termasuk orang yang dulunya tidak bisa menuliskan cita-cita, setiap ditanya cita-citaku ingin menjadi apa, ku selalu tersendat menjawabnya, kalaupun menjawab, sepertinya jawaban yang terlontarkan dari lisan tidak sesuai dengan hati. Masih teringat, cita-cita terakhirku di SMA adalah ingin menjadi Arsitektur, tapi ternyata memang hati dan keadaan tidak mendukung cita-cita itu.

Hingga akhirnya aku menjadi orang yang bisa mendefinisikan cita-citaku dengan baik karena ku merasa sudah lebih mengenal diriku yang sesungguhnya seiring dengan bertambahnya usiaku. Tapi ku yakin, ini juga karena aku senantiasa belajar mengenal Tuhanku, ya, “Barang siapa yang mengenal dirinya, ia pasti mengenal Tuhannya”, prinsip yang selalu ku pegang.

Setelah bisa mendefinisikan cita-cita, ternyata itu saja tidak cukup. Ku butuh beberapa waktu untuk mencari, apa sebenarnya yang harus kulakukan setelah itu. Alhamdulillah, ku menemukan jawaban bahwa memang cita-cita itu harus ditulis dan dipajang. Agar tulisan-tulisan itu terparadigma dalam pemikiran kita hingga akhirnya otak di bawah sadar kita pun akan menstimulus tulisan-tulisan tersebut dalam pemikiran dan gerak tubuh kita. Itu yang ku pahami dan itu yang ku jalani. Bersyukurnya lagi adalah dengan menulis, aku akhirnya bisa dengan mudah mencari tahu jalan untuk menuju ke tiap cita-cita itu dan aku berusaha untuk konkrit dan komitmen dalam mencapainya. Tak selamanya mulus memang, hingga sekarang ada 3 mimpi yang sudah ku beri tanda silang yang artinya tidak mungkin lagi ku capai karena berbatasan dengan waktu dan kondisi sekarang. Tapi itu tidak menjadikan niatan ini surut.

Man Jadda Wa Jadda. Ya, dan hari ini ku rasakan betul-betul pertolongan dan karunia Allah SWT dalam membantuku meraih cita-cita. 1 cita-cita yang sudah kutuliskan sekitar 1 tahun yang lalu bisa ku coret hari ini. “Lolos ke MTQ Universitas Cabang LKTA”, cita-cita ini sebenarnya muncul setelah tahun lalu aku gagal lolos dalam seleksi Fakultas Cabang Hifdzil. Setelah muncul, tak lama aku berniat menuliskan cita-citaku di dinding kamar dan memasukkan 1 cita-cita ini ke dalam daftar yang ku pajang.

Otak ini selalu mengingatkanku akan cita-cita yang telah ku tulis, walaupun sesekali lupa dan harus ku baca lagi tulisan-tulisan itu.

Jika sudah jadi cita-cita, aku rasa tubuh ini tidak gampang capek dalam mencapainya, karena sudah ada ‘gerakan hati’ untuk menyelesaikannya. Alhamdulillah, senantiasa kurasakan ada semangat di tengah-tengah kekhawatiran, ketakutan, dan kepanikan. Memang tidak ada kata menyerah dalam hidupku selama itu belum ku ikhtiarkan dengan maksimal.

Dan hari ini, 1 cita-cita ku telah terjawab, terlebih Allah mengabulkannya melebihi apa yang aku tulis. Yang kutuliskan hanyalah lolos mewakili fakultas ke universitas, tapi ternyata diberi posisi pertama se-universitas, ditambah bonus tahun ini fakultas MIPA UB menjadi juara Umum MTQ 2011.

Alhamdulillah, sujud syukurku pada-Mu ya Rabb.

Ku menanti, dan akan terus menanti pertolongan dan barokahmu di setiap proses ikhtiarku, hingga ku serahkan tawakkal-ku pada-Mu.

Manusia hanya bisa berencana, Allah-lah Yang Menentukan

Memang kita butuh Mengelola Hidup dan Merencanakan Masa Depan

 

*Semoga bermanfaat dan memberi motivasi buat saudara-saudaraku untuk menuliskan semua cita-cita dan tak lupa connect-kan cita-cita itu pada Sang Maha Penentu segala Keputusan*

 

Malang yang sepi, 31 Maret 2011 01:14

-sedang menanti cita-cita mana lagi yang akan tercoret-

 

Siapa Pemimpin Mesir berikutnya ?

Posted: February 3, 2011 in Artikel

oleh : Hatta Syamsuddin

 

Jauh sebelum gelombang demonstrasi menuntut Husni Mubarok turun dari tahta kepresidenan negeri Kinanah bergolak, sebenarnya agenda pergantian kepemimpinan Mesir paska Mubarok telah lama bergaung. Dan puncaknya diperkirakan pada rencana pemilihan umum pada September 2011. Namun situasi tidak lantas berpihak kepada rakyat Mesir, karena Husni Mubarok dengan Partai Nasional Demokrat yang menjadi mayoritas tentu tak akan membiarkan kepemimpinan beralih atau keluar dari manhajnya selama ini.

 

Setidaknya ada dua nama – jauh sebelum reformasi Mesir ini bergulir – yang mencuat baik di internal Partai Nasional Demokrat maupun bagi kalangan  stakeholder Mesir seperti Amerika Serikat dan Israel. Kedua nama tersebut adalah Jamal Mubarok pewaris tahta Husni Mubarok, dan Omar Sulaiman  Kepala Badan Intelijen Mesir. Nama Al-Baredai sendiri baru muncul sekitar setahun belakangan ini menjelang pemilu September 2011.

 

Persaingan telah dimulai sejak delapan tahun yang lalu, saat Husni Mubarok bersikukuh untuk menolak jabatan Wakil Presiden baginya, sementara Omar Sulaiman pada waktu itu menjadi sosok yang paling layak menduduki jabatan tersebut. Husni Mubarok tidak ingin melejitkan nama Omar Sulaiman, karena ia memang menghendaki menjadi Firauan baru bagi Mesir dengan menjagokan anaknya Jamal Mubarok. Maka praktis fase setelah itu adalah persaingan keduanya untuk “cari muka” pada dunia luar, khususnya Amerika. Sudah bukan rahasia lagi, sebagaimana dikatakan oleh Mustafa Al-Fik , Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri Parlemen Mesir bahwa Presiden Mesir membutuhkan dua syarat , yaitu “ persetujuan Amerika dan Tidak melawan kepentingan Israel “.

 

Husni Mubarok memang mencoba menutup celah Omar Sulaiman dengan menolak penentuan posisi wakil presiden baginya, sehingga pada saat yang sama kesempatan bagi Jamal Mubarok menuju kursi presiden akan lebih terbuka. Namun Amerika kali ini ternyata punya pendapat lain, naluri demokrasi Paman Sam tidak menginginkan adanya pewarisan tahta dari Husni Mubarok kepada anaknya. Karenanya Amerika lebih menjagokan Omar Sulaiman, dan dengan jabatannya selama ini sebagai Kepala Badan Intelijen Mesir, nampaknya kerja sama selama ini diantara keduanya cukup membuat Amerika yakin untuk menancapkan Umar Sulaiman sebagai pemimpin masa depan Mesir.

 

Ini dilema yang harus dialami Husni Mubarok pada tahun-tahun terakhir ini. Pada satu sisi ia bersikeras untuk mewariskan tahta kepresidenan kepada anaknya, dimana Partai Nasional Demokrat dalam pemilu sebelumnya menang mutlak 90 % lebih, maka membuka jalan untuk ia terus mengusung putra mahkotanya tersebut. Namun pada sisi lain ia mendapati dua ‘hambatan’ besar, yaitu keengganan Amerika dan kritikan tajam dari internal Mesir, khususnya partai oposisi terbesar dan tersolid Ikhwanul Muslimin.

 

Lalu siapa sebenarnya Omar Sulaiman dan mengapa ia bisa bergandengan mesra dengan Amerika, dan bahkan mendapat restu dari Amerika dan Israel ? Omar Sulaiman dengan kapasitasnya sebagai Kepala Badan Intelijen Mesir selama satu dasawarsa terakhir ini, jelas-jelas telah menunjukkan prestasi yang membuka Amerika dan Israel jatuh hati. Bukan saja ia mengamankan kepentingan Amerika dan Mesir di Mesir, namun lebih dari itu tangan dingin Umar Sulaiman telah mengambil banyak peran dalam kejadian-kejadian penting menyangkut penjajahan Israel atas Palestina selama sepuluh tahun ini. Kejadian meninggalnya Arafat di rumah sakit militer Percy di Paris, Prancis pada 11 November 2004, yang enam tahun kemudian –baru setahun lalu- diketahui sebabnya adalah diracun dengan zat Thalium, adalah hasil kerja agen Mossad yang diberikan jalan diam-diam oleh Umar Sulaiman.  Bukan itu saja, semua kejadian penting menyangkut Palestina, dari mulai embargo, pemilu, bahkan perang Januari 2009 di Gaza adalah buah dari keterlibatan penuh Umar Sulaiman selaku Kepala Badan Intelijen, meski sama-sama kita ketahui usaha tersebut tak sepenuhnya berhasil dengan hengkangnya Israel dari gaza dengan wajah penuh kekalahan. Pada hakikatnya, selama sepuluh tahun ini Umar Sulaiman telah menjadi sahabat yang baik bagi Israel dalam setiap perbincangan dan pembahasan mengenai Palestina. Setiap pemimpin Israel –siapapun dia – bisa dipastikan menjadikan Umar Sulaiman sebagai orang terdekatnya.

 

Jika kita melihat latar belakang ini, maka sungguh bukan hal yang mengagetkan jika kemudian setelah bergolaknya revolusi Tunisia yang dengan cepat menular ke Mesir, Husni Mubarok pun kehilangan akal untuk melanjutkan tahtanya dengan mulus, apalagi mewariskannya ke Jamal Mubarok. Maka exit strategy telah dibahas tuntas di Amerika, dengan segera memerintahkan Mubarok untuk mengangkat Omar Sulaiman sebagai wakil Presiden tepat pada saat demonstrasi telah bergejolak hebat. Pengangkatan Omar Sulaiman sebagai Wakil Presiden, adalah mengulang pesanan Amerika delapan tahun lalu saat Husni Mubarok masih kokoh di kursi keprisedannya. Namun kali ini ia tidak bisa menolak lagi.

 

Sehingga dengan mudah skenario Amerika terbaca, yaitu pada saat yang genting Husni Mubarok harus hengkang misalnya, maka yang naik adalah Umar Sulaiman, yang dalam hal ini adalah ‘putra mahkota’ Amerika dan Israel yang sudah diproyeksikan sejak delapan tahun lalu untuk mendampingi Husni Mubarok.

 

Rakyat Mesir khususnya partai Oposisi tahu persis akan scenario busuk ini. Alih-alih Omar Sulaiman akan bisa mengawal mesir sampai Pemilu September nanti, kemungkinan ia akan melanjutkan kembali rejim yang represif yang tidak akan pernah tahu sampai kapan berakhirnya. Karena itulah, kelompok Gerakan 6 April, partai oposisi el-Ghad, Ikhwanul Muslimin, dan partai el-Wafd serempak menggiring opini demonstran untuk menolak Omar Sulaiman, dan mengusung calon Muhammad El-Baradai sebagai calon pemimpin Mesir berikutnya. El-Bareadi dengan latar belakang keilmuannya, sebagai Kepala Badan Atom PBB dan pernah mendapatkan Nobel Perdamaian, meskipun lebih dekat kepada Sekuler, namun nampaknya menjadi pilihan alternative bagi oposisi yang ada, termasuk bagi ikhwanul Muslimin. El-Baredai bukan tipe sekuler yang berkiblat kepada Amerika soal terorisme, ia mengenal dan mengetahui persis tentang Ikhwanul Muslimin, dan menolak jika ada yang menyamakannya dengan Al-Qaida dan sebagainya.

Nama lain yang baru muncul akhir-akhir ini adalah Amru Musa, Sekjend Liga Negara Arab yang juga mantan menteri Luar Negri selama sepuluh tahun di bawah Husni Mubarok.  Amru Musa menegaskan tidak akan ikut pemilihan Sekjend kembali, dan juga tidak menolak saat disindir tentang kemungkinannya maju sebagai pemimpin Mesir mendatang. Amru Musa –sekalipun dikenal piawai sebagai diplomat-  nampaknya tidak punya kendaaraan yang tangguh untuk menggapai posisi puncak itu, partai oposisi telah serempak mengusung el baradai. Belum lagi ‘trauma’ sebagian rakyat mesir karena ia adalah ‘pemuda’ didikan Husni Mubarok sejak awalnya.

 

Dengan demikian, lautan demonstrasi di pusat kota Kairo ini barangkali akan mengubah banyak hal dan analisa selama ini, namun jika yang terjadi adalah ‘sekedar’ hengkangnya Husni Mubarok tanpa tergusurnya omar Sulaiman, maka hari-hari berikutnya justru akan lebih menegangkan ! . Wallahu a’lam

Pemimpin Al-Ikhwan Al-Muslimun (IM), Hasan Al Banna ternyata pernah menjadi anggota Panitia Pembela Kemerdekaan Indonesia di Mesir. Atas desakan IM, Mesir menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan RI. Dengan demikian, lengkaplah syarat-syarat sebuah negara berdaulat bagi RI.

***

Kota pelabuhan Iskandariyah pertengah Juli 1945. Jam kayu di sebuah penginapan murah di kota pelabuhan Mesir telah menunjuk angka 22.00 waktu setempat. Di satu ruangan yang tak seberapa besar, empat-puluhan kelasi kapal berkebangsaan Indonesia berkumpul. Sejumlah mahasiswa Indonesia yang tengah studi di Mesir terlihat memimpin rapat. Beda dengan pertemuan sebelumnya, malam itu atmosfir rapat terasa agak emosionil! Para kelasi Indonesia yang bekerja di berbagai kapal asing yang tengah merapat di Iskandariyah, Port Said, dan Suez itu banyak yang yakin, jihad fii sabilillah yang tengah digelorakan banga Indonesia melawan penjajah belanda dalam waktu dekat akan sampai pada puncaknya.

Muhammad Zein Hassan, salah seorang mahasiswa Indonesia yang hadir, berpesan pada para kelasi agar mulai menabung. “Di saat terjadinya jihad, mereka sebaiknya meninggalkan kapal-kapal sekutu agar tidak menodai perjuangan. ”

Sambutan para kelasi yang dalam kesehariannya jauh dari tuntunan agama itu sungguh mengharukan. Mereka dengan sepenuh hati menyanggupi hal tersebut. “Jika fatwa sudah turun, kami akan mematuhi,” ujar salah seorang dari mereka.

Tak terasa, jam telah berada di angka satu. Acara ditutup dengan sumpah setia dengan perjuangan bangsanya yang nun jauh di seberang lautan. Seluruh peserta mengangkat tangan kanan dan dikepalkan. Dengan menyebut nama Allah SWT, mereka bertekad akan membantu dengan sekuat tenaga jihad fii sabilillah yang akan digelorakan bangsanya dalam waktu dekat ini.

Sumpah para kelasi tersebut tidak main-main. Terbukti di kemudian hari, dua bulan setelah proklamasi dibacakan Soekarno-Hatta, dua orang kelasi Indonesia tiba di Kairo dengan berjalan kaki dari Tunisia.

“Saat kami tanya mengapa berjalan kaki sejauh itu, mereka menjawab bahwa mereka menerima fatwa yang dibawa teman-teman mereka dari Indonesia. Fatwa itu menyatakan haram hukumnya bekerja dengan orang kafir yang memerangi kaum Muslimin, ” ujar Zein Hassan.

Walau tidak punya cukup uang, dua orang kelasi itu segera meninggalkan kapal sekutu tempatnya bekerja dan berjalan kaki menuju Mesir, karena di Mesir-lah berada banyak orang sebangsanya. Di Mesir sendiri kala itu tengah berkembang sikap antipati terhadap penjajahan Inggris. Sikap non kooperatif terhadap penjajah Inggris ini dicetuskan oleh organisasi Al-Ikhwan Al-Muslimun yang mendapat sambutan luar biasa dari rakyat Mesir.

Sebagai gerakan dakwah yang menembus sekat geografis, Al-Ikhwan Al-Muslimun telah memiliki “ jaringan iman” dengan berbagai gerakan Islam di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Sebab itu, ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, Sekutu dengan sekuat tenaga memblock-out berita ini masuk ke Timur Tengah. Dikhawatirkan jika kemerdekaan Indonesia sampai didengar umat Islam di sana, ini bisa menjadi inspirasi bagi gerakan serupa di Timur Tengah.

Serapat-rapatnya sekutu menutup informasi ini, akhirnya pada awal September 1945, sebulan setelah kemerdekaan Indonesia dibacakan, berita ini sampai juga ke Mesir. Mansur Abu Makarim, seorang informan Indonesia yang bekerja di Kedutaan Belanda di Kairo, membaca berita kemerdekaan Indonesia dalam suatu artikel di majalah Vrij Nederland. Bagai angin berhembus, berita ini dengan cepat menyebar ke Dunia Islam. Koran dan radio Mesir memuat berita kemerdekaan RI dengan gegap gempita. Para penyiar dengan penuh semangat mengatakan bahwa inilah awal kebangkitan Dunia Islam melawan penjajahan Barat.

Di Mesir saat itu, seorang Arab hanya dihargai sepuluh pound Mesir jika dibunuh atau dilindas kendaraan militer Sekutu tanpa hak mengadu atau menggugat. Sebab itu, proklamasi kemerdekaan sebuah negeri Muslim terbesar di dunia ini disambut dengan luapan kebahagiaan. Di sejumlah kota, Al-Ikhwan Al-Muslimun segera menggelar munashoroh besar-besaran mendukung penuh kemerdekaan Indonesia. Ini dijadikannya momentum momentum yang bagus untuk memerdekakan Mesir dari Inggris. Bukan itu saja, sejumlah ulama di Mesir dan Dunia Arab dengan inisiatif sendiri membentuk “ Lajnatud Difa’i’an Indonesia” (Panitia Pembela Indonesia). Badan ini dideklarasikan pada 16 Oktober 1945 di Gedung Pusat Perhimpunan Pemuda Islam dengan Jendral Saleh Harb Pasya sebagai pimpinan pertemuan. Hadir dalam acara itu antara lain Syaikh Hasan Al Banna dan Prof. Taufiq Syawi dari Al-Ikhwan Al-Muslimun, Pemimpin Palestina Muhammad Ali Taher, dan Sekjen Liga Arab Dr. Salahuddin Pasya.

Dalam pertemuan yang semata didasari ukhuwah Islamiyah, pakar hukum internasional Dr. M. Salahuddin Pasya menyerukan negara-negara Islam untuk sesegera mungkin mendukung, membantu, dan mengakui kemerdekaan RI. Selain itu, Panitia Pembela Indonesia juga mengancam Inggris agar tidak membantu Belanda kembali ke Indonesia. “Jika Inggris membantu Belanda untuk kembali ke Indonesia, maka Inggris akan menuai kemarahan Dunia Islam di Timur Tengah !” ancam Salahuddin Pasya.

Sejarah telah menulis, Inggris tetap membela “ kawan seakidah” bernama Belanda. Pasukan NICA membonceng Sekutu kembali ke Indonesia. Pada 25 Oktober 1945, sejumlah ulama NU pimpinan KH. Wahid Hasyim bertemu dan mengeluarkan fatwa jihad fii sabilillah melawan penjajah. Fatwa ini bergema ke seluruh nusantara dan disambut dengan gegap gempita.

Fatwa jihad inilah yang melatarbelakangi pertempuran 10 November 1945 di Surabaya (hingga kini 10 November diperingati sebagai hari Pahlawan di Indonesia, red.). Untuk memompakan keberanian rakyat Surabaya, Bung Tomo lewat corong radio perlawanan – cikal bakal RRI – terus menerus mengingatkan para mujahid bahwa gerbang surga telah terbuka luas bagi mereka yang syahid. Hanya semangat jihad dan keridhaan Allah SWT yang mampu membuat ribuan rakyat Surabaya berani melawan pasukan Sekutu bersenjata lengkap.

Kedahsyatan pertempuran Surabaya bergema hingga ke Dunia Arab. Keberanian umat Islam Surabaya mengobarkan jihad melawan pasukan Sekutu yang habis mabuk kemenangan dalam Perang Dunia II, ditambah tewasnya satu Jenderal Sekutu – Malaby – di Surabaya, dirasakan oleh kaum Muslimin Timur Tengah sebagai bagian dari kemenangan Islam atas kaum kafir. Upaya perlawanan terhadap Inggris di Mesir pun kian membuncah.

Di berbagai lapangan dan Masjid di Kairo, Mekkah, Baghdad, dan negeri-negeri Timur Tengah, dengan serentak umat Islam mendirikan sholat ghaib untuk arwah para syuhada di Surabaya. Melihat fenomena itu, majalah TIME (25/1/46) dengan nada salib menakut-nakuti Barat dengan kebangkitan Nasionalisme-Islam di Asia dan Dunia Arab. “Kebangkitan Islam di negeri Muslim terbesar di dunia seperti di Indonesia akan menginspirasikan negeri-negeri Islam lainnya untuk membebaskan diri dari Eropa. ”

Dukungan negara-negara Islam di Timur Tengah terhadap kemerdekaan Indonesia tidak saja dilakukan dalam tingkat akar rumput, namun juga dalam dunia diplomasi. Dalam berbagai sidang di Perserikatan Bangsa-Bangsa, terlihat dengan jelas adanya perbedaan sikap antara negeri-negeri Muslim yang mendukung Indonesia dengan negeri-negeri salib yang memandang Indonesia masih bagian dari Belanda.

Wakil-wakil dari Indonesia di sidang PBB, diperbolehkan ikut sidang setelah negeri-negeri Arab mengakui kedaulatan RI, dalam menghadapi serangan pihak Sekutu sering menanggapinya dengan cara diplomatis dan terkesan lunak. Hal ini dikecam keras Muhammad Ali Taher dari Palestina.

“Mengapa kamu masih saja bersikap diplomatis terhadap seseorang yang ingin menghancurkan negeri kamu !” sergahnya mengingatkan wakil dari Indonesia agar tidak takut melawan kezaliman.

Di Mesir, sejak diketahui sebuah negeri Muslim bernama Indonesia memplokamirkan kemerdekaannya dari penjajah kafir, Al-Ikhwan Al-Muslimun tanpa kenal lelah terus menerus memperlihatkan dukungannya. Selain menggalang opini umum lewat pemberitaan media, yang memberikan kesempatan luas kepada para mahasiswa Indonesia untuk menulis tentang kemerdekaan Indonesia di koran-koran lokal miliknya, berbagai acara tabligh akbar dan demonstrasi pun digelar. Para pemuda dan pelajar Mesir, juga kepanduan Ikhwan, dengan caranya sendiri berkali-kali mendemo Kedutaan Belanda di Kairo. Tidak hanya dengan slogan dan spanduk, aksi pembakaran, pelemparan batu, dan teriakan-teriakan permusuhan terhadap Belanda kerap dilakukan mereka.

Kondisi ini membuat Kedutaan Belanda di Kairo ketakutan. Mereka dengan tergesa mencopot lambang negaranya dari dinding Kedutaan. Mereka juga menurunkan bendera merah-putih-biru yang biasa berkibar di puncak gedung, agar tidak mudah dikenali pada demonstran. Kuatnya dukungan rakyat Mesir atas kemerdekaan RI, juga atas desakan dan lobi yang dilakukan para pemimpin Al-Ikhwan Al-Muslimun, membuat pemerintah Mesir mengakui kedaulatan pemerintah RI atas Indonesia pada 22 Maret 1946.

Inilah pertama kalinya suatu negara asing mengakui kedaulatan RI secara resmi. Dalam kacamata hukum internasional, lengkaplah sudah syarat Indonesia sebagai sebuah negara berdaulat. Bukan itu saja, secara resmi pemerintah Mesir juga memberikan bantuan lunak kepada pemerintah RI. Sikap Mesir ini memicu tindakan serupa dari negara-negara Timur Tengah. Untuk menghaturkan rasa terima kasih, pemerintah Soekarno mengirim delegasi resmi ke Mesir pada tanggal 7 April 1946. Ini adalah delegasi pemerintah RI pertama yang ke luar negeri. Mesir adalah negara pertama yang disinggahi delegasi tersebut.

Tanggal 26 April 1946 delegasi pemerintah RI kembali tiba di Kairo. Beda dengan kedatangan pertama yang berjalan singkat, yang kedua ini lebih intens. Di Hotel Heliopolis Palace, Kairo, sejumlah pejabat tinggi Mesir dan Dunia Arab mendatangi delegasi RI untuk menyampaikan rasa simpati. Selain pejabat negara, sejumlah pemimpin partai dan organisasi juga hadir. Termasuk pemimpin Al-Ikhwan Al-Muslimun Hasan al Banna dan sejumlah tokoh Ikhwan dengan diiringi puluhan pengikutnya.

Setiap perkembangan yang terjadi di Indonesia, diikuti serius oleh setiap Muslim baik di Mesir maupun di Timur Tengah pada umumnya. Para mahasiswa Indonesia yang saat itu tengah berjuang di Mesir dengan jalan diplomasi revolusi, senantiasa menjaga kontak dengan Ikhwan.

Ketika Belanda melancarkan agresi Militer I (21 Juli 1947) atas Indonesia, para mahasiswa Indonesia di Mesir dan aktivis Ikhwan menggalang aksi pemboikotan terhadap kapal-kapal Belanda yang memasuki selat Suez. Walau Mesir terikat perjanjian 1888 yang memberi kebebasan bagi siapa saja untuk bisa lewat terusan Suez, namun keberanian para buruh Ikhwan yang menguasai Suez dan Port Said berhasil memboikot kapal-kapal Belanda. Pada tanggal 9 Agustus 1947, rombongan kapal Belanda yang dipimpin kapal kapal Volendam tiba di Port Said. Ribuan aktivis Ikhwan yang kebanyakan terdiri dari para buruh pelabuhan, telah berkumpul di pelabuhan utara kota Ismailiyah itu.

Puluhan motor boat dan motor kecil sengaja berkeliaran di permukaan air guna menghalangi motor-boat motor-boat kepunyaan perusahaan-perusahaan asing yang ingin menyuplai air minum dan makanan kepada kapal Belanda itu. Motor-boat para ikhwan tersebut sengaja dipasangi bendera merah putih. Dukungan Ikhwan terhadap kemerdekaan Indonesia bukan sebatas dukungan formalitas, tapi dukungan yang didasari kesamaan iman dan Islam.

Walau pemimpin Ikhwan Hasan Al Banna menemui syahid ditembak mati oleh begundal rezim Mesir di siang hari bolong, 12 Februari 1949, dukungan ikhwan terhadap muslim Indonesia tidaklah berakhir. Dakwah tiada kenal kata akhir, hingga Islam membebaskan semua manusia.

___

Sumber: Majalah Saksi – No. 21 Tahun VI, 18

Agustus 2004. Oleh: Rizki Ridyasmara

(sepenggal catatan renungan selama perjalanan di bus)

Pernah naik bus? saya yakin di antara anda, sudah banyak yang pernah naik bus. Saat menaiki kendaraan umum itu, sangat jarang kita tidak berjumpa dengan sosok yang berlalu lalang dalam bus, naik gratis tapi turun tidak bayar, itulah sosok pengamen bersama penjual berbagai macam barang. Tidak hanya satu dalam satu waktu di satu bus, tapi juga bisa lebih di saat yang sama dan terkadang saling bergiliran. Aliran lagu dan musik yang di bawa pun heterogen, slow, pop, rock (pernah gak ya?), bahkan dangdut, hampir semuanya ada. Penampilan pengamen pun juga bermacam-macam, mulai dari pakaian biasa hingga ala vokalis band pun ada.

Tapi ada satu lagi yang bervariasi, yaitu USIA. Ya, pengamen yang ditemui di bus memiliki usia yang berbeda. Dan inilah yang saya alami saat menumpangi bus menuju Probolinggo.

Pengamen tiga generasi, itulah  sebutan dari saya, 3 pengamen yang saya dengarkan lantunan suaranya di bus.

Pengamen pertama naik di saat bus baru berjalan dari terminal Arjosari. Lagu yang dinyanyikan banyak, hampir 15 – 20 menit baru selesai bernyanyi. Dan lagunya pun menurutku “lurus-lurus” saja. Okelah, saya tertarik untuk memberi duit untuknya. Dompetpun saya ambil dan siap untuk menyerahkannya. Saya pun serius membaca buku MHMMD sembari menunggu tempat untuk meletakkan uang ini. Saat “penagihan” pun tiba, hmm, penampilan pengamennya rapi, kalau dilihat sekilas umurnya sekitar 30-an ke atas, pantas saja lagunya sopan-sopan. Saya pun menyerahkan uang yang sudah saya genggam.

Selang tak sampai sekitar 10 menit, terdengar sosok baru yang lalu lalang sambil membawa gitar. Kemudian dia bersuara layaknya MC membuka acara. Hmmm, suara anak kecil. Astaghfirullah, ke mana orang tua anak ini, pikirku.  Dia pun memulai “aksi panggung”-nya. Wah, sayangnya hati saya tidak tergerak untuk mengeluarkan duit lagi. “gak ah, cukup satu saja”, batinku. Suaranya dan lagunya kurang nyaman di dengar juga. Dan kemunculan dia terlalu cepat dari pengamen sebelumnya. “Hmmm, nampaknya dia belum profesional terkait manajemen strategi untuk kemunculan satu pengamen setelah pengamen yang lain sebelumnya tampil”, diskusi dalam hatiku semakin kuat. Adik kecil ini tidak lama mengamennya, seingat saya tadi cuma satu lagu yang dilantunkan. Dan saya pun lebih memilih untuk memberinya doa agar kelak dia menjadi generasi muda yang lebih baik lagi kondisi hidupnya. Okelah, dan bus pun tetap melaju ke arah tujuannya.

Baru sampai Purwosari ternyata. Ku buka buku MHMMD lembar demi lembar, hanya bisa berdzikir membaca buku itu, luar biasa isinya. Alhasil saya pun semakin serius sampai tak lagi memperhatikan sudah di mana bus yang saya tumpangi ini melaju.

Lama setelah itu, ternyata muncul beberapa sosok, berperawakan seperti rocker, baru mematikan puntung rokoknya setelah naik bus. Pakai kalung, gelang, dan beberapa aksesoris lainnya. Tak lupa membawa “alat saktinya”, gitar. Nampaknya ini khas anak band banget, ya dan mereka inilah pengamen ketiga yang mewakili dari generasi muda. Sejak awal, saya terganggu dengan sosoknya, dan setelah mendengar nyanyian mereka, haduuuuuh..berisik sekali, saya pun semakin gusar karena di saat yang sama, isi bacaan di buku MHMMD sangat menarik. Tidak hanya itu, murottal yang tersetel dari tadi pun tak terdengar blas, berbeda dengan 2 pengamen sebelumnya. Mungkin karena ini saking kerasnya mereka menyanyikan lagu.

Ya, mau bagaimana lagi, ini bukan bus saya, jadi hanya bisa bersabar dan terus melalui halaman demi halaman buku MHMMD.

Ngasih gak ya, ngasih gak ya, pikirku tiba-tiba. Setelah sekelompok pengamen muda ini sudah menyanyikan beberapa lagu. Tiba-tiba terlintas syair yang mereka bawa dengan menyebutkan kata-kata “DOSA” dan “TUHAN”, serta “AMPUNAN”. Wah, ini lagu apa, kok tiba-tiba menjurus ke arah Religi. Hmm, entah kenapa, saya jadi mau memberikan duit saya lagi. Saya juga sudah mau turun, ya saat memberi dengan doa saya berharap rejeki ini bisa membuat mereka menjadi orang yang lebih mengenal Tuhannya dengan mengenal dirinya.

Itulah sepenggal gambaran di bus.  Dan sedikit banyaknya itu juga menggambarkan kondisi Indonesia sekarang. Kemiskinan menggerogoti hingga 3 generasi.

Ah jadi mengenang di pelatihan MHMMD kemarin. Betapa potensi Indonesia ini sangat banyak, tapi SDMnya sangat miskin dari segi kualitas walaupun sangat kaya (baca : banyak) dari segi kuantitas. Apa karena kita merasa terus kaya ya alam Indonesia ini, sampai-sampai kita lupa bahwa kekayaan itu satu per satu, perlahan ataupun cepat, telah digerogoti oleh bangsa pendatang, dan akhirnya baru tersadar, apa yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan potensi-potensi itu?

Mengutip dari buku MHMMD (basic life skills), bunda Marwah menulis bahwa cacing saja bisa menyuburkan tanah, ulat sutra setelah makan daun murbei bisa menghasilkan ratusan meter benang sutra yang demikian indah, lebah menghasilkan madu, itik memproduksi telur, sapi menghasilkan susu dan daging. Garam saja membawa fungsi rasa asin, matahari membawa terang, angin membawa kesejukan, bunga dengan keindahannya yang demikian memukau. Lantas, pertanyaan kita adalah, akan menghasilkan apakah kita dalam hidup kita yang singkat ini?

Mari bermuhasabah saudaraku..laa haula walaa quwwata illa billah..

Pasuruan dengan “ya sudahlah”-nya,

27 Januari 2011 00:27 WIB

http://www.putriirvanna.wordpress.com/

 

by Sarrah ‘septy Dhe’ Dzakiyyah (saudari dari Universitas Paramadina)

 

Aku Lelah!!! Kuusap wajahku dengan kedua tanganku. Kuhapus sisa-sisa air mata yang membasahi pipi. Tak segera aku bangkit dari sujud panjangku. Hanya diam dan termenung ditemani kedua malaikat pencatat amalku, disaksikan oleh makhluk-makhluk ALLAH Azza wa Jalla, dan tentunya oleh Rabbku..

Lelah. Penat. Capai. Ketiga kata itu tak cukup menggambarkan kondisiku beberapa hari ini. Muak. Kesal. Hampa. Ketiga kata itupun tak cukup untuk menggambarkan kondisi hatiku belakangan ini.

agenda,amanah,dan kerja lagi. Hanya itu yang dituntut dari diriku. Seperti kuli! Tak ubahnya seperti buruh.. Bahkan mungkin lebih rendah. Kuli dan buruh punya waktu untuk menghela nafas dan diperhatikan haknya. Bahkan ada undang-undang penetapan UMR.. Aku? Digaji pun tidak. Jangankan uang sepeser yang kudapat, sudah cukup uang yang aku keluarkan selama ini.

Ukhuwah. Mana ukhuwah yang selalu digembar-gemborkan oleh orang-orang yang diberi label aktivis, label yang sama seperti diriku sandang? Hubungan yang terbina hanya hubungan kerja. Tak lebih! Siapa yang mau tahu masalahku? Mereka bilang ukhuwah itu saling, saling memberi dan menerima. Tapi…mana buktinya? Berapa pulsa yang kuhabiskan untuk mengabari mereka tentang masalahku, hanya segelintir orang yang membalas. Aah…b***** *t! Hanya ketika perlu mereka menghubungiku, ketika aku perlu? Aku sendiri akhirnya yang harus menjalaninya, menangis sendiri, tak ada yang membantuku membawa beban ini. Tak ada.

Pikiranku kembali memutar percakapan aku dan kedua orang saudariku. Ketika aku mewacanakan siapa yang akan menggantikan diriku jika aku harus pergi. Keduanya enggan. Ingin memperbaiki hidup dan mempersiapkan masa depan jawab mereka. Tak bolehkah kami melakukan itu? Bukan untuk kami Insya Allah.

Mungkin jamaah sama seperti dunia kedokteran. Tidak mengenal kata hak dokter dan kewajiban pasien. Yang ada hanyalah hak pasien dan kewajiban dokter. Ya…di jamaah ini yang penting amanah terlaksana, tidak menghambat. Mungkin enak menjadi manusia yang bisa dengan mudahnya mengatakan mundur dari gerakan ini, bisa mengerjakan apa yang dimau. Aah..ukhti, jika aku bisa aku pun ingin meraih mimpi, belajar ilmu kedokteran sebanyak mungkin lalu lulus dan menjadi dokter yang berguna bagi umat.. Tapi tidak. Pilihan itu tidak pernah ada dihadapanku. Tidak ada yang menjamin aku akan menjadi dokter yang berguna kelak jika aku hanya belajar.

Pikiranku melayang membayangkan kondisiku belakangan ini. Betapa buruknya. Kulihat lembar amal yaumi’anku. Hanya beberapa kewajiban yang aku penuhi. Tak terasa air mataku kembali mengalir. Aah…ya Rabb, inikah orang yang sebut sebagai aktivis? Orang yang kau beri gelar Khoiru Ummah? Orang yang tidak berdaya begitu Kau tinggalkan, tapi masih saja congkak meninggalkan diri-Mu. Dan menyalahkan orang disekitarnya atas kehampaan diri.. Ahh…betapa rendahnya.

Kulihat meja belajarku. Masih tergeletak buku Profil Kader, buku yang mesti aku buat referensinya . Tak ada jadwal match. Tersadar betapa kata aktivis begitu berat. Tersadar gelar kader begitu tak pantas aku sandang. Bahkan standar kader minimal pun belum bisa kulampaui.

Di saat kondisiku yang begitu buruk, ALLAH Azza wa Jalla masih berbaik hati membangkitkan jiwa pejuang dalam diri prajurit kecil ini. Kabar tentang kekalahan di beberapa daerah yang menggelar pilkada. Kabar tentang kealpaan seorang kader yang telah menjadi sorotan publik. Kabar tentang mundurnya beberapa rekanku menampar diri ini. ”Mau seperti mereka?”.

Tamparan itu terasa begitu keras. Pedih. Mas’ulku di satu wajihah beberapa tahun yang lalu, pergi memilih jalan lain. Kakak kelasku menyatakan selamat tinggal, karena langkahnya ”dijegal”. Tak terhitung berapa banyak saudaraku berhenti dengan alasan ingin memperbaiki akademisnya tapi kemudian tenggelam dalam hidup duniawi. Bahkan kabar seorang saudariku di fakultas lain menyatakan berhenti dari dakwah yang ia usung sejak SMP hanya karena ia berpacaran dengan seorang Nasoro. Na’udzubillah. Jangan jadikan aku salah seorang diantara mereka ya Rabb.

Teringat perkataan Imam Syahid Hasan Al Banna, ” Dunia adalah tempat untuk bekerja. Karena kita kan beristirahat di surga.”. Berkelebat perkataan seorang saudara, ”Jika antum tidak ingin sibuk. Sok mangga, keluar dari jalan ini. Jika antum tidak ingin lelah. Silakan meninggalkan jalan ini. Karena jalan ini tidak membutuhkan antum, tapi antumlah yang membutuhkan jalan ini.”.

Berkelebat bayangan saudara-saudaraku di negeri para nabi, Palestina. Tak hanya mereka, saudaraku di Irak, Cechnya, Moro, dan tempat lainnya rela memberikan harta, raga bahkan jiwanya untuk ditukarkan dengan surga. Sedangkan diriku? Berapa banyak harta yang telah aku gunakan untuk berjuang di jalan ini? Adakah raga terluka, darah menetes selama ini? Tak sebanding!

Bahkan Umar r.a. berkata ”Jika hanya ada seorang yang akan mengusung dakwah ini, maka akulah orangnya.”. Sedangkan aku? Sudah sunnatullah jalan ini begitu berat, penuh rintangan, maka hanya orang-orang terpilihlah yang Ia izinkan ada di jalan ini. Sudah digariskan perjuangan itu pahit, karena surga itu manis.

Kuraih hape-ku. Kubuka inboxnya, kucari sebuah pesan dari saudaraku, pesan yang selalu mengingatkanku, ”Sungguh! Jamaah ini besar dan kokoh karena keikhlasan dan mujahadah para muassis kita. Mereka bak cahaya yang menyinari semesta. Akankah cahaya itu padam karena kemaksiatan kita? Tanyakan pada hatimu…”

Kembali aku tersungkur, pundakku bergetar, air mata kembali mengalir menyadari kealpaan diri. Picik! Sombong! Angkuh! Tak ada kata yang tepat untuk menggambarkan diriku saat ini.

Ya Rabb…izinkan kami tetap berjuang di jalan-Mu ya Rabb. Jangan jadikan kami manusia-manusia yang tergantikan, manusia-manusia yang Engkau gantikan dengan manusia-manusia yang lebih baik. Bantu kami untuk tetap ikhlas Ya Rabb, agar yang kami lakukan tidak menjadi kesia-siaan. Ampuni kami Ya Rabb. Mungkin karena kamilah dakwah ini lemah. Mungkin karena kemaksiatan dan kesalahan yang kami lakukanlah Engkau tunda kemenangan dakwah. Mungkin karena kesombongan dan kepicikan kami saudaraku mundur dan pergi dari jalan ini. Ampuni kami Ya Rabb. Sungguh! Engkau tidak pernah membutuhkan kami, kamilah yang membutuhkan Engkau. Jadi jangan pernah tinggalkan kami Ya Rabb. Amin.

Wallahu’alam.

 

 

 

Bismillah…

Tiga hari mengikuti Training Reguler MHMMD, pulang dari itu merasa menjadi manusia yang membawa segudang hikmah, dan saya yakin, hikmah itu mahal harganya.

Satu hikmah yang bisa ku bagi dalam coretan ini semoga bisa menjadi renungan (muhasabah) buat saya pribadi dan orang lain yang masih senantiasa semangat dalam menempuh hidup.

Ada falsafah hidup dari Bunda Marwah Daud Ibrahim, tentang filosofi suku Bugis yang terkenal dengan Kapal Pinisinya, yaitu “Tiba, Sebelum Berlayar”. Pertama kali mendengar kalimat ini, saya sedikit bingung dengan maksudnya. Filosofi ini pun dianalogikan lagi dengan kalimat yang berbeda tapi dengan substansi yang sama, yaitu “Selesai, Sebelum Memulai”.

Ternyata sahabat, banyak hikmah dari filosofi ini. Yang saya tangkap secara tersirat dari penjelasan bunda Marwah, bahwa filosofi ini dipakai para pelaut kapal Pinisi dulu. Mereka bisa mengarungi samudera di dunia ini karena mereka sudah merencanakannya dengan matang. Impian untuk bisa mengelilingi dunia, dengan kapal layar, bisa tercapai juga. Ya, ternyata memang wajar mereka bisa, karena memang jalur untuk ekspedisi mengelilingi dunia sudah dipetakan dengan baik dan rinci.

Ini akan saya kaitkan dengan yang namanya IMPIAN, kata yang bisa membangkitkan semangat hidup, termasuk untuk kalangan muda.

Saya yakin-seyakinnya, semua dari kita punya mimpi yang tentunya itu menjadi bagian dari keinginan kita. Sedikit atau banyak. Jelas atau abstrak. Untuk waktu dekat atau jangka panjang. Bermacam-macam. Tapi sudahkah kita menulis impian-impian itu? Saya yakin tidak banyak orang yang sudah menuliskannya. Kapasitas memori otak manusia memang unlimited, dan bisa di-upgrade. Tapi sayangnya, proses pengaksesan data dalam otak itu yang kemudian perlu tenaga berpikir untuk melakukannya. Maka, bersyukurlah Islam pun mengajarkan budaya menulis dengan banyaknya para da’i yang kitabnya dituliskan atau dibukukan. Karena memang, ikatlah ilmu itu dengan tulisan.

Nah, bagi yang sudah menulis mimpinya (saya termasuk di dalamnya),  sudahkah mimpi itu dirinci, seperti apa, kapan, dimana, bagaimana, dan dengan siapa? Jika memang kesulitan, maka minimal kita bisa merincikan “Kapan”. Walaupun ini saja sudah cukup sulit. Mengapa “kapan”? karena waktulah yang paling mahal di antara semua. Salah satu nikmat yang sering dilalaikan manusia selain nikmat kesehatan, adalah nikmat waktu luang. Hal inilah yang kemudian mewajibkan kenapa mimpi itu minimal harus bisa dirinci.

Setelah tahu maunya kita kapan mimpi itu terwujud, mimpi yang paling utama atau paling prioritas atau paling kita inginkan sudah sepatutnya untuk kita rincikan. Tarik alurnya ke belakang, dan rincikan alur-alur untuk menempuh mimpi itu hingga bisa tercapai.

Banyak orang disekitar kita yang berhasil karena dengan kekuatan mimpinya. Tapi coretan ini akan berbicara tentang kondisi masa muda sekarang terkait mimpinya.

Mahasiswa menjadi peran dalam masyarakat Indonesia yang jumlahnya seingat saya hanya sekitar 2% dari jumlah seluruh penduduk di Indonesia. Lantas, berapa sarjana yang menganggur? Di pelatihan MHMMD kemarin saya lupa mencatat berapa banyak untuk datanya, tapi saya yakin, yang kita rasakan di lingkungan sekitar kita pasti kita bisa menjawab “banyak” dari pertanyaan ini. Sampai ada bahan guyonnya, “Semakin sering acara wisuda, semakin bertambah banyak lagi Sarjana yang nganggur”. Hiks hiks hiks, sedihnya, saya berniat dari sekarang nih, walaupun belum wisuda, saya tidak boleh jadi sarjana pengangguran J

Nah, terkait dengan mimpi dan mahasiswa ini, korelasinya adalah berapa banyak mahasiswa yang sudah bermimpi menjadi “orang yang bekerja dan bisa menghasilkan duit sendiri”? Katanya sih ini impian standarnya semua mahasiswa, tapi sudahkah mahasiswa tersebut mendefinisikan kerja bagaimana yang dia akan lakukan nantinya? Di sinilah hadir kekuatan mimpi itu, bahwa cita-cita yang merupakan bagian dari mimpi kita, akan mampu menggerakkan diri kita tatkala cita-cita tersebut bisa kita definisikan hingga kita paham apa yang harus kita lakukan, tidak berpendapat seperti ini “Ya..seadanya sajalah, saya juga tidak bisa melakukan banyak hal”.

Mustahil, susah, tidak bisa, bla bla bla..mungkin orang akan berpendapat seperti itu, tapi apakah kita sudah mencobanya? Mencoba untuk mendefinisikan mimpi kita, minimal satu mimpi yang paling kita inginkan.

Belajar dari pengalaman bunda Marwah, beliau bisa menyelesaikan program doktor di Amerika dengan baik dan menjadi lulusan kedua tercepat seangkatannya, padahal ada dari berbagai negara yang menjadi teman seangkatan beliau, India, Israel, dan lain-lain. Ternyata, saat di tengah tahun pertama bunda sudah menyusun peta navigasi apa yang harus bunda kerjakan selama kuliah S3 ini, setelah sebelumnya bunda sempat dikhawatirkan tidak bisa fokus kuliah dikarenakan kondisinya saat itu yang sedang mengandung anak pertama. Karena tekad bulat, bunda berjanji dan berusaha untuk bisa.

Ya, layaknya seorang pilot, bunda menyusun arah kerja untuk kuliahnya dari waktu ke waktu hingga tahun lulus. Kapan ujian semester, kapan kerjakan jurnal, kapan baca buku, kapan konsultasi ke dosen, kapan mulai menyusun disertasi, dan kapan harus lulus itu semua sudah dipetakan oleh bunda pada saat itu. Hal inilah yang membuat bunda tidak khawatir walaupun ditengah kondisi hamil pertama, bunda tetap bisa menjalankan kuliahnya dengan baik. Subhanallah, dan rencana dalam peta itu pun berjalan sesuai dengan rencana. Yang luar biasanya lagi, di semester akhir, bunda menempuh dengan kondisi hamil anak kedua.

Tidak ada bedanya kan dengan kapal Pinisi tadi. Kebutuhan akan jarak jauh untuk berlayar dan daerah mana saja yang harus dilewati, membuat kapal Pinisi pun dibuat dari bahan dan alat yang luar biasa di zamannya. Hampir semua terbuat dari kayu tapi memiliki kekuatan yang luar biasa dan sanggup bertahun-tahun untuk mengarungi Samudera.

Tiba sebelum berlayar, selesai sebelum memulai. Filosofi ini ingin saya ingatkan buat diri saya dan sahabat semua. Memperbaiki apa-apa yang sudah kita lewati dengan mempelajarinya lalu melengkapinya, kemudian merencanakan dengan matang apa yang akan kita lakukan di masa depan. Buatlah peta navigasi yang baik dari sekarang, karena mimpi butuh peta navigasi untuk mengarahkannya agar sampai dengan selamat di tujuan.

Janganlah men-judge diri untuk hidup seperti air mengalir saja. Padahal sejatinya air pun punya tujuan, punya mimpi, punya muara, yaitu dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah, yang kita kenal dengan sebutan laut. Apakah air mengalir seperti ini yang dimaksud?

Hmmm, sederhana sekali filosofi ini apalagi dibalut coretan kecil dari saya ini, tapi semoga coretan ini bisa memperberat amal saya nantinya di Hari Perhitungan. Semangat saudaraku, semoga semuanya bisa kita jalani dengan khusnul khotimah. Amin ya Rabb J

Hadanallahu wa’iyyakum ajma’in.

 

Malang dengan lantunan adzan dhuhur,

24 Januari 2011 11:48 WIB

 

Mahabbah..

Cinta..Cinta..dan Cinta..

5 huruf yang selalu menghapuskan kesedihan

1 kata yang selalu membangkitkan semangat juang

Cinta..Cinta..dan Cinta..

Tak ada habisnya jika kita berbicara cinta, apalagi bagi engkau yang masih muda

Seakan cinta menjadi magnet yang  kuat dalam hidup ini..

 

Dan hari ini, tepatnya di waktu sore, aku pun mendapatkan ilmu tentang Marotibul Mahabbah atau tingkatan prioritas cinta dari Kajian Senin Sore.

Ya, agar tak asal karena cinta, tak asal melekatkan cinta, maka ad dien asy syummulIslam rahmatan lil ‘alamin tak asal mengajarkan cinta pula kepada umatnya.

 

Apapun segala sesuatu tentang cinta maka Allah menjadi puncak tujuan dari segalanya. Tak ada lagi tawar-menawar, beribadah dan mencintai dengan sepenuh hati, berserah diri, selalu ingin terus mengingat-Nya, dan tak ada lagi keraguan di dalamnya (firman-Nya). Inilah kita yang wajib menghamba pada sang Maha Kuasa, Maha Perkasa lagi Bijaksana.

Maka Allah ghayatuna menjadi harga mati untuk ditegakkan.

 

Setelah memenuhi yang pertama, maka senantiasa persiapkanlah diri untuk mencintai yang kedua, Rasulullah SAW. Sosok teladan, yang seakan-akan tidak ada yang tidak patut diteladani dari diri beliau. Suami yang bijaksana, ayah yang penuh dengan kasih sayang, guru teladan yang terampil, wirausaha yang sukses, pemimpin negara yang adil…sungguh mengagumkan. Maka tak ada kata tidak bagi kita untuk mengekspresikan cinta ini pada beliau. I’tibba rasul, mengikuti sunnahnya, menjalankan apa yang diberikan Allah melalui  ajaran beliau, namun tidak mengkultuskannya layaknya nabi ‘Isa yang dikultuskan oleh Nasrani. Rasulullah sadar bahwa dirinya hanyalah manusia yang nyawanya pun ada dalam genggaman Allah Ta’ala, maka beliaupun menegur saat kaumnya memperlakukannya secara berlebihan, hanya sekedar untuk mengikuti, tidak untuk menghambakan diri.

Maka Sirah rasulullah menjadi bacaan yang tak boleh tertinggalkan.

 

Kemudian ada kaum Muslim yang menjadi tempat ketiga untuk mencintai. Ukhuwah, ukhuwah, dan ukhuwah, adalah bentuk cinta antarkaum Muslim. QS Al Hujurat : 10 menjadi hujjah yang indah juga menjadi pengingat bahwa memang persaudaraan yang dibingkai keimanan itu begitu mempesona. Di kala ada perselisihan, maka yang lainnya wajib untuk mendamaikan. Di kala ada kegembiran, maka yang lainnya wajib untuk ikut bersyukur. Di kala ada kesedihan, maka yang lainnya wajib untuk mendoakan. Di kala ada kesulitan, maka yang lainnya wajib untuk membantu. Subhanallah..kekuatan mana lagi yang paling indah selain persaudaraan antarmuslim ini.

Maka irilah kaum Yahudi dan Nasrani melihat ukhuwah ini, dan tak henti-hentinya niat untuk menghancurkan Islam hanya dengan satu cara, merebut lalu membagi wilayah kekuasaan Islam menjadi kecil-kecil, kemudian mengadu-domba, pecah, dan akhirnya saling bermusuhan.

Astaghfirullah, padahal tanah air muslim itu adalah di mana pada satu jengkal tanah saja dalam satu wilayah masih ada manusia yang menyembah dan mengagungkan Rabbnya, Allah Ta’ala, maka wilayah itulah yang wajib kita perjuangkan. Tak ada lagi yang namanya batas kenegaraan, tak ada lagi yang namanya belenggu kebangsaan, ras ataupun suku. Dan inilah bentuk nasionalisme yang seharusnya untuk seorang muslim.

Maka ucapan salam sesama muslim menjadi bentuk doa pemersatu yang tak boleh terlewatkan.

 

Apakah hanya Muslim?

Hebatnya adalah tidak! Sesama manusia merupakan tujuan bentuk cinta yang keempat. Dan inilah DAKWAH, bentuk kita dengan cara yang lain kepada sesama makhluk yang diciptakan setelah malaikat dan jin, kepada sesama makhluk yang menerima amanah setelah gunung dan seisi bumi pun menolaknya. Inilah DAKWAH, mengajak mereka pada kebenaran, pada illah satu-satunya, Allah Ta’ala. Bahkan jihad fii sabilillah tak terkecuali menjadi bentuk DAKWAH pada sesama manusia saat kemungkaran terjadi, saat kezaliman terlihat, saat ketidak adilan terasakan. Karena kita sesama manusia, maka dakwah menjadi pengingat bahwa siapa sebenarnya manusia itu, yang hina dan tak ada apa-apanya di hadapan Allah ta’ala. DAKWAH-lah mulai dari hal yang kecil, mulai dari yang terdekat, dan mulai dari sekarang.

Maka hidup dalam kerukunan dan toleransi tepat pada tempatnya menjadi ikatan yang tak boleh terputuskan.

 

Dan ternyata, pada makhluk tak bernyawa, yaitu benda, kita pun diajarkan untuk menyalurkan cinta ini. Benda yang dimanfaatkan untuk kebaikan, tidak untuk sia-sia, cukup menjadi ekspresi cinta pada prioritas yang kelima.

Maka memelihara dan berbagi sesuatu benda untuk kebaikan menjadi tindakan nyata mensyukuri apa yang Allah ciptakan.

 

Inilah CINTA wahai saudaraku, dan terlebih ingatlah jika saat CINTA ini tidak pada prioritas yang semestinya, maka QS At Taubah : 24 menjadi peringatan yang terbaik untuk kita.

Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.

Ya, tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya, Maha Indah Allah dengan segala susunan kata-kata-Nya dalam Alquran yang selalu baik dalam menegur makhluk-Nya. Ketetapan Allah menjadi keputusan yang tidak akan terelakkan nantinya. Dan tak ada daya dan upaya bagi kita untuk dapat menghindari-Nya.

 

Khusus teruntuk kawula muda :

Rumus umum : Masa Muda + Waktu Luang = Awal Kemaksiatan

Dua kenikmatan ini mari kita jaga dan manfaatkan sebaik-baiknya untuk menghindar dari hal-hal yang fatal ke depannya. Ayo kita isi waktu-waktu yang ada dengan menjalankan prioritas cinta ini pada tingkatannya. Dan teruslah kita membiasakan diri, untuk mengevaluasi cinta kita yang bersemayam di hati, agar cinta tak salah pada tempatnya. Tak lupa, segeralah mengubah cinta menjadi kata kerja, agar cinta tak menjadi rasa semata, tapi ekspresi nyata yang menggugah selera hidup.

Saudaraku, Siapa yang menjadi cinta tingkatan pertama di hatimu sekarang?

 

 

 

(Jejak bertuan)

Indahnya cinta kawan,

Kau rugi jika tidak merasakan cinta,

Kau sesal jika tidak mendapatkan cinta,

Kau salah jika tidak mengekspresikan cinta

Kau akan segera bersedih hati jika tidak mengamalkan cinta

 

Dan untukmu wahai punggawa dakwah..

Kita akan bertemu dan disatukan pada

Jalan Cinta Para Pejuang

 

 

* Malang yang Sunyi (11 Jan 2011 00:23) *


Pertanyaan yang cukup membuatku tersenyum saat dilontarkan pertanyaan seperti judul di atas saat acara Sarasehan Forkalam (26 Desember 2010), pasca PILAR 2 kemarin. Dalam hati ku berkata, “Wah, sudah alumni ya aku..tak terasa, padahal masih berasa baru PILAR kemarin”, ku akhiri pembicaraan dengan diriku sendiri dengan senyuman untuk adik-adik akhwat generasi penerus FORKALAM yang duduk di depanku. Kutatap satu per satu, “Ya Rabb, inilah mereka pengganti generasi dakwah di MIPA, inilah mereka orang yang siap menyeru kebaikan untuk MIPA Madani”, ucapan ini hanya antara aku dan diriku…

Saat gilirannya akhwat yang menjawab, pasca Al Akh, alumni Forkalam 2003 menceritakan pengalamannya, tibalah giliranku untuk menyampaikan pengalaman2ku dengan FORKALAM. Otak ini bagai search engine, merefleksikan kembali segala memori tentang FORKALAM, “hmm..FORKALAM, FORKALAM, 2007, 2008, 2009…”, sip, search result, akhirnya ketemu juga. Aku pun mulai menceritakan hal-hal mulai dari kenapa aku ingin masuk di FORKALAM, apa-apa yang ku dapat di FORKALAM.

Keinginan untuk masuk rohis itu sudah ada sejak masuk UB, karena memang pernah merasakan indahnya rohis saat masa SMA, walaupun tidak full karena lebih fokus di PMR. Melihat perbedaan yang cukup menarik antara rohis SMA dan Kampus, aku pun semakin tertarik, terlebih pasca melihat dan mendengar presentasi Ketum Forkalam 2007 saat itu yang presentasi di depan Mahasiswa baru Ilmu Komputer 2007. Semangat yang menggelora, penuh ruh, slide yang menarik perhatian, membuatku semakin tak sabar lagi untuk bergabung di FORKALAM.

Rasa simpatiku dengan FORKALAM pun semakin meningkat, saat selembar undangan yang dibalut cover cantik dan penuh kata-kata motivasi yang bermakna, mengajakku untuk ikut bergabung ke FORKALAM, dan menghadiri acara PILAR 1. Undangan itu diberikan saat istirahat acara Kridha Mahasiswa (Krima). Kostum Putih-putih, almamater, penuh kelelahan..

“Teruntuk Saudariku : PUTRI IRVANNA (Ilmu Komputer 2007)”

Begitulah kurang lebih tulisan di cover amplopnya. Sebagai Maba, hatiku cukup senang, bagaikan orang penting, namaku ditulis khusus di amplop yang cantik itu. Dan ku tersenyum, beberapa orang saja yang terpilih untuk diundang dari teman2 ilkom 2007..sempat GeeR juga, he..

Alhamdulillah, ku sempat merasakan Mabit pertama kali dalam acara rangkaian PILAR, bertemu saudara-saudara baru, acara-acara baru, dan refresh ruhiyah yang membuat jiwaku terasa baru… (jadi kangen sama akhwat-akhwat FORKALAM 2004 dan 2005..). Saat itu, ditanya pengen masuk di bagian mana dalam kepengurusan FORKALAM. Dasar Pipit yang orangnya tak tahu basa basi (hehe..), dengan yakin ku menjawab, “Biro Kaderisasi”. Teringat, ada 1 akhwat senior yang cukup kaget dengan keyakinan jawabanku itu. “Oh, kenapa dek milih BK?”, “Hmm, mungkin karena saya dulu SMP ikut OSIS bidang Kepemimpinan mbak, terus saya orangnya suka manajemen, jadi pengen belajar bagaimana manajemen orang lain”, kurang lebih begitulah alasanku…

Kemudian, aku pun mengikuti acara PILAR 1 di Telekung, Gua Jepang. Bermodal semangat, akhirnya aku meraih gelar “Akhwat Terdisiplin”, wah..senangnya, ini prestasi pertamaku di FORKALAM, apalagi ada sertifikatnya..hehe..Resmi menjadi AA (Anggota Aktif) 1.

Pasca PILAR 1, diumumkanlah tak lama, struktur kepengurusan. Horeee…aku masuk BK, hehe..minimal tidak meleset pilihanku. Ah, senangnya. Masih ingat banget, syuro perdana BK, dipimpin oleh Akhina Mahatir dan di akhwat, Ukhti Siwi, aku, Ukhti Eka, Ukhti Wilda, Akh Rijal, dan lainnya (maaf, hanya ini yang teringat), mendengarkan dengan seksama tentang apa sih itu BK, kerjaannya, capaian dan targetnya, bla…bla..bla..Aku juga masih ingat, slide yang ditampilkan saat itu saat syuro, bagus dan sangat menarik. Dan kepanitiaan pertama yang kuikuti adalah menjadi panitia Silaturahim Kader FORKALAM dan menjadi PJ Acara. Saat hari H, aku juga jadi MC, fiuh..walaupun sempat menolak dan grogi, Alhamdulillah berjalan dengan baik. Oh ya, waktu itu tukeran kado dan aku mendapat kado dari Mbak Ika Biologi 2004, kadonya kalo gak salah buku note gitu. (afwan ya mbak kalo salah)..

Sejak itu, aku yang awalnya jadi Maba SO like KuPu2 (Kuliah Pulang Kuliah Pulang), berubah jadi KuRa2 (Kuliah Rapat Kuliah Rapat), eh, tapi belum segitunya kok, cuma istilah saja saat itu, he..

Hanya kurang lebih kalo gak salah 6 bulan di BK, kemudian ada Muktamar Forkalam untuk pergantian pengurus. Ya, pastinya tidak mau kehilangan momen inilah. Seingatku, acara ini diadakan di GS lantai 3, kalo gak salah. Dasar Pipit yang memang bawaannya cerewet dan gak mau kalah, aku pun jadi salah satu peserta yang aktif dalam Muktamar saat itu. Beberapa hal di muktamar sudah pernah ku alami di SMA. Alhasil, ku dapat ilmu baru lagi dari Muktamar.

Alhamdulillah wa inna lillah, saat itu terpilih akhina Edy Purnama sebagai ketum menggantikan akhina Toni Tegar Sahidi. Masih teringat banget prosesi pergantian itu…so sweet, sepertinya tongkat estafet yang akan diserahkan akh Sahid ke akh Edy cukup berat untuk diterima..

Kepemimpinan baru pun ku alami di FORKALAM, so, amanah baru pun juga ku terima. Gak lagi di BK memang, tapi di Departemen Sains, departemen yang baru berdiri menggantikan LSO ISC (Islamic Student Club, kalo gak salah ini singkatannya). Cukup senang menjadi angkatan pertama dalam Sains, tapi cukup sulit karena refernsi dakwahnya masih kurang. Referensi dari ISC belum mencukupi sepenuhnya, karena departemen dituntut lebih banyak kerjaannya dari pada LSO. Masih ingat pula bagaimana syuro perdana di Departemen Sains yang dipimpin akhina Mirza, dan di akhwatnya, Ukhti Yenny, aku, ukhti Nisa, , dan akh Shobirin, akh Aziz, dll (maaf cuma ini yang aku ingat namanya) juga mendengar dengan seksama bagaimana kerja2 Sains, berdiskusi dan memberikan masukan2 buat sains ke depan. Akhirnya, berdirilah MSC pertama yang dikhususkan buat Maba 2008 dan aku menjadi panitianya. Selain itu, juga ada Sains award buat kader yang IPKnya tertinggi dan biasanya diprioritaskan buat kader2 baru. Oya, ngomong2 Sains Award, inilah prestasi keduaku. Alhamdulillah, aku menjadi penerima Sains Award dengan IPK saat itu semester 2 sebesar 3,64 untuk di akhwatnya. Di ikhwannya aku lupa siapa. Senangnya bisa menerima hadiah buku “Berani Karena Goblok” yang masih tersimpan rapi sampai sekarang di jejeran koleksi bukuku. Saat itu yang menyerahkan adalah ukhti Fitri, peraih ISC Award sebelumnya. Hehe, sama2 dari Ilkom, senangnya…Tidak hanya itu, aku merasa sangat senang di Sains, karena banyak dapat hal baru. Saat Idul Fitri, diberi kartu ucapan selamat dan 1 Disc berisi artikel-artikel Islam ditinjau dari Sains dll. Saat mau perpisahan dari Sains pun, kami diberi buku Doa dan Wirid Hisnul Muslim (maaf kemarin di acara aku salah menyebutkan). Senangnya…

Masuk ke kenangan mengikuti PILAR 2. Untuk angkatanku, PILAR 2 diadakan di Masjid Abu Bakar Dieng. Hanya semalam dan tidak ada outbond, hanya ada riyadhoh. Tapi sekali lagi, itu sangat berkesan buatku. Materi demi materi aku dan teman2 terima, diskusi, sharing, dan sebagainya. Dan satu yang paling berkesan yaitu saat pengikraran sumpah sebagai AA (Anggota Aktif) 2. Dasar Pipit orangnya melankolis, aku pun tak bisa menahan air mata saat itu, Subhanallah, Allah mempercayaiku dan teman-teman untuk mengemban amanah sebagai AA2 Forkalam.

Setelah menjadi AA2, tak lama kemudian ternyata amanahku harus berpindah ke medan dakwah yang lain, di ranah yang lain, namun tetap satu tujuan. Aku pun harus melepas status pengurus dari FORKALAM, walaupun baju keanggotaan ini masih ku gunakan, karena “Selama saya MUSLIM, saya adalah ANGGOTA FORKALAM”.

Amanah baru di tempat yang baru semakin membuatku rindu akan persaudaraan di FORKALAM dulu..aku memang tak pernah jadi PH, hanya jadi staf. Tapi saat aku menjadi staf, “Bapak Ibu”-ku (Kadept/Kabir dan Sekdept/Sekbir) sangat memperhatikan kami (aku dan teman2 sedivisi), sehingga aku pun hampir tak pernah merasa ada hakku yang tak terpenuhi. Mereka begitu mengerti aku…dan sangat ku syukuri itu.

Beramanah di tempat yang baru berarti membawa sebuah harapan baru. Dengan identitas FORKALAM yang masih melekat pada diri ini, aku harus menampilkan segala sesuatu yang terbaik, karena “Mereka” di luar sana dan ditempat amanahku yang baru, akan menilai FORKALAM juga dari sikapku pada mereka, kinerjaku, semangatku, akhlakku, dll. Sehingga aku memohon ampun pada Allah jika aku pernah melakukan hal-hal yang membuat penilaian orang kepada FORKALAM buruk dan kurang sreg di hati mereka..

Semoga catatan singkat ini bisa berarti buatku, buatmu, buat kita, dan buat mereka..

Agar mereka bisa merasakan indahnya Islam ini..

Forkalam ada untuk MIPA, untuk Brawijaya, dan untuk Indonesia…

Best regards,

Putri “Pipit” Irvanna

(Malang yang sunyi, 27 desember 2010 01:48)

Bagi yang mau membaca undangannya, aku punya softcopynya, dulu copy dari sekret FORKALAM, semoga bisa menginspirasi..

http://www.ziddu.com/download/13139048/UndanganPilar.doc.html

Assalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh…
Mama, jika aku ditanya, siapa orang yang terbaik dalam hidupmu, tentu saja aku menjawab engkau, dan ku yakin tak ada yang menafikkan jawabanku ini. Namun, jika ditanya, hadiah apa yang terbaik untuk ibumu, aku pun akan memberikan ayat-ayat cinta Allah Tabaraka wa Ta’ala yang terhimpun dalam Al Qur’anul Kariim, dan itu pilihan terbaikku Mama…
Tahukah Ma, apa alasan aku memilih hadiah ini? Memang firman Allah selalu menginspirasiku…Mama, Allah Mengingatkan kita dalam Surah At Tahrim ayat 6 bahwa :
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
Luar biasa Ma, begitu berharganya keluarga bagi setiap mukmin, sampai diberi tugas seperti ini oleh Allah, dan Pipit pun akan mencoba untuk menjalankan amanah ini Ma. Inilah alasan pertama akan hadiah ini…
Ada lagi nih Ma…
Rasulullah SAW bersabda, “Bila seorang anak Adam wafat, maka amalnya terputus kecuali tiga hal:
[1] Shadaqah jariah,[2] Ilmu yang bermanfaat dan [3] Anak shalih yang mendoakan kepada orang tuanya.” (HR. Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Nasa’i dan Ahmad)
Masa muda ini akan Pipit isi dengan hal-hal yang bermanfaat untuk semua, tak terkecuali untuk Mama, dan Pipit akan berjanji pada diri sendiri untuk senantiasa menjadi anak yang sholeh, lalu terus memanjatkan doa untuk Mama dan keluarga kita, minimal di setiap akhir sholat. Pipit pun yakin, doa juga tak pernah terputus dari lisan Mama untuk Pipit.
Luar biasa lagi Ma, begitu dahsyatnya kekuatan doa itu, apalagi dari kesholehan sang anak untuk orang tuanya, Pipit harus bisa jadi anak yang sholeh!!! Inilah alasan kedua akan hadiah ini…
Dan yang terakhir ini…akan menjadi alasan terkuat Pipit mengapa memberikan hadiah ini pada Mama…
Al Hakim meriwayatkan, dia berkata “Rosulullah bersabda “Barangsiapa membaca Al Qur’an dan mempelajarinya serta mengamalkannya maka pada hari kiamat nanti Allah akan memakaikan kedua orang tuanya mahkota yang cahaya seperti cahaya matahari. Dan Allah juga akan memakaikan perhiasan yang belum pernah ada di dunia. Lantas kedua orang tuanya bertanya, ”sebab apakah kami mendapatkan ini semua?” Maka dijawab” karena kamu telah mengajarkan Al Qur’an kepada anakmu”.
Ya, mahkota itu, menjadi impian Pipit, kelak di surga, Allah Tabaraka wa Ta’ala memberikan mahkota ini pada Mama dan Papa. Dan tekad Pipit harus bisa menjadi orang yang membaca, mempelajari, dan mengamalkan ajaran Rasulullah SAW dan petunjuk Allah dalam Al Qur’an.
Maka dari itu…
Hadiah Al Qur’an ini menjadi jawaban mimpi kita bersama Ma, untuk menyatukan cita-cita hidup kita, masuk dalam jannah Allah Tabaraka wa Ta’ala.
Pipit ingin sekali, mengajarkan pada Mama huruf demi huruf, kata demi kata, ayat demi ayat, mulai dari makhorijul huruf, tajwid, dan dilengkapi dengan tafsir. Proses pembelajaran ini Pipit sedang tempuh Ma. Berharap doa darimu, agar Pipit bisa istiqomah dalam belajar lalu bisa berbagi ilmu dengan semuanya, terutama pada bundaku tercinta, Mama..
Semoga Al Qur’an per kata beserta terjemahan dan tafsir singkatnya ini bisa menjadi bekal Mama untuk belajar Al Qur’an, dan Mama pun bisa mengajarkannya untuk orang-orang sekitar Mama, tak terkecuali Pipit…

Kau ajarkan kami kesantunan,
Kau didik kami dengan keteladanan,
Kau peringatkan kami dengan kesabaran,
Dan Kau besarkan kami dengan penuh kecintaan..
Al Qur’an ini menjadi hadiah untukmu,
Agar kami bisa santun, menjadi teladan, bersifat sabar, dan menebarkan cinta pada sesama
Sama seperti yang kau ajarkan pada kami, Mama…
SELAMAT HARI IBU 

Malang yang sunyi, 13 Desember 2010, 00:37
Putri “PIPIT” Irvanna

(Catatan hati yang lama tapi baru diposting, tak berarti usang kan?!)

Mungkin ini adalah pertanyaan yang pernah terlintas di hati kita, dulu ataupun sekarang. Banyak orang yang bertanya pada dirinya sendiri dengan pertanyaan ini, sebab hampir semua orang berpikir bahwa menjadi seorang MR haruslah perfect, banyak hal yang dia ketahui, cerdas, pandai memanajemen waktu, komunikatif, dll. Ya, kurang lebih saya sepakat dengan ini, tapi semua itu ada tahapan pembelajarannya. Tidak mungkin setiap MR memperoleh kemampuan itu semua dalam waktu yang singkat dan itu pula yang saya rasakan. Hanya dengan modal semangat belajar, para da’i pasti akan bersungguh-sungguh dalam menaikkan kapasitas dirinya, sekali lagi, untuk tujuan pengembangan potensi berdakwah.

Biasanya, di kampus, da’i memulai pembelajarannya menjadi seorang Mentor. Belajar membina generasi penerusnya. Sedihnya, masih banyak da’i yang tidak mau ataupun tidak berani menjadi Mentor, hanya dengan alasan belum siap, belum mampu, dll. Saya juga pernah beralasan seperti itu ketika di awal-awal saya menolak jadi Mentor, tetapi Alhamdulillah, Allah memberikan petunjuk kepada saya melalui nasehat seorang akhwat. Beliau berkata bahwa siapa lagi yang akan membina generasi penerus ini kalau bukan kita. Apakah kita rela melihat teman-teman seperjuangan kita membina dengan peluh keringat, namun kita hanya santai-santai saja, hanya sibuk memikirkan kapasitas diri sendiri?

Alhasil, pikiran ini pun terbuka, dan Alhamdulillah saya bisa menjadi Mentor di tahun kedua, tanpa ditemani seorang Astor(Asisten Mentor). Pada awalnya, Mentoring belum berjalan kondusif, ya kadang Mentee konfirmasi, kadang juga dicuekin. Saya pun melalui masa-masa ini dengan sabar, walaupun tak jarang juga jumud dan ingin mengundurkan diri saja untuk jadi Mentor.

Satu semester telah berjalan, Alhamdulillah, mereka, para mentee, mau melanjutkan Mentoring di semester berikutnya. Perjalanan yang cukup melelahkan juga dirasakan di semester yang kedua. Tapi itu tak menyurutkan langkahku. Saya semakin mengerti kenapa saya membutuhkan (bukan dibutuhkan) menjadi seorang Mentor. Karena dengan belajar jadi Mentor, kemauan saya untuk menuntut ilmu semakin tinggi. Jika setan sedang menggoda saya untuk malas bermajelis ilmu dan malas untuk menjalankan amanah-amanah, sisi hati yang baik selalu mengatakan, “Pit, kamu sudah jadi Mentor, tidak boleh seperti itu”. Akhirnya malas pun hilang, tapi juga beberapa kali tetap malas juga, hehe.

Tak terasa 1 tahun Mentoring itu sudah berjalan. Saya sudah masuk di tahun ketiga, dan para Mentee masuk di tahun kedua. Apakah Mentoring itu berhenti? Alhamdulillah, hati saya gelisah karena belum juga menjadi MR dan belum juga membina sebuah halaqoh, padahal sudah masuk di tahun ketiga kuliah (bisa dibilang sudah tua lah). Apakah saya hanya menunggu diberikan forum binaan? Tidak, saya harus mandiri, tidak boleh mengharap untuk diberi, tapi harus mencari, mana objek dakwah yang harus dibina. Akhirnya saya memutuskan untuk mencoba menawari adik-adik Mentee (walaupun ada Mentee yang lebih tua umurnya dari saya, hehe) untuk melanjutkan lagi Mentoring ini menjadi forum Halaqoh.

4 orang masih bertahan. Ah, masih kurang ternyata untuk forum selevel halaqoh, pikirku. Akhirnya ku mencari dan Alhamdulillah mendapat 3 orang baru. 3 orang ini memang sudah pernah ikut mentoring juga. 2 memang masih lanjut, dan satunya tidak. Yang 2 orang saya minta ijin ke Mentornya untuk gabung di Halaqoh saya, karena amanah 2 orang ini dekat dengan amanah saya dan 1 orangnya lagi saya ajak untuk lanjut ke Halaqoh walaupun dia berasal dari Mentoring yang tidak dengan saya sebelumnya. 7 orang, Alhamdulillah, lumayan.

Perjuangan belum berakhir, di tengah perjalanan. 2 orang ternyata tidak aktif, susah sekali untuk diajak halaqoh, alasannya sibuk, tugas, ini itu, dll. Ya, hanya bisa sabar saja. Tapi lama kelamaan saya jadi berpikir bahwa Halaqoh ini menjadi tidak sehat. Akhirnya ku memutuskan untuk melepas 2 orang ini. Yah…tinggal 5 nih, gak apa-apalah, yang penting bisa berjalan dengan sehat.

Waktu demi waktu, tak terasa lagi, sudah 1 semester berjalan Halaqoh ini. Namun, Allah membukakan jalan untukku. Satu orang yang sebenarnya dekat denganku, namun tidak terlalu kuperhatikan, ternyata dia mau untuk diajak Halaqoh. Wuih, senangnya, bertambah 1 mad’u lagi, walaupun sebenarnya itu menambah beban tanggung jawab saya untuk semakin meningkatkan kapasitas menjadi MR.

Enam orang menjadi jumlah yang tak banyak, namun juga tak sedikit. Tetapi, saya selalu bersyukur masih memiliki binaan, sehingga ilmu-ilmu yang saya dapatkan tidak saya tampung sendiri. Berat ukhti, akhi, jika ilmu-ilmu ini ditampung sendiri, karena yakinlah, kita tidak bisa mengaplikasikannya semua dalam satu waktu. Oleh karena itu, kewajiban kita terlebih dahulu adalah mentransfer ilmu itu kepada binaan kita, sehingga mereka juga bisa mengaplikasikan ilmu.

Ya…semoga halaqoh ini bisa istiqomah dan semoga Allah selalu menunjukkan jalan menempuh ilmu untuk saya, tidak hanya itu, perjuangan memang tidak akan pernah berakhir, halaqoh ini harus mempunyai halaqoh lagi, dan saya juga harus membentuk halaqoh-halaqoh baru di generasi berikut-berikutnya. Akankah waktu kurang lebih 1 tahun ini bisa menjawab perjuangan ini? Ya Rabb, semoga…

Cerita ini hanyalah untuk memotivasi saudara-saudariku agar tetap semangat membina. Bagi kamu yang baru menjadi Mentor, SEMANGAT! Jalan yang kau ambil ini insya Allah sudah benar. Bagi kamu yang sudah jadi Mentor, ayo, kapan jadi Murabbi? Apalagi buat kamu yang sudah di tahun-tahun terakhir, kesempatanmu semakin sempit untuk membina. Segeralah cari objek-objek dakwah. Yakinlah mereka haus akan kasih sayang Islam, haus akan ilmu-ilmu Allah. Membina satu ataupun dua, tidak masalah, yang penting istiqomah dan konsisten. Insya Allah, Allah akan membukakan jalan untukmu untuk bisa menambah mad’u lagi.

Yang perlu kita ingat, akhi, ukhti, membina di kampus dan membina di pasca kampus atau di lingkungan masyarakat sangat jauh berbeda. Kata seorang akhwat, mudah sekali membina di kampus, lingkupnya kecil, orang yang bertemu dengan kita pun itu-itu saja. Namun, kalau di masyarakat? Saya yakin sudah bisa dijawab sendiri-sendiri.

So, SEMANGAT akhi, ukhti..jangan tunggu diberi, tapi kita harus mencari…kesalehan pribadi ini harus segera menjadi kesalehan sosial…!!!

26 Ramadhan 1431 H

(Sepi, sudah pada mudik nih…)

Tulisan ini berawal dari diskusi singkat bersama seorang akhwat menjelang buka puasa. Saya memulai diskusi dengan mengomentari bahwa tidak hanya orang Islam, orang non Islam, agama, aliran, atau kepercayaan apapun itu, juga dapat merasakan yang namanya rezeki dari Allah berupa kenikmatan-kenikmatan, entah itu berupa kekayaan, kepintaran, kebaikan, dan lain-lain. Padahal di satu sisi mereka tidak menyembah Allah, bahkan mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang tidak layak. Mengapa Allah itu sangat baik sekali dengan ciptaan-ciptaanNya?

Akhwat itu pun dengan bijak menjawab (dengan editan susunan kata-kata dari saya), “Bismillahirrahmaanirrahiim”, terdiri dari Ar Rahman dan Ar Rahim. Ar Rahman berarti Mengasihi atau Memberi, sedangkan Ar Rahim berarti Menyayangi. Allah dengan sifat Ar Rahman Memberikan atau Mengasihi kepada seluruh ciptaanNya baik di langit, di bumi, maupun di antara keduanya, tanpa terkecuali, berupa nikmat yang tidak dapat seorangpun menghitungnya. Sedangkan Allah dengan sifat Ar Rahiim atau Menyayangi hanya khusus diberikan kepada umat Muslim, umat terakhir dan umat dengan agama yang paling diridhai (Alhamdulillah).

Analoginya, jika kita memberi atau mengasihi sesuatu kepada seseorang, maka belum tentu kita menyayanginya, namun jika kita menyayangi sesuatu maka sudah pasti kita akan bersedia memberi atau mengasihi yang kita miliki. Begitupula Allah Ar Rahman dan Ar Rahiim yang dalam firman-Nya :

QS Ali Imran :110. Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.

Ingat, dari ayat ini, dinyatakan bahwa predikat UMAT YANG TERBAIK itu diperoleh dengan syarat “menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah”

Semoga kita bisa menjadi bagian dari orang-orang yang mendapat predikat umat terbaik tersebut. Amin.

Akhlak Kita terhadap Alquran

Posted: September 12, 2010 in Dakwah dalam Hidupku

(Catatan dari Dauroh Quran @Masjid Abu Bakar, 21 Ramadhan 1431 H)

Oleh : Ust. Joko

Rasulullah SAW di utus oleh Allah untuk menyempurnakan akhlak. Begitulah hadits Rasul yang disampaikan. Akhlak tidak hanya diberikan kepada sesama makhluk hidup, tetapi juga kepada Alquran, Al kitabul Kariim.

Bagaimana akhlak kita kepada Alquran? Qur’an secara bahasa berarti bacaan. Oleh karena itu, salah satu bentuk akhlak kita padanya adalah bagaimana kita bisa membaca Alquran dengan beberapa adab agar ketika tilawah atau membaca Alquran dapat memberi bekas pada kita. Lima belas adab tersebut yaitu :

1. Memilih waktu di mana Allah bertajalli (berinteraksi betul dengan hamba-hambaNya), terutama di waktu-waktu yang lebih berkah, seperti 1/3 malam terakhir, di waktu sahur/malam hari, waktu fajar/ba’da, dan senggang di siang hari. Di waktu-waktu itu, user sedang tidak banyak sehingga signal untuk “berkomunikasi” dengan Allah lebih jernih di waktu itu.

2. Memilih tempat yang sesuai, misal : masjid, ruangan yang kosong dengan gangguan, boleh juga menambah dengan wewangian atau aroma terapi. Hadits riwayat Tirmidzi menyatakan bahwa orang yang tilawah/baca Qur’an di tempat yang terang (terbuka), hampir sama seperti orang yang berterang-terangan dalam bersedekah. Hal ini perlu dicatat atau diperhatikan, namun memang ada kalanya kita memberikan contoh kepada orang lain mengenai tilawah.

3. Posisi tilawah memberikan keadaan kepasrahan atau ketundukkan di hadapan Allah Ta’ala karena yang kita baca adalah kalam Allah, seperti kita sedang berkomunikasi dengan Allah

4. Disunahkan dalam keadaan suci secara fisik. Suci dari jinabat, haid, nifas. Dan disunahkan dalam keadaan wudhu meskipun ada ijma’ yang membolehkan, karena untuk mempelajari atau menuntut ilmu.

5. Mensucikan semua indera yang dimiliki, mulai dari mata, telinga, dan seterusnya.

6. Menghadirkan niat yang ikhlas karena Allah dan mengharapkan pahalaNya

7. Berharaplah naungan dan pertolongan Allah (khauf wa raja’) harus dengan seimbang. Harap harap cemas. Ada perasaan seperti kapal kita akan tenggelam. Dengan seperti itu, kita memiliki motivasi dan keyakinan untuk menjalani proses kehidupan, misalnya jika kita belajar kita yakin akan jadi pintar, jika kita bekerja kita yakin akan jadi kaya dan itu semua tak terlepas dari kehendak Allah Ta’ala

8. Membaca isti’adzah (a’udzu billahiminasysyaithan nirrajiim) dan basmalah

9. Konsentrasi, mengosongkan dari hal-hal yang mengganggu! Jika kita membaca, akan mendapat nilai-nilai tadabbur

10. Membatasi pikiran atau fokus hanya dengan bacaan Alquran

11. Hadirkan Alquran dalam kekhusyukan

12. Rasakan keagungan Allah dan mengagungkanNya

13. Memperhatikan ayat-ayat untuk ditadabburi

14. Hadirkan perasaan dan emosi sesuai dengan ayat-ayat yang dibaca. Misalnya, ayat yang membicarakan tentang surga, maka emosi/perasaan kita adalah senang, sebaliknya jika membicarakan tentang neraka, maka emosi itu akan sedih dan khawatir apakah nantinya akan masuk surga ataupun neraka.

15. Rasakan bahwa kita sedang diajak dialog dengan Allah Ta’ala

Semoga kita bisa mengaplikasikan adab-adab ini dalam kehidupan sehari-hari saat berinteraksi dengan Alquran. Amin.